Belanja Pelat Merah

Kamis, 08 Januari 2026 | 06:11 WIB
Belanja Pelat Merah
[ILUSTRASI. TAJUK - Thomas Hadiwinata (KONTAN/Indra Surya)]
Thomas Hadiwinata | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjelang akhir tahun 2025 lalu, optimisme tentang ekonomi Indonesia mulai ditebar pemerintah. Belanja pemerintah, yang merupakan salah satu komponen pertumbuhan ekonomi, dijanjikan akan direalisasikan pada kuartal I. Ini sesuatu yang membesarkan hati, mengingat belanja pemerintah lazim berputar di akhir tahun, seperti kuartal IV. 

Namun belum 30 hari tahun 2026 berlalu, publik mulai mempertanyakan apakah janji itu bisa direalisasikan. Penyebabnya, di tahun-tahun lalu dokumen tentang Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Daftar Isian Proyek Anggaran (DIPA) terbit pada Desember tahun sebelumnya. Namun untuk 2026 ini, kedua dokumen yang menjadi bagian dari proses awal belanja pemerintah tiak kunjung terbit hingga akhir 2025. 

Baru pada pekan ini, UU APBN dan DIPA untuk tahun 2026 dirilis. Semoga saja, penerbitan keduanya ibarat pengibaran bendera start untuk belanja pemerintah. Situasi kondisi global yang masih diliputi ketidakpastian merupakan satu alasan pemerintah tentang niatnya mempercepat belanja di tahun ini. 

Belanja juga perlu mengalami akselerasi waktu agar pengeluaran pemerintah makin terasa dampaknya terhadap ekonomi di tahun ini. Ini penting mengingat ruang fiskal tahun ini semakin sempat, dengan defisit ditetapkan senilai Rp 689,1 triliun, atau setara 2,68% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Alasan lain belanja perlu mengalami percepatan realisasi adalah kehadiran program-program prioritas. Program makanan bergizi gratis (MBG) dan perlindungan sosial mendapatkan alokasi belanja masing-masing, sesuai urutan, Rp 335 triliun dan Rp 508,2 triliun. Percepatan itu perlu agar keduanya, juga program lain, bisa memperlihatkan efek pengganda bagi ekonomi.

Dalam peta ekonomi nasional, peran belanja pemerintah sebagai pemicu multiplier effect sangat relevan jika kita melihat komponen pembentuk PDB selama lima tahun terakhir. Porsi belanja pemerintah di periode itu cuma berkisar 7%-9% terhadap total PDB nasional. 

Sedangkan dua komponen terbesar adalah konsumsi masyarakat dan investasi. Sumbangan keduanya jika ditotal berada di kisaran 80%. Dus, jika ada efek pengganda dari belanja pemerintah, kontribusi dari kedua komponen itu diharap meningkat.

Tentu, pemerintah juga tidak hanya diharapkan merealisasikan belanjanya dengan lebih cepat, tetapi juga melakukan pengeluaran yang efisien dan tepat sasaran.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Kebijakan WFH bagi ASN, Belum Menjadi Game Changer Bagi Emiten Telko dan GOTO
| Jumat, 03 April 2026 | 06:16 WIB

Kebijakan WFH bagi ASN, Belum Menjadi Game Changer Bagi Emiten Telko dan GOTO

WFH secara alami akan menekan mobilitas masyarakat sehingga akan membuat mobilitas tertekan dan melambatkan segmen ride-hailing.

Saham Perkapalan Kompak Terkoreksi Usai Naik Signifikan, Cek Analisis Teknikalnya
| Jumat, 03 April 2026 | 06:00 WIB

Saham Perkapalan Kompak Terkoreksi Usai Naik Signifikan, Cek Analisis Teknikalnya

Dari segi kinerja keuangan, emiten yang mempunyai pendapatan dan laba bersih cukup besar ialah BULL dan SOCI.

Harga Minyak Dunia Melonjak 60%, Ancaman Resesi Global Mengintai
| Jumat, 03 April 2026 | 01:30 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak 60%, Ancaman Resesi Global Mengintai

PM Singapura Lawrence Wong peringatkan dunia hadapi krisis energi dan risiko stagflasi. Dampak konflik Timur Tengah bisa berlangsung lama.

Harga Penawaran IPO WBSA Rp 168 Per Saham, Duitnya Buat Akuisisi Perusahaan Afiliasi
| Kamis, 02 April 2026 | 13:33 WIB

Harga Penawaran IPO WBSA Rp 168 Per Saham, Duitnya Buat Akuisisi Perusahaan Afiliasi

PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) merupakan perusahaan logistik terintegrasi yang baru didirikan pada 2021.

Konflik Timur Tengah bisa Menahan Penerbitan Obligasi Baru, Begini Kata TBIG dan ENRG
| Kamis, 02 April 2026 | 09:30 WIB

Konflik Timur Tengah bisa Menahan Penerbitan Obligasi Baru, Begini Kata TBIG dan ENRG

Di tengah himpitan pasar surat utang, opsi pendanaan dari kredit perbankan menjadi sekoci penyelamat.

Ketidakpastian RKAB, Bukan Halangan Bagi Prospek ITMG ke Depan
| Kamis, 02 April 2026 | 09:00 WIB

Ketidakpastian RKAB, Bukan Halangan Bagi Prospek ITMG ke Depan

Para analis juga memperkirakan bahwa harga jual average selling product (ASP) akan mampu menutupi kenaikan biaya produksi ITMG secara sempurna.

Penjualan Tahun 2025 Naik, Laba Sawit Sumbermas (SSMS) Melejit Dua Digit
| Kamis, 02 April 2026 | 08:37 WIB

Penjualan Tahun 2025 Naik, Laba Sawit Sumbermas (SSMS) Melejit Dua Digit

PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) sukses mengantongi laba bersih Rp 1,16 triliun atau meningkat 41,6% yoy dari Rp 819,53 miliar di 2024.​

Prospek Emiten Sawit 2026 Stabil tapi Volatil: Harga CPO, El Nino & B50 Jadi Katalis
| Kamis, 02 April 2026 | 08:30 WIB

Prospek Emiten Sawit 2026 Stabil tapi Volatil: Harga CPO, El Nino & B50 Jadi Katalis

Produksi global diprediksi kembali mengucur deras seiring dengan pemulihan output panen di Indonesia dan Malaysia.

Merogoh Dana Rp 2 Triliun, United Tractors (UNTR) Gelar Buyback Saham
| Kamis, 02 April 2026 | 08:23 WIB

Merogoh Dana Rp 2 Triliun, United Tractors (UNTR) Gelar Buyback Saham

Jumlah saham yang akan dibeli kembali tersebut tidak akan melebihi 20% dari modal ditempatkan dan disetor PT United Tractors Tbk (UNTR).

Prapenjualan Masih Kuat, Laba Summarecon Agung (SMRA) Pada 2026 Bisa Melesat
| Kamis, 02 April 2026 | 08:14 WIB

Prapenjualan Masih Kuat, Laba Summarecon Agung (SMRA) Pada 2026 Bisa Melesat

Peluang pemulihan kinerja SMRA pada 2026 masih terbuka. Katalis pendukungnya, antara lain, realisasi marketing sales yang stabil di tahun lalu. ​

INDEKS BERITA

Terpopuler