Bertahan Tinggi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pesta kembang api telah usai, kalender di dinding sudah berganti jadi 2026. Tapi, beban di keranjang belanja ibu rumah tangga semakin berat. Harapan bahwa lonjakan harga pangan melandai seiring berakhirnya masa Nataru, ternyata pudar. Hingga pekan pertama Januari ini, harga cabai, beras, hingga telur ayam masih betah bertengger di level tertinggi.
Fenomena ini jadi sinyal bahaya bagi daya beli masyarakat. Kita tidak bisa lagi menerima alasan penyebab kenaikan harga pangan adalah anomali cuaca atau kenaikan permintaan musiman, seperti Nataru. Jika pola yang sama berulang setiap tahun tanpa ada mitigasi yang mumpuni, maka masalahnya bukan lagi pada alam, melainkan pada manajemen rantai pasok.
Setidaknya ada dua persoalan fundamental. Pertama, kegagalan memotong rantai distribusi. Dari petani hingga ke meja makan, komoditas pangan kita melewati berlapis-lapis perantara yang masing-masing mengambil margin keuntungan. Di sinilah letak ironinya: petani kita tidak bertambah kaya saat harga melonjak, sementara konsumen menjerit. Keuntungan besar menguap di distribusi.
Kedua, efektivitas operasi pasar yang dilakukan pemerintah seringkali terasa seperti memadamkan kebakaran hutan dengan seember air. Intervensi yang dilakukan bersifat reaktif, karena dilakukan ketika harga sudah terbang tinggi.
Kita harus jujur, tekanan harga pangan ini adalah ancaman nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Konsumsi rumah tangga adalah pilar utama ekonomi kita. Lihat saja, inflasi Desember 2025 jadi tertinggi tahun lalu, dan itu didorong kenaikan harga pangan. Jika sebagian besar pendapatan masyarakat tersedot untuk sekadar bertahan hidup dan mengisi piring nasi, jangan harap sektor lain bisa berlari kencang.
Pemerintah tidak boleh lagi sekadar memberi imbauan agar masyarakat maklum atau berhemat. Solusi konkret harus segera digelar. Digitalisasi rantai pasok jangan sekedar jargon, melainkan kebutuhan memonitor stok secara real-time dari lumbung ke pasar. Penguatan peran BUMD pangan di daerah juga harus dipacu agar mampu memotong rantai pasok.
Jangan biarkan masyarakat memulai tahun 2026 dengan rasa pahit di dapur. Urusan perut adalah urusan harga diri negara. Jika untuk urusan menyediakan beras dan cabai dengan harga terjangkau saja kita terus-menerus gagal, lantas apa gunanya segala narasi besar tentang transformasi ekonomi?
