Beri Testimoni di Depan Kongres AS, Whistleblower Minta Facebook Dikekang

Selasa, 05 Oktober 2021 | 13:07 WIB
Beri Testimoni di Depan Kongres AS, Whistleblower Minta Facebook Dikekang
[ILUSTRASI. Ilustrasi logo Facebook dan padlock, 4 Mei 2021. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID -  WASHINGTON. Mantan karyawan dan pelapor Facebook Frances Hauge, Selasa (5/10), akan meminta Kongres AS untuk mengatur raksasa media sosial tersebut. Dalam naskah testimoni yang sudah disiapkan, dan dibaca Reuters, Hauge menyamakan Facebook dengan perusahaan tembakau, yang selama beberapa dekade menyangkal bahwa merokok merusak kesehatan.

“Ketika manusia menyadari perusahaan tembakau menyembunyikan bahaya yang ditimbulka produknya, pemerintah mengambil tindakan. Ketika kami menemukan mobil lebih aman dengan sabuk pengaman, pemerintah mengambil tindakan,” demikian testimoni tertulis yang akan dibacakan Haugen di depan subkomite Senat Perdagangan. "Saya mohon Anda melakukan hal yang sama dengan Facebook.”

Haugen akan memberi tahu panel bahwa eksekutif Facebook secara teratur memilih keuntungan daripada keamanan pengguna.

faBaca Juga: Jangan gunakan GB WhatsApp atau mod, akun Anda akan terancam diblokir permanen!

“Para pimpinan perusahaan tahu cara untuk membuat Facebook dan Instagram lebih aman, namun mereka tidak akan membuat perubahan yang diperlukan karena mereka mengutamakan keuntungan besar mereka di atas rakyat. Karena itu, tindakan kongres diperlukan,” ujar dia.

“Selama beroperasi dalam kegelapan, Facebook tidak bertanggung jawab kepada siapa pun. Dan itu akan terus membuat pilihan yang bertentangan dengan kebaikan bersama."

Senator Amy Klobuchar, salah satu anggota subkomite, berniat mencari informasi dari Haugen tentang penyerangan  pendukung Presiden AS saat itu, Donald Trump, ke US Capitol.

Baca Juga: Windows 11 resmi meluncur hari ini di seluruh dunia! Berikut fitur dan spesifikasinya

“Saya tertarik untuk mendengar dari dia tentang apakah dia pikir Facebook telah melakukan cukup upaya untuk memperingatkan penegakan hukum dan publik sekitar 6 Januari. Dan apakah Facebook, karena alasan finansial, menghapus upaya pencegahan penyebaran informasi yang keliru seputar pemilihan AS,” kata Klobuchar dalam komentar email.

Senator juga mengatakan bahwa dia ingin mendiskusikan algoritma Facebook, untuk mencari tahu apakah algoritma itu "mempromosikan konten yang berbahaya dan memecah belah."

Haugen, yang bekerja sebagai manajer produk di tim misinformasi sipil Facebook, adalah whistleblower yang memberikan dokumen yang digunakan dalam pemberitaan Wall Street Journal (WSJ) sekaligus bahan sidang Senat tentang bahaya Instagram terhadap gadis remaja.

Facebook yang memiliki Instagram sekaligus WhatsApp, tidak menanggapi permintaan komentar.

Haugen menambahkan, desain tertutup Facebook berarti tidak ada pengawasan. Bahkan Dewan Pengawas Facebook sama butanya dengan publik." Dalam situasi semacam ini, mustahil bagi regulator untuk menjadi pengawas.

“Ketidakmampuan untuk melihat ke dalam sistem Facebook yang sebenarnya dan memastikan bahwa sistem Facebook bekerja, seperti yang mereka katakan seperti Departemen Perhubungan mengatur mobil dengan melihat mereka berkendara di jalan raya,” demikian pernyataan dari kesaksian itu.

“Bayangkan jika tidak ada regulator yang bisa mengendarai mobil, memompa rodanya, menguji tabrakan mobil, atau bahkan mengetahui bahwa sabuk pengaman bisa ada.”

Baca Juga: Tumbang 6 jam, akhirnya Facebook, Instagram dan WhatsApp bisa diakses lagi

WSJ menerbitkan artikel berdasarkan presentasi dan email di internal Facebook, yang menunjukkan bahwa perusahaan berkontribusi terhadap peningkatan polarisasi online dengan mengubah algoritma kontennya. Facebook juga gagal mengambil langkah-langkah untuk mengurangi keraguan publik terhadap vaksin. Raksasa sosial media itu juga menyadari bahwa Instagram merugikan kesehatan mental remaja putri.

Haugen mengatakan Facebook telah berbuat terlalu sedikit untuk mencegah platformnya digunakan oleh orang-orang yang merencanakan kekerasan.

“Hasilnya adalah sistem yang memperkuat perpecahan, ekstremisme, dan polarisasi - dan melemahkan masyarakat di seluruh dunia. Dalam beberapa kasus, pembicaraan yang terjadi di dunia maya berujung ke aksi kekerasan yang nyata, dan bahkan menyebabkan orang terbunuh,” ujar dia.

Facebook digunakan oleh orang-orang yang merencanakan pembunuhan massal di Myanmar dan dalam serangan 6 Januari oleh pendukung Trump yang bertekad untuk membatalkan hasil pemilu 2020.

Selanjutnya: Cakupannya Terlalu Luas, UU Anti Intervensi Asing Milik Singapura Menuai Kecemasan

 

Bagikan

Berita Terbaru

Halo Jane (HALO) Bidik Pertumbuhan Dobel Digit
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:10 WIB

Halo Jane (HALO) Bidik Pertumbuhan Dobel Digit

Manajemen HALO menjalankan strategi efisiensi biaya secara berkelanjutan, khususnya pada cost of production

Wintermar (WINS) Terus Mengembangkan Layar Bisnis
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:02 WIB

Wintermar (WINS) Terus Mengembangkan Layar Bisnis

Namun, industri pelayaran selama tahun lalu masih menghadapi tekanan, terutama pada tingkat utilisasi dan harga sewa kapal.

WINS Optimalkan Pemulihan Permintaan Kapal dan Aktivitas Eksplorasi Energi
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:00 WIB

WINS Optimalkan Pemulihan Permintaan Kapal dan Aktivitas Eksplorasi Energi

PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) melihat prospek industri pelayaran offshore tahun ini semakin membaik.

Suku Bunga Turun, Harga Bitcoin Bisa Cetak Rekor Lagi
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 10:37 WIB

Suku Bunga Turun, Harga Bitcoin Bisa Cetak Rekor Lagi

Harga Bitcoin (BTC) sempat menembus US$ 97.000. Dalam sepekan, harga BTC mengakumulasi kenaikan 7,65%%.​

Kualitas Aset KUR Sejumlah Bank Terjaga di Level Baik
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 10:13 WIB

Kualitas Aset KUR Sejumlah Bank Terjaga di Level Baik

KUR tidak hanya berfungsi sebagai pembiayaan, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan UMKM untuk memperkuat daya saing.

Rahasia Bos Krom Bank, Wisaksana Djawi Hindari Jebakan Return Investasi Tinggi
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 09:16 WIB

Rahasia Bos Krom Bank, Wisaksana Djawi Hindari Jebakan Return Investasi Tinggi

Tanpa kesiapan mental dan pemahaman risiko, fluktuasi dan volatilitas harga bisa berujung pada kepanikan dan kerugian besar. 

Bonus atau Beban?
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 06:10 WIB

Bonus atau Beban?

Bila pemerintah gagal menciptakan lapangan kerja yang memadai, tenaga kerja produktif tidak bisa jadi bonus demografi.

Perpres Transportasi Online Menunggu Aksi Merger GOTO dan Grab
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 05:00 WIB

Perpres Transportasi Online Menunggu Aksi Merger GOTO dan Grab

Indikasi Peraturan Presiden soal transportasi online lebih condong menguntungkan para pengemudi online.

Rasio Pajak dan Cermin Keberanian Kekuasaan
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:32 WIB

Rasio Pajak dan Cermin Keberanian Kekuasaan

Negara yang besar bukan negara yang pandai membuat target, melainkan negara yang berani menagih tanggung jawab dari yang paling mampu.

Dugaan Rekayasa dan Skema Ponzi DSI
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:10 WIB

Dugaan Rekayasa dan Skema Ponzi DSI

DSI berhasil menghimpun dana masyarakat Rp 7,48 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 6,2 triliun sempat dibayarkan sebagai imbal hasil.

INDEKS BERITA

Terpopuler