Jangkar Emas

Senin, 16 Maret 2026 | 03:12 WIB
Jangkar Emas
[ILUSTRASI. TAJUK - Djumyati Partawidjaja (KONTAN/Indra Surya)]
Djumyati Partawidjaja | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam beberapa hari ini, banyak orang mungkin akan sibuk mempersiapkan perjalanan mudik, setelah beberapa minggu sebelumnya tiket war, dan hunting diskon. Perayaan Lebaran dan libur panjang memang sudah di depan mata. Tapi di tengah antusiasme semuanya, saya melihat ada "bom waktu ekonomi" yang siap meledak kapan saja. 

Dalam beberapa hari terakhir muncul pola-pola yang sangat mengkhawatirkan. Salah satunya adalah batas defisit anggaran 3% dari PDB siap dibongkar untuk menembus 3% bahkan menembus 4%. Konflik di Timur Tengah yang membuat harga minyak dunia terus membubung menjadi alasan utama untuk membongkarnya.

Mungkin masih banyak yang memandang enteng defisit anggaran yang melampaui 3%. Toh masih ada banyak negara lain yang mempunyai utang jauh melebihi utang Indonesia. "Jangkar emas" stabilitas keuangan negeri ini lahir dari trauma krisis dan dituangkan dalam UU No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Batas ini bukan sekadar angka teknis, melainkan simbol disiplin yang telah meyakinkan pasar global, bahwa Indonesia adalah negara yang bertanggung jawab secara fiskal. 

Selama 2 dekade aturan 3% ini baru bobol di saat pandemi Covid mengamuk. Waktu itu semua aktivitas ekonomi memang mangkrak, dan biaya besar dibutuhkan untuk mengatasi Covid. Dan semua orang sepakat untuk menaikkan batas defisit ini, karena keselamatan warga jauh lebih penting dari semuanya. Tapi sekarang ini kondisinya agak berbeda.

Pemerintah menghitung setiap kenaikan harga minyak US$ 1 per barel menambah beban defisit Rp 6,8 triliun. Tak ada yang tahu berapa lama konflik ini akan berlangsung dan sampai berapa harga minyak dunia akan melambung. Pemerintah hanya membuat beberapa skenario, di skenario paling pesimis dengan harga minyak US$ 115 per barel, akan terjadi defisit 4,06%.

Celakanya di tengah kondisi krisis seperti ini, pemerintah masih mempertahankan program-program mercusuar berbiaya raksasa seperti Makan Bergizi Gratis yang menelan biaya Rp 335 triliun. Menteri Keuangan sekarang memang lebih agresif mengejar pertumbuhan, tidak lagi banyak mempertimbangkan prinsip kehati-hatian.

Lembaga pemeringkat seperti Moody’s dan Fitch sudah menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif dari stabil. Dalam waktu dekat, S&P juga akan mengumumkan evaluasi rating-nya. Tentu saja kita semua berharap tidak ada perubahan rating dan prospek Indonesia. Tapi melihat respons dari pemerintah terhadap ancaman defisit ini, entah bagaimana harapan ini bisa terwujud.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Asing Masih Lepas ASII, Pemulihan Otomotif Belum Cukup
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Asing Masih Lepas ASII, Pemulihan Otomotif Belum Cukup

Ketidakpastian hasil review MSCI serta transparansi tata kelola pasar modal menjadi faktor yang ikut mendorong arus net sell asingdari big caps.

Profitabilitas Emiten Cenderung Melandai dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:30 WIB

Profitabilitas Emiten Cenderung Melandai dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo

Investor tampaknya lebih banyak mem-pricing risiko persepsi, ketidakpastian kebijakan pemerintah, dan persoalan kelembagaan.

Negara Kaji Pengecualian Pajak Bagi EGR
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:37 WIB

Negara Kaji Pengecualian Pajak Bagi EGR

Pembahasan mengenai perlakuan PPN dan PPh atas transaksi EGR telah dilakukan bersama Kementerian Keuangan

Mazda Hingga CoreWeave Disebut Antre Masuk Indonesia, Cermati BEST, DMAS, atau KIJA?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:34 WIB

Mazda Hingga CoreWeave Disebut Antre Masuk Indonesia, Cermati BEST, DMAS, atau KIJA?

Peningkatan investasi asing tidak serta-merta bertranslasi ke kenaikan harga saham emiten kawasan industri.

Optimisme Terkikis, Konsumsi Makin Tipis
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:28 WIB

Optimisme Terkikis, Konsumsi Makin Tipis

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menurun selama tiga bulan berturut-turut                            

Ujian Independensi BI di Bawah Nahkoda Baru
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:11 WIB

Ujian Independensi BI di Bawah Nahkoda Baru

Destru Damayanti menjadi calon tunggal Gubernur Bank Indonesia menggantikan Perry Warjiyo           

 Digencet Depresiasi Rupiah Prospek Emiten Farmasi Masih bisa Cerah, KLBF atau SIDO?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:03 WIB

Digencet Depresiasi Rupiah Prospek Emiten Farmasi Masih bisa Cerah, KLBF atau SIDO?

Sektor farmasi memiliki karakter defensif karena kebutuhan terhadap obat dan produk kesehatan bertahan di berbagai kondisi ekonomi.

Bursa Efek Indonesia Mengejar Pendalaman Pasar
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:42 WIB

Bursa Efek Indonesia Mengejar Pendalaman Pasar

Ekspansi pengembangan produk yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap harus mampu menjawab kebutuhan investor

Penjualan Masih Kuat, Laba Bersih ULTJ Semester Pertama Melonjak 73,7%
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:38 WIB

Penjualan Masih Kuat, Laba Bersih ULTJ Semester Pertama Melonjak 73,7%

Penjualan  PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) mencapai Rp 5,49 triliun, naik 34,6% year-on-year (yoy)

Babak Baru Demutualisasi Bursa Efek Indonesia
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:35 WIB

Babak Baru Demutualisasi Bursa Efek Indonesia

OJK tengah melakukan finalisasi aturan demutualisasi, Danantara siap masuk menjadi pemegang saham BEI

INDEKS BERITA

Terpopuler