Hanya Rp 10.000 selama 30 hari untuk berita pilihan, independen, dan inspiratif Berlangganan Sekarang
Berita HOME

Benny Tjokrosaputro: Saya Sempat Dimarahi Bapak karena Main Saham

Kamis, 14 Februari 2019 | 13:32 WIB
Benny Tjokrosaputro: Saya Sempat Dimarahi Bapak karena Main Saham

ILUSTRASI.

KONTAN: Apa visi Anda untuk Hanson yang memiliki lahan luas di Maja?      

BENNY: Harus menjadi kota. Kami tipikal developer yang create value, bukan yang petak lari. Petak lari itu semisal membangun lahan seluas 10 ha, dipetak-petakin dijual, dan terus ditinggal pergi. Biasanya real estat yang seperti itu berantakan karena sudah tidak dirawat.

Developer juga kenapa harus merawat karena lahan sudah habis, menghabiskan ongkos, lebih baik, ya. ditinggal pergi. Kalau sudah seperti itu, biasanya real estatnya jadi kumuh atau minimal tidak berkembang.

Tapi kalau real estat yang punya lahan besar, semisal 500 ha, 1.000 ha atau 2.000 ha, developernya kan tidak pergi-pergi karena dia bangun jual bisa memakan waktu bertahun-tahun, belasan tahun atau bahkan puluhan tahun.

Nah, real estat seperti ini butuh komitmen, namun create value-nya juga lebih tinggi. Karena developernya tidak yang habis jual lalu pergi, dia akan berusaha untuk bisa lebih baik lagi, dan lebih baik lagi.

Pada awalnya kami jual rumah murah. Namun pada akhirnya kami juga menjual rumah kelas menengah, kelas atas, komersial. Bahkan kalau tanahnya sudah sangat mahal, kami juga bikin apartemen, mal, hotel. Itu yang namanya create value.

Seperti misalnya kami punya real estat keluarga di Solo, yaitu Solo Baru. Itu merupakan real estat modern pertama di Indonesia. Umurnya seumuran kawasan Pluit. Karena lahannya besar, 400 ha, otomatis kami tidak mungkin langsung bangun semua. Kami mulai dari menjual rumah murah terlebih dahulu. Sekarang, harga tanah di jalan Solo Baru sudah lebih mahal dari harga tanah di kota Solo.

Solo Baru itu dibangun sekitar 30 tahun yang lalu. Saat saya masih SMA.

KONTAN: Sekarang Anda masih aktif cari lahan-lahan baru?

BENNY: Iya. Saya diajari ayah saya hal yang tidak pernah salah. Dia mengajari saya untuk membeli tanah yang akan naik kelas. Semisal ada tanah ladang yang tandus, tetapi dekat dengan rencana pembangunan stasiun, jalan tol, pelabuhan, maka tanah itu kelak akan naik kelas menjadi kawasan properti bahkan komersial. Itu dari tanah yang awalnya cuma ladang.

Tanah yang naik kelas, tidak mungkin tidak untung. Di manapun harga rumah atau toko pasti lebih mahal dari tanah ladang atau sawah. Saya pun kemudian mengumpulkan tanah di Serpong hingga Maja, yang hampir semuanya ada di mulut mulut stasiun.

Kereta api bagusnya baru belakangan ini. Bapak saya sudah mengarahkan saya, tidak usah ikut-ikut mencari tanah di pinggir jalan tol, yang akhirnya harganya malah cenderung kelewat mahal. Kami beda sendiri, kami mencari tanah di pinggir stasiun kereta api.

Itu tahun 1990-an bapak saya sudah mengajari saya seperti itu. Otak bapak saya terlalu cepat. Padahal kereta api baru bagus lima tahun terakhir. Kalau bagusnya sudah dari tahun 1990-an mungkin kami sudah lebih makmur. Kereta api dulu jelek sekali, dan baru bagus lima atau enam tahun terakhir. Jadi booming properti dekat stasiun kereta api, ya baru akhir-akhir ini saja.

KONTAN: Anda melihat masih ada kemungkinan untuk mencari landbank yang besar di dekat Jakarta?

BENNY: Sulit. Makanya kami sudah tidak pernah dagang tanah lagi, karena saat ini jualnya gampang, belinya susah.

KONTAN: Jadi Anda saat ini lebih banyak bermain di tanah ketimbang di bursa?

BENNY: Tergantung Anda melihatnya dari mana. Tapi basic, tulang punggungnya ya dari punya banyak landbank.

Dulu banyak orang yang menganggap remeh pengadaan tanah. Dulu persepsi orang yang hebat itu yang bangun, bukan yang punya tanah.

Namun saya punya persepsi lain. Orang yang menguasai bahan baku, kok bisa kalah sama orang yang garap. Tuan tanah kok kalah sama tukang nyangkul. Dari zaman Adam Hawa, orang berperang karena rebutan tanah. Jadi saya berfikir, masa tuan tanah kalah kaya dengan yang nyangkul. Kalau kita ngomong logika, harusnya tuan tanahnya dong.

Sekarang terbukti, yang punya tanah lebih kuat daripada yang bangun. Kita bisa cari orang untuk membangun, cari kontraktor, cari arsitek, cari developer, jumlahnya ribuan. Tapi kalau kita mau cari tanah di Jakarta yang luasnya ribuan hektare, siapa yang punya?  Yang punya tanah ribuan ha di Jakarta ini, ya cuma segelintir orang saja.

Hampir setiap hari saya didatangi orang yang siap membangun tanah saya.Tidak di Maja saja, tetapi dimana-mana.

KONTAN: Adakah pengalaman paling tidak menyenangkan di bisnis tanah?

BENNY: Paling tidak enak ya saat kena krisis ekonomi 1998. Itu bisnis mati, benar-benar seperti tidak ada harganya. Yang beli tidak ada, dan saat itu hukum seperti tidak ada. Banyak penjarahan, kami capek sekali. Tanah sembarangan main patok, didudukin, penduduk liar, capek sekali waktu itu. Hukum saat itu tidak jelas.

KONTAN: Untuk menjaga agar tanah tidak didudukin?

BENNY: Ya kami jaga. Ratusan orang kami pakai untuk menjaga aset tanah.

Reporter: Dian Sari Pertiwi, Thomas Hadiwinata, Yuwono Triatmodjo
Editor: Yuwono triatmojo

Baca juga