Berita Profile

Benny Tjokrosaputro: Saya Sempat Dimarahi Bapak karena Main Saham

Kamis, 14 Februari 2019 | 13:32 WIB

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nama Benny Tjokrosaputro sudah tidak asing lagi dikalangan investor saham. Strategi investasi putra pertama dari pasangan Handoko Tjokrosaputro dan Lita Anggriani ini kerap menjadi rujukan bagi banyak pemain saham lain dalam meracik portofolio.

Kini, cucu dari Kasom Tjokrosaputro, sang pendiri grup usaha Batik Keris, ini masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes tahun 2018. Benny ditempatkan Forbes di urutan ke-43. Majalah bisnis itu menaksir kekayaan pria yang lahir pada 15 Mei 1969 di Surakarta ini mencapai US$ 670 juta.

Dalam wawancara yang berlangsung di Mayapada Tower I lantai 21 pada Jumat (1/2) lalu, Benny bicara blak-blakan beragam topik. Mulai dari kenangan awal mula ia berdagang saham di penghujung tahun 1980-an, keterlibatannya dalam bisnis keluarga, hingga visinya membesarkan usaha properti.

Disangka berjudi

Benny memulai aktivitas investasinya di pasar modal sejak duduk di bangku kuliah. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Trisaksi tersebut kenal dunia saham lantaran diajak sesama rekan-rekan kuliahnya.

Saham PT Bank Ficorinvest Tbk merupakan portofolio pertama yang dibeli Benny bermodal tabungan uang saku kuliah. Dia membelinya langsung di pasar perdana, alias saat Ficorinvest melantai di bursa efek, 

Sempat dimarahi sang ayah, yang menilai bermain saham sama dengan berjudi. Namun pria yang mengaku otodidak belajar saham ini di kemudian hari mampu membuktikan kesuksesan jalan hidupnya.

KONTAN: Apa yang membuat Anda tertarik bermain saham waktu itu?

BENNY: Sederhana saja, mau cari untung.

KONTAN: Ada formula khusus, apa yang Anda pelajari dan siapa yang Anda ikuti?

BENNY: Tidak ada. Tidak ada yang saya ikuti.

KONTAN: Saham apa yang pertama Anda beli?

BENNY: Saham Ficorinvest (PT Bank Ficorinvest Tbk), Itu beli saham perdananya. Berikutnya, kalau mau beli saham perdana, antre seperti orang gila. Jangankan dapat jatah, formulirnya saja sudah antre gila-gilaan.

KONTAN: Tetapi selalu dapat saham IPO?

BENNY: United Tractor (UNTR) saya tidak dapat.

KONTAN: Banyak investor saham bilang, berinvestasi saham di tahun pertama seringnya rugi. Kalau pengalaman bapak?

BENNY: Tidak juga. Untung rugi itu biasa. Orang berani masuk ke capital market, pasti sudah tahu konsekuensinya. Bisa untung, dan dapat untung di capital market itu relatif lebih cepat. Tapi bisa juga rugi cepat. Tinggal kejelian masing-masing.

KONTAN: Pengalaman Anda bagaimana?

BENNY: Waktu hot untung. Begitu mulai oversupply ya rugi. Dalam beberapa bulan pertama main saham, saya untung. Tetapi begitu ada kebijakan uang ketat, ya langsung rontok, saham-saham berjatuhan. Saya waktu itu pakai uang jajan sekolah. Untuk ukuran saat itu, uang saya cukup gede.

KONTAN: Aktivitas bermain saham saat kuliah dulu diketahui orang tua Anda, Pak Handoko Tjokrosapoetro?

BENNY: Bapak saya, pak Handoko, tahu saya bermain saham. Awalnya dia pikir bermain saham itu judi, lalu saya dimarah-marahin. Tapi lama-kelamaan dibiarkan juga. Mungkin dia berfikir anaknya ini punya bakat. Sempat dimarah-marahi karena kalau saya rugi, kan dia yang nombokin.

KONTAN: Pak Handoko tidak berinvestasi saham?

BENNY: Tidak mengerti. Orang zaman dahulu mana mengerti main saham. Orang zaman dulu kalau kerja polos, modal sendiri. Tidak mengerti pasar modal.

Reporter: Dian Sari Pertiwi, Thomas Hadiwinata, Yuwono Triatmodjo
Editor: Yuwono triatmojo


Baca juga