Au Ah Gelap
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketidaktahuan merupakan pemicu utama kecemasan kita saat mendengar apa yang terjadi di Bursa Efek Indonesia selama dua hari kemarin. Mengapa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), indikator utama bursa bisa amblas -7,35% pada Rabu dan -1,06% per Kamis? Padahal, indeks yang sama terus berlari sejak paruh kedua tahun lalu hingga menyentuh kisaran 9.000 pada pertengahan bulan ini.
Kalau kita paham seperti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, tentu tidak perlu merasa cemas. Seperti dikutip kontan.co.id, Menteri Purbaya bilang penurunan indeks disebabkan tekanan sentimen belaka dan tidak ada hubungannya dengan fundamental ekonomi.
Bapak Menteri yang gemar mengomentari banyak hal ini tidak keliru saat menyebut penurunan indeks tidak ada hubungannya dengan ekonomi. Itu sejalan dengan tema yang diusung Harian KONTAN saat membahas penguatan IHSG bulan-bulan terakhir: tidak ada hubungannya dengan situasi ekonomi kita.
Sentimen yang dimaksud Menteri Purbaya sangat mungkin merujuk ke gerak harga banyak saham konglomerasi, yang pada Rabu kemarin mengalami batas penurunan terendah. Jangan lupa, saham-saham ini juga yang menjadi pendorong indeks hingga terbang tinggi di hari-hari kemarin.
Bagi investor perorangan, penurnan harga yang terjadi kemarin jelas mencemaskan. Mereka yang masih menahan floating loss cemas karena mereka tidak tahu sampai di titik mana harga saham yang mereka miliki akan jatuh.
Sedang mereka yang sudah menjual, entah dengan alasan cut loss ataupun karena take profit, cemas karena tidak tahu apakah hitung-hitungan risk-reward yang mereka pakai selama ini masih relevan.
Apalagi rekomendasi dari mereka yang menyandang gelar analis atau ekonom, kok ya masih meragukan. Misal, saran untuk beralih ke saham-saham emiten yang memiliki fundamental kokoh dan likuid. Rekomendasi ini terdengar meragukan karena data perdagangan di saat IHSG rontok dua hari kemarin justru memperlihatkan saham-saham jenis ini yang banyak dilepas asing.
Mengingat antrian jual yang panjang dan tak kunjung disentuh pada Rabu kemarin, saham konglomerasi jelas pilihan yang sama meragukannya. Apalagi, regulator keuangan yang super responsif terhadap masukan investor asing, berniat memperbesar free float. Apa aturan ini tidak akan menyulut goncangan baru di perdagangan efek, terutama saham konglomerasi?
