Berdikari

Jumat, 15 November 2024 | 06:15 WIB
Berdikari
[ILUSTRASI. TAJUK - Djumyati Partawidjaja]
Djumyati Partawidjaja | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konsep negara berdikari pertama kali diucapkan Presiden Soekarno di pidatonya 17 Agustus 1965. Baru 20 tahun merdeka, presiden pertama kita menggelorakan cita-cita negeri mandiri dalam ekonomi, politik, dan budaya. 

Sayangnya hampir tiga dekade berlalu dan sampai presiden kita ke-delapan, cita-cita ini masih menjadi cita-cita. Kalau bicara masalah ekonomi saja, memang ada begitu banyak “belitan” masalah yang kita hadapi untuk mandiri.  

Sebut saja di pasar finansial, di mana pasar begitu terbuka dan para investor bebas keluar masuk dengan cepat. Pasar saham kita tidak akan pernah mampu untuk berdiri sendiri tanpa ditopang oleh para investor asing. Walau beberapa tahun ini, terutama di masa Covid, investor ritel domestik naik dengan lompatan yang luar biasa, investor asing tetap menjadi acuan.

Sebut saja isu bobot pasar modal Indonesia yang turun dalam indeks MSCI membuat pasar saham kita terus melorot.Tak heran beberapa minggu terakhir investor asing terus keluar dari pasar saham Indonesia. 

Memang para investor ritel yang biasanya investasinya mini-mini ini sering kali dalam posisi “terkalahkan”. Investor domestik sering ketinggalan informasi, apalagi analisis yang baik untuk para emiten yang sebenarnya ada di negerinya sendiri. Jadi tak heran kalau gerakan investor asing di pasar saham akan selalu diikuti para investor domestik.

Di sektor riil, masalahnya malah jauh lebih rumit. Seperti misalnya untuk ketahanan pangan, ada begitu banyak bahan pangan yang harus diimpor. Memang ada beberapa bahan pangan yang tidak bisa kita produksi sendiri karena tanamannya hanya tumbuh iklim sub tropis. Tapi menjadi aneh kalau kehidupan kita harus terus menerus bergantung pada komoditi yang tidak bisa kita produksi sendiri. Dan membiarkan para importir menikmati keuntungan, tanpa usaha membangun agribisnis di negeri ini.  

Para pejabat kita banyak bicara mengenai swasembada beras, yang memang menjadi bahan makanan pokok di negeri ini. Sayangnya kebutuhan pangan kita bukan hanya beras. Ada banyak komoditi lain yang tidak pernah terkelola dengan baik. Para petani, peternak, dan nelayan kita butuh untuk bisa dinaikkan derajat pendidikan dan kehidupannya.

Membela mereka tidak bisa dengan menghapuskan jejak utang macetnya. Tapi sebaiknya pemerintah menciptakan iklim dan ekosistem usaha yang menunjang para pengusaha UMKM.

Bagikan

Berita Terbaru

Anomali Pergerakan Saham BRIS, Diprediksi Nafasnya Kuat Hingga Tembus 3.000
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 13:00 WIB

Anomali Pergerakan Saham BRIS, Diprediksi Nafasnya Kuat Hingga Tembus 3.000

Saham Bank Syariah Indonesia (BRIS) naik 5,78% dalam sepekan melebihi kinerja IHSG yang turun -4,47%, efek euforia pasca spin off dari BMRI.

PTPP dan Anak Usaha WIKA Digugat PKPU, Begini Kata Manajemen
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 11:00 WIB

PTPP dan Anak Usaha WIKA Digugat PKPU, Begini Kata Manajemen

WIKON diajukan PKPU oleh PT Pratama Widya Tbk (PTPW), sedangkan PTPP diajukan PKPU oleh PT Sinergi Karya Sejahtera.

 Penonaktifan PBI JK Merugikan Rakyat Miskin
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:00 WIB

Penonaktifan PBI JK Merugikan Rakyat Miskin

BPJS Kesehatan tidak memiliki kewenangan menonaktifkan kepesertaan PBI JK karena menjadi kewenangan Kemensos

Danantara Hilirisasi US$ 7 Miliar, Duet Emiten Mind Id, ANTM dan PTBA Ketiban Berkah
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:58 WIB

Danantara Hilirisasi US$ 7 Miliar, Duet Emiten Mind Id, ANTM dan PTBA Ketiban Berkah

Danantara melaksanakan groundbreaking enam proyek hilirisasi di 13 lokasi di Indonesia. Total nilai mencapai US$ 7 miliar. 

 Revolusi Melalui Teladan
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:56 WIB

Revolusi Melalui Teladan

Perjalanan karier Joao Angelo De Sousa Mota dari dunia konstruksi ke pertanian, hingga menjadi Dirut Agrinas

Waspada Potensi Lonjakan Biaya Utang Jangka Pendek
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:37 WIB

Waspada Potensi Lonjakan Biaya Utang Jangka Pendek

Jika pemangkasan outlook membuat tekanan terhadap pasar SBN berlanjut dan mempengaruhi nilai tukar rupiah, maka imbal hasil berisiko naik

Cadangan Devisa Amblas Terseret Depresiasi Rupiah
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:28 WIB

Cadangan Devisa Amblas Terseret Depresiasi Rupiah

Penerbitan global bond oleh pemerintah belum mampu menyokong cadangan devisa Indonesia              

Prospek Industri Multifinance Diprediksi Lebih Cerah
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:25 WIB

Prospek Industri Multifinance Diprediksi Lebih Cerah

Prospek industri multifinance diperkirakan akan lebih cerah tahun ini setelah tertekan pada 2025.​ Piutang pembiayaan diprediksi tumbuh 6%-8%

Mewaspadai Risiko Gugatan Iklim
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:05 WIB

Mewaspadai Risiko Gugatan Iklim

Ilmu pengetahuan kini sudah bisa menjadi penghubung antara adanya emisi gas rumah kaca dan bencana alam.

Nasib Kripto 2026: Level Krusial Ini Tentukan Arah Harga Bitcoin
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:00 WIB

Nasib Kripto 2026: Level Krusial Ini Tentukan Arah Harga Bitcoin

Bitcoin anjlok lebih dari 50% dari ATH, Ethereum senasib. Pahami risiko likuidasi massal dan hindari kerugian lebih parah.

INDEKS BERITA

Terpopuler