Akibat Keluar dari Rusia, Penurunan Nilai Aset Shell Naik hingga US$ 5 Miliar

Kamis, 07 April 2022 | 15:57 WIB
Akibat Keluar dari Rusia, Penurunan Nilai Aset Shell Naik hingga US$ 5 Miliar
[ILUSTRASI. FILE PHOTO: Logo Shell tercermin dari kaca spion mobil di London, Inggris, 29 Januari 2015. REUTERS/Toby Melville/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID -  LONDON. Shell menyatakan penurunan nilai aset hingga US$ 5 miliar terkait dengan keputusannya untuk keluar dari Rusia. Nilai kerugian itu lebih besar dibandingkan angka yang diungkapkan sebelumnya. Di sisi lain, perusahaan menyatakan kenaikan harga minyak dan gas mendorong aktivitas perdagangan selama kuartal pertama.

Penurunan nilai aset setelah pajak yang berkisar US$ 4 miliar hingga US$ 5 miliar pada kuartal pertama tidak akan memengaruhi pendapatan perusahaan, demikian pernyataan Shell dalam update menjelang pengumuman pendapatannya pada 5 Mei.

Perusahaan yang memiliki nilai kapitalisasi pasar sekitar US$ 210 miliar, sebelumnya menyatakan bahwa writedown aset di Rusia bernilai sekitar US$ 3,4 miliar. Peningkatan kerugian disebabkan oleh berbagai biaya yang mungkin muncul seputar perubahan kontrak, penghapusan piutang, serta kerugian kredit di Rusia, kata juru bicara Shell.

Saham Shell turun 1,2% pada awal perdagangan Kamis di London.

Baca Juga: Moskow Ancam Negara-Negara yang Dukung Penangguhan Rusia dari Dewan HAM PBB

Awal tahun 2022 menjadi salah satu periode yang paling bergejolak selama beberapa dekade terakhir untuk industri minyak dan gas. Perusahaan-perusahaan Barat, termasuk Shell, dengan cepat menarik diri dari Rusia, memutuskan hubungan perdagangan dan menghentikan usaha patungan setelah Moskow menginvasi Ukraina.

Shell mengatakan akan keluar dari semua operasinya di Rusia, termasuk pabrik gas alam cair utama di semenanjung Sakhalin di sisi timur negara itu.

Shell tidak memberikan panduan apa pun tentang masa depan taruhannya dalam proyek-proyek Rusia.

Harga minyak acuan melonjak ke rata-rata lebih dari US$ 100 per barel pada kuartal tersebut, tertinggi sejak 2014. Sementara harga gas Eropa mencapai rekor tertingginya.

Baca Juga: Krisis Ukraina dan Infeksi Baru Covid Suramkan Proyeksi Pertumbuhan Asia Pasifik

Volatilitas harga komoditas yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa bulan terakhir menyebabkan tekanan likuiditas bagi banyak trader. Mereka harus meningkatkan uang muka secara tajam untuk mendapatkan kargo minyak dan LNG.

Shell, pedagang gas alam cair terbesar di dunia, mengatakan pendapatan dari perdagangan LNG diperkirakan akan lebih tinggi pada kuartal ini dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya. Penghasilan dari perdagangan minyak ditetapkan menjadi "lebih tinggi secara signifikan" di kuartal tersebut.

Arus kas pada kuartal tersebut akan dipengaruhi secara negatif oleh arus keluar yang "sangat signifikan" sekitar $7 miliar sebagai akibat dari perubahan nilai persediaan minyak dan gas.

Penjualan bahan bakar Shell rata-rata 4,3 juta barel per hari pada kuartal tersebut, turun dari 4,45 juta barel per hari pada kuartal sebelumnya, kata Shell. Volume pencairan LNG sedikit lebih tinggi pada kuartal tersebut, rata-rata 8 juta ton.

Bagikan

Berita Terbaru

Kemiskinan Indonesia Turun ke 8,25% pada 2025, Tapi Tekanan Biaya Hidup Masih Tinggi
| Senin, 09 Februari 2026 | 17:33 WIB

Kemiskinan Indonesia Turun ke 8,25% pada 2025, Tapi Tekanan Biaya Hidup Masih Tinggi

Secara jumlah, penduduk miskin Indonesia tercatat 23,36 juta orang, menyusut 490 ribu orang dibandingkan Maret 2025.

Tambahan Anggaran PU Rp 36,91 Triliun, Harapan Baru atau Sekadar Penyangga bagi BUMN?
| Senin, 09 Februari 2026 | 13:00 WIB

Tambahan Anggaran PU Rp 36,91 Triliun, Harapan Baru atau Sekadar Penyangga bagi BUMN?

Upaya Pemerintah menambah anggaran Rp 36,91 triliun guna mempercepat pembangunan infrastruktur, dianggap bisa menjadi suplemen bagi BUMN Karya.

Ramadan Dongkrak Trafik Data, Saham ISAT Masih Layak Dicermati?
| Senin, 09 Februari 2026 | 11:00 WIB

Ramadan Dongkrak Trafik Data, Saham ISAT Masih Layak Dicermati?

Kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) ada di jalur pemulihan yang semakin berkelanjutan. Sejak akhir 2025, ISAT mencatat lonjakan signifikan trafik data.

Ditopang Normalisasi AMMN & Tambahan PI Corridor, Kinerja MEDC Diproyeksikan Melesat
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:37 WIB

Ditopang Normalisasi AMMN & Tambahan PI Corridor, Kinerja MEDC Diproyeksikan Melesat

Dalam jangka pendek, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dipandang masih dalam fase downtrend.

Prospek ERAL Masih Menarik, Meski Tengah Menanti Kepastian Insentif Mobil Listrik
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:25 WIB

Prospek ERAL Masih Menarik, Meski Tengah Menanti Kepastian Insentif Mobil Listrik

PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) berencana menambah gerai baru sekaligus menghadirkan produk dan merek baru di berbagai segmen usaha.

Free Float Naik ke 15%, Emiten yang Tak Butuh Pendanaan Pasar Modal bisa Go Private?
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:00 WIB

Free Float Naik ke 15%, Emiten yang Tak Butuh Pendanaan Pasar Modal bisa Go Private?

Di rancangan peraturan terbaru, besaran free float dibedakan berdasarkan nilai kapitalisasi saham calon emiten sebelum tanggal pencatatan.

Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:31 WIB

Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good

Obligasi bertema ESG dan keberlanjutan akan meramaikan penerbitan surat utang di 2026. Bagaimana menakar daya tariknya?

Dharma Polimetal (DRMA) Produksi Baterai Motor Listrik
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:29 WIB

Dharma Polimetal (DRMA) Produksi Baterai Motor Listrik

Strategi tersebut ditempuh melalui penguatan kapabilitas manufaktur, diversifikasi produk bernilai tambah, serta integrasi ekosistem bisnis.

Pebisnis Minta Kepastian Izin Impor Daging Sapi
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:23 WIB

Pebisnis Minta Kepastian Izin Impor Daging Sapi

Para pelaku usaha tengah menantikan kepastian izin impor yang belum terbit. Padahal, saat ini sudah melewati waktu proses.

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:50 WIB

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN

Investor asing mencatat jual neto Rp 2,77 triliun di SBN. Tekanan jual ini diprediksi berlanjut hingga Kuartal I 2026. Pahami risikonya.

INDEKS BERITA

Terpopuler