Hanya Rp 10.000 selama 30 hari untuk berita pilihan, independen, dan inspiratif Berlangganan Sekarang
Berita HOME

Benny Tjokrosaputro: Saya Sempat Dimarahi Bapak karena Main Saham

Kamis, 14 Februari 2019 | 13:32 WIB
Benny Tjokrosaputro: Saya Sempat Dimarahi Bapak karena Main Saham

ILUSTRASI.

KONTAN: Berapa besar modal pertama Anda bermain saham?

BENNY: Hanya beberapa juta. Sampai puluhan juta rupiah, ya, pernah. Tapi begitu mau lulus sekolah, nekat main sampai ratusan juta rupiah.

Saat main saham jutaan atau puluhan juta, bapak saya hanya ketawa-ketawa saja. Tapi kalau sudah kalah sampai ratusan juta, muka bapak saya langsung merengut.

KONTAN: Waktu itu Anda belum punya usaha?

BENNY: Saya masih kuliah.

KONTAN: Setelah menamatkan pendidikan, Anda pernah ikut dalam bisnis keluarga?

BENNY: Gara-gara kegatelan bermain saham, saya dikasih pekerjaan oleh bapak saya. Saya pernah disuruh mengurusi Keris Gallery (Keris Gallery Department Store). Disuruh ngurusin pertanian, juga pernah. Disuruh dagang semen sampai ke Timor Timor, pernah. Bangun rumah, pernah. Bikin pom bensin, pernah. Bebasin tanah, pernah. Jadi pengalaman saya sudah macam-macam.

Tetapi biarpun dikasih kerjaan macam-macam, tetap saja saya bermain saham. Dasar doyan, ya akhirnya saya dibiarkan bermain saham oleh bapak. Sebenarnya dikasih tanggung jawab pekerjaan saat itu agar saya tidak bermain saham. Tetapi ya tetap saja saya bermain saham.

KONTAN: Paling suka saham sektor apa?

BENNY: Yang memberikan untung paling banyak saja. Saya sebagai investor, saya tidak fanatik terhadap saham apa-apa. Yang saya lihat  adalah fundamentalnya, itu sudah pasti. Tren pasar kita baca. Supply demand seberapa banyak juga kita pelajari. Untuk bisa untung, semua itu harus kita pelajari.

KONTAN: Jadi, sektor apa yang paling disukai?

BENNY: Consummer goods karena tidak ada siklus. Kalau tambang, properti, itu ada siklusnya. Kadang jelek sekali, kadang bagus sekali.

KONTAN: Bukankah Anda juga pernah menuai untung besar dari saham Aneka Tambang? (Salah satu kisah sukses Benny yang sering terdengar adalah investasi di saham Antam).

BENNY: Waktu membeli Antam, analisis saya sederhana saja. Walaupun perusahaan ini rugi, Saya baca laporan keuangannya terkesima, kenapa perusahaan ini dihargai sangat murah. Harganya saat itu, sekitar empat tahun yang lalu hanya Rp 300. Waktu itu meski analis asing bilang saham ini jelek, saya tetap beli. Padahal saat itu target harga analis hanya Rp 180. Bayangkan, apa tidak sadis kasih target harga Rp 180, setelah harganya turun ke Rp 300. Dari sana, saya mulai tidak gampang percaya dengan analis asing.

Saya lihat neracanya Antam, cash flow on hand Rp 7 triliun. Kapitalisasi pasarnya juga Rp 7 triliun. Kalau kapitalisasi pasarnya Rp 7 triliun, sedangkan cash-nya Rp 7 triliun, berarti harta yang lain tidak dihitung dong. Padahal Antam punya tambang puluhan dan punya pabrik smelter juga. Masa tambang sama pabriknya tidak dihitung dan yang dihitung hanya cash-nya saja. Konyol sekali, menurut saya ini gila, kelewat murah.

Jadi dasarnya saya membeli Antam dari sana karena harganya saat itu tidak memperhitungkan tambang dan pabrik mereka, meski perusahaan ini merugi.

Kalau kata Lo Kheng Hong, saham seperti itu salah harga. Kan kalian yang sering bilang Lo Kheng Hong paling jago di pasar saham. Ya tapi dia kejeblos juga, di beli saham Borneo (PT Borneo Lumbung Energy & Metal Tbk).

KONTAN: Anda mendeskripsikan gaya investasi Anda seperti apa?

BENNY: Saya investor jangka panjang. Saya tidak sempat trading cepat. Itu sudah sejak awal.

Namun sebetulnya saya bukan murni investor karena saya emiten juga. Saya lebih meng-create value. Yang namanya investor itu menurut saya adalah orang yang menanam uang, namun pasif. Dia beli, lalu menungggu moga-moga harga sahamnya naik, manajemennya bagus, perusahaannya untung, sehingga harga sahamnya naik. Itu investor di mata saya.

Tapi saya ini tidak menunggu. Tidak menunggu semoga perusahaannya jadi bagus, semoga manajemennya baik. Saya berusaha agar apa yang saya investasikan di perusahaan go public, menjadi bagus, value-nya naik, karena ada usaha, bukan karena pasrah kepada nasib.

Dari awal main saham, mindset, niat saya sudah seperti itu. Bukan seperti main lotere, serahkan kepada nasib, moga-moga naik. Saya tidak begitu.

KONTAN: Anda terlihat sering bertransaksi entah satu atau dua hari sekali pada sejumlah saham, semisal saham Hanson. Itu transaksi jual beli atau repo (repurchase agreemet)?

BENNY:  Hanson itu kan investornya banyak sekali, ribuan, 8.000 atau bahkan mungkin tembus 10.000-an. Banyak nasabah yang repo, pasti ada. Yang trading harian juga pasti ada. Yang main margin, juga pasti ada.

Kalau sering terjadi transaksi, jumlahnya gede, blok-blok, itu biasanya repo. Kalau trading, biasanya volumenya kecil-kecil tetapi banyak. Saya ngomong apa adanya saja, saya memang sering melakukan repo.

Kadang ditanya OJK, kenapa pemilikan saya berubah-ubah? Ya kalau sedang ngutang, ya turun, kan sahamnya saya jaminkan. Yang ngutangin, kan, mau pegang sahamnya, otomatis dibalik nama atas nama dia. Sebaliknya, waktu saya lunasi, sahamnya kan balik. Hanya begitu saja, tidak ada yang aneh.

KONTAN: Kenapa sih dulu Anda sampai disebut tukang goreng?

BENNY: Saya tidak mau jawab untuk pertanyaan yang ini.

***

Reporter: Dian Sari Pertiwi, Thomas Hadiwinata, Yuwono Triatmodjo
Editor: Yuwono triatmojo

Baca juga