ART Pak Donald Trump

Kamis, 26 Februari 2026 | 03:15 WIB
ART Pak Donald Trump
[ILUSTRASI. TAJUK - Syamsul Ashar (KONTAN/Indra Surya)]
Syamsul Ashar | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah lanskap geopolitik yang kian retak dan proteksionisme yang bangkit, arah diplomasi ekonomi Indonesia makin tidak jelas. Komitmen pembelian hingga US$ 33 miliar dalam sebuah perjanjian dagang dengan Amerika Serikat—di era Presiden Donald Trump bukan angka kecil. 
Indonesia tampaknya benar-benar terperangkap pada kowtow diplomacy dalam perjanjian Agreement Reciprocal Trade atau ART ini. Ini bukan sekadar transaksi dagang tapi ketergantungan struktural, daya tawar, dan ruang kebijakan negara. 

Indonesia harus tegas: diplomasi ekonomi Indonesia harus berpijak pada kepentingan nasional jangka panjang, bukan optimisme diplomatik jangka pendek. Konteksnya jelas. Perjanjian dagang modern tak lagi berkutat pada tarif dan kuota. 

ART menyentuh isu pajak digital, perlindungan data, standar halal, hingga komitmen pembelian komoditas strategis seperti energi. Di atas kertas, hubungan dagang dengan Amerika Serikat menawarkan akses pasar besar. Namun, akses pasar tanpa kalkulasi imbang hanya akan menggeser posisi kita dari mitra strategis menjadi pasar yang patuh.

Pertama, skala komitmen harus ditimbang dengan manfaat nyata. Jika komitmen pembelian mencapai ratusan triliun rupiah, apa nilai tambah bagi industri domestik? 

CPO dan tekstil memang produk ekspor unggulan Indonesia, tapi nilainya terlalu kecil, tak sebanding dengan kewaiban Indonesia membeli produk AS. Apalagi di ART, AS  tak wajib membeli produk RI, sehingga kita tetap harus bersaing bebas dengan pemasok lain dari Malaysia, atau Vietnam.

Kedua, ruang kebijakan tidak boleh menyempit. Ketika kesepakatan dagang mulai menyentuh pajak digital, regulasi platform global, atau standar domestik seperti sertifikasi halal, Indonesia sesungguhnya sedang menegosiasikan kedaulatan regulasinya. Dengan ART raksasa teknologi global berbasis di Amerika Serikat, dengan leluasa mengeruk sumberdaya Indonesia berupa informasi dari media-media lokal, lalu mengambil keuntungan besar dari adsense tanpa membagi sepeser pun kepada media lokal. Jangan sampai asing bebas mengeruk sumberdaya negeri ini sebebas-bebasnya dengan perjanjian ART ini.

Ketiga, ketahanan ekonomi tak dibangun dari ketergantungan tunggal ke satu blok. Diversifikasi mitra dagang dan penguatan pasar domestik harus menjadi fondasi. Diplomasi RI tidak boleh menjadi catatan kaki kepentingan negara lain, apalagi menggadaikan kedaulatan. 

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Prabowo Ingin Semua Barang Subsidi Disalurkan Lewat Kopdes, Begini Catatan Ekonom
| Rabu, 15 Juli 2026 | 11:00 WIB

Prabowo Ingin Semua Barang Subsidi Disalurkan Lewat Kopdes, Begini Catatan Ekonom

Jika penyaluran barang bersubsidi langsung dipindahkan hanya lewat Kopdes secara nasional dan serentak, risikonya besar.

Sempat Rebound Dekati US$ 64.000, Ancaman Koreksi Bitcoin Masih Mengintai
| Rabu, 15 Juli 2026 | 10:00 WIB

Sempat Rebound Dekati US$ 64.000, Ancaman Koreksi Bitcoin Masih Mengintai

Penguatan bitcoin ditopang oleh pulihnya permintaan di pasar spot, khususnya yang datang dari investor jangka panjang dan investor institusional.

Berlina (BRNA) Menggelar Rights Issue dan Konversi Utang Rp 264,38 Miliar
| Rabu, 15 Juli 2026 | 09:02 WIB

Berlina (BRNA) Menggelar Rights Issue dan Konversi Utang Rp 264,38 Miliar

Pemegang saham pengendali  PT Berlina Tbk (BRNA) yaitu PT Dwi Satrya Utama (DSU) akan melaksanakan haknya melalui mekanisme kompensasi utang.

Menakar Arah Saham RAJA Pasca Stock Split
| Rabu, 15 Juli 2026 | 09:00 WIB

Menakar Arah Saham RAJA Pasca Stock Split

Analis mengingatkan, harga RAJA saat ini sudah berada di atas rata-rata PER maupun PBV historisnya dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir.

Dapat Penugasan Pemerintah, Asa Emiten Batubara Kembali Membara
| Rabu, 15 Juli 2026 | 08:58 WIB

Dapat Penugasan Pemerintah, Asa Emiten Batubara Kembali Membara

Kementerian ESDM meminta badan usaha pertambangan untuk memasok batubara hingga 212 juta ton ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). ​

Ekspor Perdana Aluminium Bisa Mengerek Pendapatan ADMR
| Rabu, 15 Juli 2026 | 08:46 WIB

Ekspor Perdana Aluminium Bisa Mengerek Pendapatan ADMR

Ekspansi pasar ke mancanegara jadi katalis penting bagi prospek jangka menengah PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR).

Saham IPO Masih Loyo, Cermati Prospek dan Fundamental Emiten
| Rabu, 15 Juli 2026 | 08:37 WIB

Saham IPO Masih Loyo, Cermati Prospek dan Fundamental Emiten

Harga saham enam emiten yang melantai di BEI lewat skema penawaran umum perdana saham (IPO) sepanjang Juli 2026 terus melemah.​

Tak Cuma Rights Issue, Harga Pelaksanaan Private Placement Juga bisa Dibawah Gocap
| Rabu, 15 Juli 2026 | 08:35 WIB

Tak Cuma Rights Issue, Harga Pelaksanaan Private Placement Juga bisa Dibawah Gocap

Perubahan aturan harga pelaksanaan rights issue dan private placement menjadi konsekuensi logis dari kebijakan BEI tiga tahun silam.

Rogoh Kocek Rp 1,48 Triliun, Merdeka Copper Gold (MDKA) Siap Lunasi Obligasi
| Rabu, 15 Juli 2026 | 08:30 WIB

Rogoh Kocek Rp 1,48 Triliun, Merdeka Copper Gold (MDKA) Siap Lunasi Obligasi

Dana pelunasan obligasi tersebut akan disetorkan MDKA kepada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebelum tanggal jatuh tempo.

Pergerakan IHSG Ditopang Sentimen Positif Inflasi AS
| Rabu, 15 Juli 2026 | 08:09 WIB

Pergerakan IHSG Ditopang Sentimen Positif Inflasi AS

Fokus utama investor adalah perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan nilai tukar rupiah, dan data inflasi AS.

INDEKS BERITA

Terpopuler