Sayang Konglomerat

Jumat, 13 Februari 2026 | 06:10 WIB
Sayang Konglomerat
[ILUSTRASI. Adi Wikanto (KONTAN/Indra Surya)]
Adi Wikanto | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tanpa sosialisasi dan kajian terbuka, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan menurunkan target penerimaan pajak dari kelompok wajib pajak besar pada 2026. Melalui Kanwil LTO, target pajak dari para konglomerat tersebut dipatok Rp 688,7 triliun—turun 6,26% dari 2025 yang sebesar Rp 734,71 triliun. 

Padahal, kontribusi LTO tetap krusial karena menyumbang 29,21% dari target pajak nasional tahun ini sebesar Rp 2.357,7 triliun. Selain itu, kebijakan ini keluar setelah lima konglomerat dan 22 pengusaha besar bertemu Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, 9 & 10 Februari 2026. 

Kontrasnya absurd! Saat konglomerat mendapat kelonggaran fiskal biar "lega", sebagian kalangan menengah semakin terhimpit dengan beban pajak yang makin berat. Di Jawa Tengah, warga mengeluhkan pajak kendaraan bermotor yang naik lebih dari 30% karena pemberlakuan opsen pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nomor kendaraan bermotor (BBNKB).

Salah satu kasus yang terjadi, pajak mobil yang biasanya hanya Rp 2,1 juta naik menjadi Rp 2,8 juta. Kasus lainnya, pajak mobil tahun 2025 hanya Rp 3,5 juta, tapi pada 2026 ini menjadi Rp 6 juta. 

Pajak pada dasarnya adalah instrumen redistribusi. Ketika kelompok berkapasitas besar diberi kelonggaran, beban fiskal tak serta-merta hilang. Ia bergeser. Dan yang paling mungkin menanggung pergeseran itu adalah kelompok menengah dan masyarakat luas yang gajinya setara UMR hingga UMR dikali 10 melalui pajak konsumsi seperti PPN, cukai, dan pungutan tidak langsung lain yang sifatnya regresif. 

Di lapangan, realitas sosial berkata lain. Ada anak SD di Nusa Tenggara Timur yang bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan pena. Ada siswa yatim piatu siswa kelas 12 SMAN 1 Halongonan, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) yang meninggal karena tak sanggup membeli obat tumor di kepalanya. 

Ketika konglomerat mendapat ruang napas fiskal, masyarakat miskin justru tercekik oleh kebutuhan dasar yang tak terpenuhi. Di sinilah kebijakan pajak kehilangan ruh keadilannya. Negara seharusnya hadir paling kuat di sisi mereka yang paling lemah, bukan sebaliknya melonggarkan kewajiban mereka yang paling mampu.

Menurunkan target pajak dari konglomerat di tengah kebutuhan belanja negara yang besar bukan hanya soal angka, tetapi soal keberpihakan. Dan keberpihakan itu, hari ini, terasa makin kabur karena pemerintah lebih sayang konglomerat. 

Selanjutnya: Imlek dan Puasa Jadi Katalis Positif Kinerja Sido Muncul

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Stok Kedelai Diproyeksikan Aman Hingga Akhir Maret Tahun Ini
| Jumat, 13 Februari 2026 | 07:56 WIB

Stok Kedelai Diproyeksikan Aman Hingga Akhir Maret Tahun Ini

Berdasarkan neraca pangan hingga akhir Maret 2026, ketersediaan kedelai nasional tercatat sekitar 629.000 ton,

Eastparc Hotel (EAST) Menargetkan Okupansi 80%
| Jumat, 13 Februari 2026 | 07:46 WIB

Eastparc Hotel (EAST) Menargetkan Okupansi 80%

EASTmasih menargetkan segmen meetings, incentives, conferences/conventions and exhibiton (MICE) atau pertemuan atau acara di hotel pada tahun ini.

Peluang Terbuka dari Bisnis Keamanan Siber
| Jumat, 13 Februari 2026 | 07:38 WIB

Peluang Terbuka dari Bisnis Keamanan Siber

Hingga saat ini, penipuan dokumen digital terbanyak adalah jenis lowongan pekerjaan, diikuti dengan maraknya penipuan transaksi invoice

ESDM Ajukan Tambahan Proyek Hilirisasi
| Jumat, 13 Februari 2026 | 07:33 WIB

ESDM Ajukan Tambahan Proyek Hilirisasi

Danantara) telah resmi melaksanakan groundbreaking fase pertama atau peletakan batu pertama atas enam proyek hilirisasi yang terletak di 13 lokasi

Untung Rugi Impor Energi US$ 15 Miliar dari AS
| Jumat, 13 Februari 2026 | 07:28 WIB

Untung Rugi Impor Energi US$ 15 Miliar dari AS

Pertamina siap menjalankan mandat dari pemerintah untuk mengimpor energi dari AS untuk mendukung ketahanan energi

Sumber Global Energy (SGER) Ekspansi ke Pasar Bangladesh
| Jumat, 13 Februari 2026 | 07:25 WIB

Sumber Global Energy (SGER) Ekspansi ke Pasar Bangladesh

Sumber Global Energy akan mengirim produk batubara yang digunakan untuk sektor pembangkit listrik di Bangladesh 

Jemaah Haji Didorong Gunakan QRIS di Arab Saudi
| Jumat, 13 Februari 2026 | 07:22 WIB

Jemaah Haji Didorong Gunakan QRIS di Arab Saudi

Setiap musim haji, perputaran uang mencapai Rp 40 triliun, dan sebanyak 80% merupakan cash outflow  

Tarik Ulur Pencabutan Izin Tambang Martabe
| Jumat, 13 Februari 2026 | 07:20 WIB

Tarik Ulur Pencabutan Izin Tambang Martabe

Pemerintah membuka peluang untuk memulihkan izin pertambangan emas Martabe jika hasil evaluasi tidak ada pelanggaran lingkungan

Janji Perbaiki Iklim Bisnis Dalam Negeri
| Jumat, 13 Februari 2026 | 07:13 WIB

Janji Perbaiki Iklim Bisnis Dalam Negeri

Perbaikan iklim bisnis di dalam negeri salah satunya dilakukan melalui sinkronisasi data, aturan, serta fakta di lapangan

Gali Lubang Tutup  Lubang Semakin Dalam
| Jumat, 13 Februari 2026 | 07:08 WIB

Gali Lubang Tutup Lubang Semakin Dalam

Target defisit keseimbangan primer dalam APBN 2026 lebih tinggi dibanding target tahun lalu         

INDEKS BERITA

Terpopuler