Aturan Pembatasan Hambat Distribusi, Pasokan Pupuk di China Makin Seret

Jumat, 01 April 2022 | 13:26 WIB
Aturan Pembatasan Hambat Distribusi, Pasokan Pupuk di China Makin Seret
[ILUSTRASI. FILE PHOTO: Kegiatan penyortiran biji kedelai di Wuhan, Provinsi Hubei, 14 April 2014. REUTERS/Stringer.]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pasokan pupuk ke sentra produksi pertanian di kawasan timur laut China terhambat aturan pembatasan Covid-19. Jika dibiarkan, gangguan yang terjadi sebulan setelah awal masa tanam musim semi itu, bakal menganggu panen jagung dan kedelai China di tahun ini.

Petani di China biasanya menyiapkan pupuk pada awal April sebelum menyebarkannya ke ladang di akhir bulan selama penanaman. Tetapi wabah Covid terburuk di China sejak pandemi dimulai dua tahun lalu, memicu kontrol ketat pada pergerakan orang dan barang. Pengiriman logistik pertanian pun turut terhambat.

Produsen, dealer, analis, dan asosiasi pupuk mengatakan aturan pembatasan yang menghambat pasokan seperti kewajiban pengemudi truk untuk melakukan tes Covid setiap 24 jam. Keharusan mendapat izin khusus untuk mengirimkan barang, serta penangguhan kegiatan produksi di pabrik juga berkontribusi terhadap pasokan yang seret.

"Produksi pupuk nitrogen dan persiapan pupuk untuk penanaman musim semi telah sangat terpengaruh," demikian pernyataan Asosiasi Industri Pupuk Nitrogen China, minggu ini.

Baca Juga: Pertumbuhan Pabrik Korea Selatan Melambat Karena Pesanan Ekspor Menyusut

Jilin, provinsi penghasil jagung terbesar kedua di China, termasuk daerah yang paling terdampak oleh aturan pembatasan. Sejak 14 Maret, saat kasus baru Covid mencapai ribuan per hari, 
pemerintah daerah setempat melarang pergerakan orang, baik  melintasi perbatasan provinsi.

"Pasokan pupuk di sini sangat ketat," kata seorang pedagang bermarga Yan di Jilin. Ia menyebut, pesanan pupuk dari pelanggan sebanyak 2.000 ton belum terpenuhi.

Kemacetan pasokan itu terjadi di saat harga pupuk di pasar dunia menyentuh rekor tertinggi, terdorong permintaan yang kuat, biaya energi yang tinggi serta sanksi negara Barat terhadap produsen utama pupuk, yaitu Rusia dan Belarusia. 

Terlepas dari upaya Beijing untuk menurunkan harga, indeks pupuk grosir China (CFCI) 40% lebih tinggi dari tahun lalu.

Itu telah membuat banyak dealer enggan membangun stok dalam beberapa bulan terakhir. Akibatnya, para pedagang kekurangan stok justru di periode pasar paling sibuk. Yao, seorang pedagang di Liaoning, mengatakan dia kekurangan sekitar sepertiga dari kebutuhan.

Pembatasan transportasi menjadi masalah utama pasokan bagi wilayah di timur laut, yang tidak memiliki cukup produksi pupuk lokal dan bergantung pada pengiriman dari provinsi lain. 

Padahal provinsi di timur laut, seperti Heilongjiang, Jilin dan Liaoning, bersama dengan Mongolia Dalam merupakan pemasok lebih dari 40% jagung dan 50% kedelai bagi kebutuhan China. Harga jagung dan kedelai melayang pada rekor tertinggi.

Baca Juga: Aktivitas Pabrik di Jepang Meningkat Seiring Meredanya Kasus Covid-19

Produsen pupuk terkemuka Sinofert Holdings masih memiliki sekitar 80.000-100.000 ton produk yang menunggu untuk dikirim, direktur eksekutif Ma Yue mengatakan kepada wartawan pada panggilan pendapatan minggu lalu. Kelambatan pengiriman tetap terjadi, padahal perusahaan telah mendapat sekitar 1.000 izin untuk pengoperasian truk.

Tiket khusus untuk mengirimkan barang-barang penting membutuhkan waktu untuk diproses dan harus diperbarui setiap hari. Ia juga menjadi semakin sulit untuk menemukan pengemudi yang mau bekerja di bawah pembatasan, kata dealer.

Tantangan datang bahkan ketika Beijing berulang kali menyerukan upaya habis-habisan untuk menjamin panen yang sukses di tengah kekhawatiran keamanan pangan global. 

Pupuk telah mencapai 68,8% dari rumah tangga pertanian Jilin pada hari Rabu, meskipun ada tantangan, surat kabar pemerintah Jilin Daily melaporkan, menambahkan bahwa pasokan bahan pertanian "teratur dan stabil".

Bagikan

Berita Terbaru

Bursa Efek Indonesia Mengejar Pendalaman Pasar
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:42 WIB

Bursa Efek Indonesia Mengejar Pendalaman Pasar

Ekspansi pengembangan produk yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap harus mampu menjawab kebutuhan investor

Penjualan Masih Kuat, Laba Bersih ULTJ Semester Pertama Melonjak 73,7%
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:38 WIB

Penjualan Masih Kuat, Laba Bersih ULTJ Semester Pertama Melonjak 73,7%

Penjualan  PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) mencapai Rp 5,49 triliun, naik 34,6% year-on-year (yoy)

Babak Baru Demutualisasi Bursa Efek Indonesia
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:35 WIB

Babak Baru Demutualisasi Bursa Efek Indonesia

OJK tengah melakukan finalisasi aturan demutualisasi, Danantara siap masuk menjadi pemegang saham BEI

Harga Logam Mulia Bertahan di Atas US$ 4.300, Saham Produsen Emas Ikut Meroket
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:34 WIB

Harga Logam Mulia Bertahan di Atas US$ 4.300, Saham Produsen Emas Ikut Meroket

Potensi penguatan saham-saham emas di BEI masih berlanjut sejalan dengan kenaikan harga emas di pasar global.

Platform Kembalikan Pajak yang Terpotong
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:18 WIB

Platform Kembalikan Pajak yang Terpotong

Terdapat empat marketplace yang ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22, yakni Shopee, Tokopedia, Blibli dan Lazada.

Tren Permintaan Angkutan Komoditas Melemah
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:10 WIB

Tren Permintaan Angkutan Komoditas Melemah

Carmelita menilai kondisi angkutan komoditas sangat dinamis dan akan terus mengikuti perkembangan produksi.

Kinerja Emiten Grup Prodia Beda Arah di Semester Pertama
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:05 WIB

Kinerja Emiten Grup Prodia Beda Arah di Semester Pertama

 PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) masih mampu mencetak pertumbuhan laba. Sedangkan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) membukukan rugi bersih. 

Krisis Cip Mengusik  Biaya Produksi Vendor
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:05 WIB

Krisis Cip Mengusik Biaya Produksi Vendor

Kondisi ini terjadi karena produsen cip mengalokasikan kapasitas produksi lebih besar untuk kebutuhan server dan artificial intelligence (AI)

Megaproyek PLTS Butuh Kepastian Regulasi
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:00 WIB

Megaproyek PLTS Butuh Kepastian Regulasi

Realisasi proyek PLTS 100 GW membutuhkan kepastian regulasi dan iklim investasi yang mampu menarik minat swasta untuk terlibat.

Bumi Arsana Mulia Akuisisi 25,60% Saham OKAS
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:58 WIB

Bumi Arsana Mulia Akuisisi 25,60% Saham OKAS

Bumi Arsana Mulia membeli sebanyak 607.521.388 saham OKAS dengan nilai Rp 73,51 miliar. Transaksinya berlangsung  pada 4 Agustus 2026.

INDEKS BERITA

Terpopuler