Hanya Rp 10.000 selama 30 hari untuk berita pilihan, independen, dan inspiratif Berlangganan Sekarang
Berita HOME

Benny Tjokrosaputro: Saya Sempat Dimarahi Bapak karena Main Saham

Kamis, 14 Februari 2019 | 13:32 WIB
Benny Tjokrosaputro: Saya Sempat Dimarahi Bapak karena Main Saham

ILUSTRASI.

Prospek cerah bursa saham

Memasuki tahun bershio Babi ini, Benny memiliki pandangan positif. Salah satu indikasinya terlihat dari pergerakan indeks bursa di banyak kawasan bergerak naik.

Pengalaman Benny mengajarkan, belilah saham di saat kondisi ekonomi tidak terlalu baik atau bahkan buruk dengan catatan ekspektasi bagus di waktu berikutnya. Hal itu akan meningkatkan potensi keuntungan dari pembalikan harga saham.

KONTAN: Bicara pasar modal, bagaimana prediksi Anda untuk tahun 2019?

BENNY: Mungkin saya salah, tapi bursa efek itu bergerak mengikuti ekspektasi. Mungkin kondisi ekonomi sedang jelek, tapi kalau orang menganggap tahun depan akan bagus, maka bursa sudah bagus sejak tahun ini.

Jadi misalnya saat ini China dan Amerika Serikat sedang perang dagang, tapi masa mau perang dagang terus. Jadi kalau orang berekspektasi tahun ini akan damai, maka akan bagus.

Lalu The Fed menaikkan bunga. Tapi kalau orang berfikir, menaikkan bunganya sudah hampir berhenti dan akan di-stop, berarti tahun depan mungkin bagus.

Indonesia juga begitu. Siapa pun kalau tahun depan sehabis pemilu akan bagus, siapa pun presidennya, maka orang akan beli saham dari sekarang. Sementara ini saya lihat, dari semua sisi, ekspektasinya bagus meskipun ekonominya belum bagus. Makanya harga saham sekarang naik. Ini tidak hanya di Indonesia, tetapi diseluruh dunia saham naik karena ekspektasinya ekonmi akan bagus.

Jadi kalau anda bertanya kapan saat yang paling tepat beli saham, jawaban saya adalah saat yang sedang jelek, tetapi orang sudah berfikir ke depan ekspektasinya akan bagus. Itu pendapat saya.

KONTAN: Tapi ada istilah jangan menangkap pisau jatuh?

BENNY: Itu kalau kebalikannya. Ekonomi sedang bagus, tapi ekspektasinya akan jelek. Nah itu pisaunya mau jatuh.

Misalnya awal tahun lalu orang sudah tahu bunga akan dinaikan oleh Amerika, karena ekonomi terlalu panas, bursa efek terlalu over price, itu artinya pisaunya mau jatuh. Sudah tahu bunga mau dinaikan, ya jangan ditadah dong.

***

Cucu pendiri usaha batik yang menjadi tuan tanah

Dengan mengendarai PT Hanson International Tbk (MYRX), Benny merambah bisnis properti residensial di pinggir Barat Jakarta. Sebagai catatan, perusahaan yang berkantor di Mayapada Tower 1 lantai 21 Jalan Jenderal Sudirman itu mencatatkan saham perdana pada 31 Oktober 1990.

Kebutuhan lahan bagi ekspansi pabrik Batik Keris, menjadi awal perkenalan keluarga besar Benny pada bisnis properti. Proyek perumahan Solo Baru menjadi master piece dan tonggak sejarah kemunculan Batik Keris saat itu.

Karakter Benny yang berani mengambil resiko (take risk), di mata sang ayah tampak tepat menggeluti bisnis properti. Dan memang, insting Handoko Tjokrosaputro terhadap anak sulungnya terebut kemudian terbukti.

KONTAN: Apakah sampai sekarang masih terlibat bisnis keluarga atau memang sudah jalan sendiri-sendiri?

BENNY:  Di keluarga Batik Keris, saya sudah masuk generasi ketiga. Generasi pertama, kakek saya sudah meninggal. Digenerasi kedua, dari enam orang, lima sudah meninggal. Jadi saya sudah masuk generasi ketiga, level cucu, tidak menggerombol lagi dalam bisnis grup Batik Keris.

Level generasi ketiga, cucu-cucu ini ada sekitar 18 orang. Bisnisnya juga sudah masing-masing, sudah tidak campur.

KONTAN: Tetapi masih tetap saling membantu?

BENNY: Iya, saya kerjasama dengan adik dan sepupu saya. Di Rimo (PT Rimo International Lestari Tbk), saya bermitra dengan adik saya.

KONTAN: Tadi Anda menyebut banyak kesibukan, tetapi tetap bermain saham. Apa yang membuat Anda tidak bisa lepas dari saham?

BENNY: Waktu itu mikirnya sederhana saja, ingin cepat kaya. Waktu muda mikirnya simpel saja. Ini hitungan matematis. Kalau kita kerja normal, untung perusahaan yang dibagi adalah ketika perusahaan untung. Misalnya kita dagang tekstil, setahun untung Rp 10 miliar. Lalu tinggal diputuskan saja, mau dibagi sebagai dividen berapa, Rp 3 miliar, Rp 5 miliar, terserah.

Nah, enaknya perusahaan go public itu multiplier effect. Karena menghitung perusahaan berdasarkan PER (price earning ratio). Kalau dihitung PER 20, artinya dengan pendapatan keuntungan perusahaan yang Rp 10 miliar tadi, maka value perusahaan menjadi Rp 200 miliar. Kalau jual saham 40%, maka perusahaan itu bisa dapat Rp 80 miliar.

Kalau tidak go public, untuk dapat Rp 80 miliar butuh waktu sampai delapan tahun. Sedangkan kalau di pasar modal, cepat, tidak perlu menunggu waktu delapan tahun. Multiplier effect-nya itu yang menarik di pasar modal. Jadi kami mendapat lipatan, dari kemampuan kami mencetak laba. Ini kalau patokannya PE ratio. Kalau perusahaan properti lebih mantap lagi karena menghitungnya dari NAV, net asset value.

KONTAN: Sebelum menjadi perusahaan properti, dahulu Hanson berbisnis apa?

BENNY: Dahulu ini pabrik garmen kecil yang kemudian diambil alih oleh bapak saya, dipakai backdoor listing pabrik pemintalan Primayudha (PT Primayudha Mandirijaya). Tetapi waktu krisis moneter kondisinya menjadi sangat berat sehingga harus restructuring. Karena sebetulnya itu punya adik saya, oleh adik saya lalu dijual untuk bayar utang. Adik saya lalu minta tolong agar Hanson diselamatkan, padahal isinya sudah dijual untuk bayar utang.

Lalu saya selamatkan, Saya tebus utangnya di Bank Mandiri dan BNI Sekuritas. Boleh dicek. Sudah tidak ada isinya, saya tebus, Jadi kira-kira, orang yang seperti saya ini baik atau tidak?

Hanson tidak ada isinya, pabriknya sudah dijual, tetapi masih punya utang ke Bank Mandiri dan BNI Sekuritas. Saya tebus karena ingin menolong adik saya. Kemudian saya isi properti, hingga jadi seperti sekarang ini.

KONTAN: Kenapa Anda lebih memilih properti sebagai bisnis utama padahal dahulu diserahi banyak tanggung jawab oleh ayah Anda?

BENNY: Bapak saya melihat karakter orang. Saya ini dinilai berani take risk. Properti itu butuh nyali. Baru bebasin tanahnya saja butuh nyali. Ketemu mafia tanah, preman tanah. Belum lagi penjual tanah yang nakal, surat palsu, girik bodong, nyuri meteran.

Ketemu yang seperti itu, kami sudah sering. Untuk berhadapan dengan yang seperti itu, butuh nyali, supaya tidak stres, sama seperti bermain saham.

KONTAN: Jadi dulu diarahkan oleh keluarga untuk menggeluti properti?

BENNY: Bapak saya kasih kebebasan anaknya mau apa, tapi setelah diputer-puter, bapak saya bilang saya cocok di properti. Saya di bisnis properti sudah lama, masuk ke public company baru sekitar tahun 2014. Dulu bisnis properti saya tidak masuk di perusahaan terbuka.

Itu tanah Jababeka yang di Serang, tanah PSP yang di Maja, tanah Lippo Karawaci, Kebayoran Regency yang sekarang jadi Graha Bintaro, terus yang di Gading Serpong, Summarecon Serpong, itu yang bebasin kami semua. Yang ada di depan Anda ini orang yang dari lulus sekolah kerjanya sudah seperti itu.

KONTAN: Anda belajar dari siapa?

BENNY: Dari bapak saya. Sebagian anggota timnya masih ada yang ikut saya. Sebagian besar memang sudah pensiun atau bahkan meninggal.

Ceritanya begini. Keluarga kami, Batik Keris, karena berbisnis batik maka butuh kain. Kami pun membuat pabrik tekstil. Pabrik tekstil selalu butuh tanah yang luas, karena mesinnya besar-besar dan pabriknya besar. Setiap kali mau ekspansi, harga tanah selalu naik. Hal ini bikin pusing. Akhirnya kami mencari cadangan tanah dulu, sehingga waktu mau ekspansi tidak diketok tetangga, dimintain harga tanah yang mahal.

Lama-lama cadangan tanahnya menjadi terlalu banyak, lalu kami mulai bingung mau diapakan. Kami pun lalu belajar membangun rumah. Setelah membangun rumah, lo kok untungnya malah lebih besar daripada dagang kain. Mulailah kerja real estat sampai sekarang. Itu terjadi karena perjalanan hidupnya seperti itu, ya terjadi begitu saja. Jadi tidak tiba-tiba juga.

KONTAN: Dahulu kenapa menjual lahan ke developer lain, seperti Jababeka, dan bukan membangunnya sendiri?

BENNY: Untungnya lebih cepat. Kami menghitungnya seperti ini. Betul, jika dibangun sendiri itu untungnya lebih gede, tapi butuh waktu lama.

Misalnya modal kita per m2 Rp 50.000, kalau kami bangun sendiri, waktu itu kami bisa jual menjadi Rp 300.000. Dari modal Rp 50.000 lalu dijual Rp 300.000 memang untung, tetapi waktunya lama. Tanah kami luasnya ratusan hektare, sekali launching paling hanya habis 5 ha atau 10 ha. Butuh berapa tahun untuk menghabiskan seluruh cadangan lahan?

Ya akhirnya kalau ada developer yang butuh, asal bisa kasih kami untung, ya kami kasih. Mereka memang tidak memberi kami Rp 300.000, tapi meski hanya Rp 100.000, ya kalkulator kami juga lalu berhitung. Untung enam kali lipat, tapi butuh waktu 10 tahun atau untung hanya selipat, tetapi sekarang.

Godaan itu yang besar. Makanya saya putuskan jual saja sekarang, dapat untung lebih cepat, untuk kemudian cari tanah lagi. Menclok-menclok, habis jual tanah, cari tanah lagi.

Reporter: Dian Sari Pertiwi, Thomas Hadiwinata, Yuwono Triatmodjo
Editor: Yuwono triatmojo

Baca juga