AI di Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 06:00 WIB
AI di Indonesia
[ILUSTRASI. TAJUK - Djumyati Partawidjaja (KONTAN/Indra Surya)]
Djumyati Partwidjaja | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Belakangan ini, pasar modal kita kembali marak dengan tren baru. Bukan lagi dari emiten komoditi dan produk konsumer, tapi emiten yang membangun pusat data. Pasalnya emiten-emiten ini dianggap sebagai proxy perusahaan artificial intelligence (AI) yang melantai di Bursa Efek Indonesia..

Seperti kita tahu, beberapa tahun terakhir ini pasar saham dunia sedang tergila-gila dengan AI. Setelah ketinggalan sekian lama, akhirnya di Indonesia mulai masuk investasi berkaitan dengan AI dalam bentuk pembuatan pusat data. Proyeksi nilai pasar pusat data yang akan melesat mencapai US$ 6,09 miliar hingga melampaui US$ 8,4 miliar pada dekade 2030-an, modal raksasa mengalir deras ke kawasan Cikarang hingga Batam.

Para raksasa teknologi berbondong-bondong masuk, tergiur oleh biaya konstruksi yang lebih efisien ketimbang Singapura. Ditambah, letak geopolitik Indonesia sebagai persimpangan utama kabel bawah laut baru yang menghindari ketegangan Laut Cina Selatan.

Namun, di balik euforia investasi triliunan rupiah ini, terdapat bom waktu ekologis dan struktural. Pusat data AI bukanlah "awan" yang tak kasat mata, ia adalah infrastruktur termodinamika rakus energi. Rak-rak server AI modern menarik listrik puluhan kilowatt dan menuntut teknologi pendingin cair (liquid cooling) karena sirkulasi udara tak lagi sanggup mengusir panas.

Di iklim tropis kita, mendinginkan fasilitas semacam ini berisiko memicu krisis air bersih lokal jika operator tidak dipaksa mengadopsi teknologi sirkulasi tertutup dengan pemantauan Water Usage Effectiveness (WUE) yang ketat.

Kemegahan infrastruktur milik asing ini juga menjadi paradoks dengan realitas tata kelola domestik. Defisit jutaan talenta teknis AI membuat kita rentan hanya menjadi pekerja kasar dan konsumen akhir. Tragedi peretasan Pusat Data Nasional (PDNS), minimnya prosedur pencadangan data, menjadi bukti telanjang betapa primitifnya benteng keamanan siber institusi kita.

Pemerintah tidak boleh terbuai oleh masuknya angka investasi semata. Membiarkan modal masuk tanpa pemaksaan transfer teknologi, audit keamanan siber, dan batas tegas eksploitasi air serta listrik akan menjadikan kita sekadar "tuan tanah" yang menyewakan lahan.

Kedaulatan digital sejati adalah kemampuan mengendalikan teknologi itu demi kesejahteraan rakyat, bukan sekadar menampung limbah panas dan jejak karbon dari kecerdasan buatan asing.                 

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Gaji Manajer Koperasi Desa Jadi Beban Baru APBN
| Sabtu, 12 September 2026 | 09:18 WIB

Gaji Manajer Koperasi Desa Jadi Beban Baru APBN

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah memastikan bahwa APBN akan menanggung gaji manajer KDMP selama dua tahun ke depan

Pertumbuhan AI di Indonesia
| Sabtu, 12 September 2026 | 09:10 WIB

Pertumbuhan AI di Indonesia

Belakangan ini, pasar modal kita kembali marak dengan tren baru. Bukan lagi dari emiten komoditi dan produk konsumer, tapi data center.

OneMed (OMED) Bidik Pertumbuhan Dua Digit
| Sabtu, 12 September 2026 | 09:02 WIB

OneMed (OMED) Bidik Pertumbuhan Dua Digit

PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) atau OneMed memproyeksikan laju penjualan di semester dua bisa lebih kuat ketimbang paruh pertama.

Tomi Taufan, Direktur Mirae Sekuritas yang Disiplin Mengelola Risiko Investasi
| Sabtu, 12 September 2026 | 08:00 WIB

Tomi Taufan, Direktur Mirae Sekuritas yang Disiplin Mengelola Risiko Investasi

Keberhasilan mencapai target finansial lebih banyak ditentukan oleh kedisiplinan dalam mengelola alokasi aset

Peluang Indonesia Keluar dari Jebakan Middle Income Trap Masih Jauh
| Sabtu, 12 September 2026 | 07:44 WIB

Peluang Indonesia Keluar dari Jebakan Middle Income Trap Masih Jauh

Dari kajian ADBI, probabilitas Indonesia keluar dari middle income trap di bawah ambang batas​      

Harga Minyak Panas, Fiskal Cemas
| Sabtu, 12 September 2026 | 07:34 WIB

Harga Minyak Panas, Fiskal Cemas

Harga minyak Brent sempat hampir menyentuh level US$ 110 per barel pada Jumat (11/9)                

Kinerja Apik PT Timah (TINS) Incar Target Baru
| Sabtu, 12 September 2026 | 07:23 WIB

Kinerja Apik PT Timah (TINS) Incar Target Baru

Per Juni 2026, pendapatan TINS sudah mencapai Rp 10,4 triliun, tumbuh 147% secara tahunan. Laba bersih bahkan melesat 805% menjadi Rp 2,7 triliun.

Mengisi Ulang Energi dengan Jalan-Jalan dan Menunggang Kuda Besi
| Sabtu, 12 September 2026 | 06:56 WIB

Mengisi Ulang Energi dengan Jalan-Jalan dan Menunggang Kuda Besi

Tomi mengaku gemar melakukan perjalanan sendiri. Baginya, motor bukan sekadar alat transportasi, melainkan ruang untuk menemukan inspirasi.​

Rupiah Pekan Ini Masih Mendapat Bantalan dari Domestik
| Sabtu, 12 September 2026 | 06:30 WIB

Rupiah Pekan Ini Masih Mendapat Bantalan dari Domestik

Sepekan ini pergerakan rupiah tertekan oleh penilaian ulang pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve 

Upaya Nusa Konstruksi Enjiniring Genjot Bisnis Lewat Diversifikasi Proyek
| Sabtu, 12 September 2026 | 06:30 WIB

Upaya Nusa Konstruksi Enjiniring Genjot Bisnis Lewat Diversifikasi Proyek

PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk (DGIK) mengerjakan konstruksi sektor pertambangan, energi hingga pusat data 

INDEKS BERITA

Terpopuler