Analis: Tender Offer Tower Bersama (TBIG) Masih Kurang Menarik

Jumat, 08 Februari 2019 | 06:00 WIB
Analis: Tender Offer Tower Bersama (TBIG) Masih Kurang Menarik
[]
Reporter: Intan Nirmala Sari, Krisantus de Rosari Binsasi | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) segera menggelar tender offer. Ini seiring rampungnya akuisisi 51% saham perusahaan pemilik menara telekomunikasi, PT Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk (GOLD) per 14 Desember lalu.

Di keterbukaan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (7/2), TBIG membeberkan telah mematok harga pelaksanaan tender offer Rp 556 per saham. TBIG bersedia membeli 28,43 juta, setara 9,04%, dari seluruh modal yang ditempatkan dan disetor penuh.

Jika dihitung, tawaran TBIG premium 3,92% dibanding harga GOLD kemarin, Rp 535 per saham. Visi Menara pernah menyentuh harga tertinggi di Rp 595 pada September tahun lalu. Masa penawaran tender wajib ini akan berlangsung hingga 11 Maret 2019.

Analis menilai, harga saham yang ditawarkan oleh TBIG masih kurang menarik. Padahal, harga GOLD cenderung fluktuatif. "Kurang menariknya karena potensi kenaikan sedikit, tetapi dengan risiko bisa melebihi," kata Sukarno Alatas, Analis OSO Sekuritas.

Tetapi, untuk investor yang sudah menggenggam GOLD, bisa hold. Investor bisa menunggu konfirmasi harga secara teknikal.

Analis BCA Achmad Yaki juga sependapat, potensi upside 3,9% masih kurang menarik bagi investor. "Kemungkinan tetap banyak yang minat, tetapi cenderung investor bukan trader," kata dia.

Kedua analis ini belum merekomendasikan pembelian TBIG dan GOLD. Apalagi, GOLD masih mencatat rugi. Untuk TBIG, Sukarno mematok target harga terdekat di Rp 5.500 per saham.

Sedangkan dari Yaki, target harga GOLD adalah Rp 556-Rp 590. Sedang target harga TBIG di Rp 4.900-5.150 untuk jangka pendek.

TBIG satu-persatu merampungkan akuisisinya. Pada Jumat pekan lalu (1/2), perusahaan ini juga selesai menggelar tender offer Rp 1.350 atas akuisisi 50,43% PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON).

Kendati begitu, kedatangan TBIG dianggap belum bisa mendorong daya tarik saham GHON yang kurang likuid. Tetapi untuk jangka panjang, kemungkinan akuisisi ini baik untuk prospek ke depan.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Strategi Reksadana: Adaptif dengan Reksadana Campuran
| Kamis, 01 Januari 2026 | 21:43 WIB

Strategi Reksadana: Adaptif dengan Reksadana Campuran

Di tengah ketidakpastian bursa dan potensi penurunan suku bunga yang lebih terbatas di 2026 reksadana campuran adalah alternatif menarik.

Menengok Karier Litta Indriya Ariesca, dari Analis Bisnis Hingga Jadi Dirut Elnusa
| Kamis, 01 Januari 2026 | 21:22 WIB

Menengok Karier Litta Indriya Ariesca, dari Analis Bisnis Hingga Jadi Dirut Elnusa

Litta Indriya Ariesca mengawali karier profesionalnya sebagai Business Analyst di Addisson Griffitts Consultant di Inggris hingga 2001.

Optimistis Kinerja Kuartal IV-2025 Membaik, BLTZ Siapkan Strategi di 2026
| Kamis, 01 Januari 2026 | 19:41 WIB

Optimistis Kinerja Kuartal IV-2025 Membaik, BLTZ Siapkan Strategi di 2026

Beberapa inisiatif yang dijalankan BLTZ antara lain peluncuran merchandise eksklusif, hingga pembaruan menu F&B yang lebih variatif.

Rencana Pengurangan Produksi Nikel Pemerintah Bisa Bikin Saham MBMA Merekah
| Kamis, 01 Januari 2026 | 19:15 WIB

Rencana Pengurangan Produksi Nikel Pemerintah Bisa Bikin Saham MBMA Merekah

Pemangkasan produksi bijih nikel ke 250 juta ton pada 2026 jadi katalis positif bagi MBMA. Analis rekomendasikan buy di 560-570, target price 660.

Sempat Jadi Top Gainer Akhir Tahun, ADMR Diuntungkan Sentimen Smelter
| Kamis, 01 Januari 2026 | 18:52 WIB

Sempat Jadi Top Gainer Akhir Tahun, ADMR Diuntungkan Sentimen Smelter

PT Adaro Minerals Indonesia Tbk adalah pemain batubara metalurgi (coking coal), bukan batubara energi sehingga sentimennya jauh lebih positif.

Analis Ungkap Peluang Rebound Saham BKSL di Tahun 2026
| Kamis, 01 Januari 2026 | 17:59 WIB

Analis Ungkap Peluang Rebound Saham BKSL di Tahun 2026

Saham BKSL tunjukkan sinyal rebound akhir 2025. Analis Maybank, MNC, dan Mandiri Sekuritas proyeksi target 150-198 dengan support kunci 131-134.

Tren Emas Bullish, Saham ARCI Masih Terhalang Tekanan Jual
| Kamis, 01 Januari 2026 | 14:00 WIB

Tren Emas Bullish, Saham ARCI Masih Terhalang Tekanan Jual

Pertumbuhan laba per saham (EPS Growth) ARCI tercatat melonjak tajam hingga 849,7% pada tahun 2025 kemarin.

Baru Mulai Fase Ekspansi, Tahun 2026 Kinerja CBDK Masih Akan Terkoreksi
| Kamis, 01 Januari 2026 | 12:00 WIB

Baru Mulai Fase Ekspansi, Tahun 2026 Kinerja CBDK Masih Akan Terkoreksi

Bahana Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 13.100 untuk saham CBDK dari sebelumnya Rp 13.700 per saham.

Rilis Film Baru Bakal Menopang Prospek Kinerja CNMA Cemerlang di Tahun 2026
| Kamis, 01 Januari 2026 | 10:21 WIB

Rilis Film Baru Bakal Menopang Prospek Kinerja CNMA Cemerlang di Tahun 2026

Melalui kenaikan harga tiket rata-rata serta belanja makanan dan minuman (F&B) per penonton, menjadi penopang utama kinerja CNMA.

Menakar Prospek Saham dan Kinerja PGAS Tahun 2026
| Kamis, 01 Januari 2026 | 08:00 WIB

Menakar Prospek Saham dan Kinerja PGAS Tahun 2026

Kontribusi LNG yang saat ini sekitar 11% diproyeksikan melonjak hingga 24% pada FY26F, kondisi yang berpotensi memicu tantangan baru.

INDEKS BERITA

Terpopuler