Bitcoin Rally 24% Sepekan, Waspadai Koreksi di Akhir Agustus

Kamis, 27 Agustus 2026 | 10:00 WIB
Bitcoin Rally 24% Sepekan, Waspadai Koreksi di Akhir Agustus
[ILUSTRASI. CRYPTOCURRENCY (Romain Costaseca/Hans Lucas via Reuters)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.D - JAKARTA. Pergerakan harga bitcoin diperkirakan masih harus diperhatikan sebab akan rawan adanya aksi profit taking hingga akhir Agustus ini.

Pergerakan harga bitcoin pada Agustus ini, dinilai memiliki beberapa momen penguatannya terutama dalam sepekan terakhir. Seperti dikutip CoinDesk, bitcoin melonjak dari sekitar US$ 62.000 menjadi US$ 80.000 dalam sepekan terakhir per Rabu (26/8). Kenaikan tersebut menjadi reli mingguan terbesar kedua dalam lima tahun terakhir.

Sementara berdasarkan data CoinMarketCap per Senin (24/8), harga Bitcoin berada di kisaran US$ 79.000, menguat 3,72% dalam 24 jam dan melonjak sekitar 24,31% dalam sepekan.

Jika ditarik sejak 19 Agustus 2026, laju penguatan Bitcoin bahkan terlihat lebih signifikan. Saat itu, harga bitcoin masih berada di bawah US$ 64.000. Dalam hitungan hari, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar tersebut telah menembus US$ 79.000 dan sempat menyentuh sekitar US$ 81.272.

Baca Juga: Bitcoin Dibalap Altcoin di Juli, Pasar Kripto Masih Bertenaga di Agustus?

CEO sekaligus pendiri FLOQ Yudhono Rawis mengatakan bahwa penguatan yang menopang pergerakan bitcoin beberapa di antaranya berasal dari kebijakan Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) yang pada 19 Agustus 2026 lalu mengumumkan peningkatan operasi buyback obligasi jangka panjang menjadi US$ 4 miliar dari sebelumnya US$ 2 miliar per operasi mulai September.

Menurut dia, kebijakan tersebut dipersepsikan pasar sebagai sinyal bertambahnya likuiditas. Penurunan imbal hasil US Treasury akibat kebijakan tersebut turut memberikan ruang bagi aset berisiko, termasuk  itcoin, untuk menguat.

“Pasar membacanya sebagai sinyal ekspansi likuiditas, yang secara historis selalu direspons positif oleh BTC,” ujar Yudhono kepada KONTAN, Rabu (26/8).

Pendorong harga bitcoin juga terimbas dari dunia politik negeri Paman Sam, yaitu momen Presiden AS Donald Trump pada periode yang sama menjamu sejumlah eksekutif industri kripto di Gedung Putih dalam acara Crypto Summit yang isinya mendesak Kongres segera mengesahkan CLARITY Act, plus wacana potensi pembelian bitcoin untuk cadangan nasional AS.

Menurut Yudhono, perkembangan tersebut semakin memperkuat persepsi bahwa pemerintah AS masih memberikan dukungan terhadap industri aset kripto.

Selain faktor makro dan politik, mekanisme pasar derivatif turut mempercepat reli. Yudhono menyebut ketika bitcoin berhasil melewati area US$ 65.000-US$ 72.000, terjadi likuidasi besar-besaran terhadap posisi short.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Bea Masuk Plastik 0% Berlaku Enam Bulan, Ini Peluang dan Risiko Bagi Emiten di Hilir
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:00 WIB

Bea Masuk Plastik 0% Berlaku Enam Bulan, Ini Peluang dan Risiko Bagi Emiten di Hilir

Risiko pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga minyak, biaya pengiriman, dan gangguan pasokan global masih membayangi industri plastik.

Volatilitas Bitcoin Menurun, Harga Masih Dibayangi Inflasi AS dan Keputusan The Fed
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:00 WIB

Volatilitas Bitcoin Menurun, Harga Masih Dibayangi Inflasi AS dan Keputusan The Fed

Harga bitcoin diprediksi bergerak di US$ 75.000–US$ 100.000 hingga akhir 2026, dengan asumsi tidak terjadi guncangan besar pada ekonomi global.

Mengukur Kontribusi Ekonomi Syariah
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:11 WIB

Mengukur Kontribusi Ekonomi Syariah

Rantai nilai halal atau halal value chain disebut menyumbang sekitar 24,9% terhadap PDB nasional    

Tambah Modal Usaha, HRTA Siap Menggelar Private Placement
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:57 WIB

Tambah Modal Usaha, HRTA Siap Menggelar Private Placement

Untuk memuluskan aksi ini, manajemen HRTA akan minta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada Jumat (16/10). ​

Potensi Penerimaan dari Fasilitas Pajak Tak Banyak
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:57 WIB

Potensi Penerimaan dari Fasilitas Pajak Tak Banyak

Estimasi penerimaan pajak yang bisa masuk dari fasilitas ini hanya Rp 40,2 triliun​                 

BEI Tetapkan Harga Teoritis Rights Issue BUVA Rp 520 per Saham
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:52 WIB

BEI Tetapkan Harga Teoritis Rights Issue BUVA Rp 520 per Saham

Penetapan ini mengacu ke harga BUVA pada akhir cum di pasar reguler per 13 Oktober 2026 sebesar Rp 590 per saham.​

Saham ISAT Direkomendasikan Buy, Simak Target Harga dan Prospek Bisnis AI
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:48 WIB

Saham ISAT Direkomendasikan Buy, Simak Target Harga dan Prospek Bisnis AI

Fasilitas awal Zankore berkapasitas 100 MW dapat menghasilkan laba sebesar US$ 126 juta pada tahun pertama dan US$ 331 juta pada tahun kedua.

Penjualan Emiten Konsumer Berpeluang Naik, Tapi Margin Dibayangi Tekanan Bahan Baku
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:39 WIB

Penjualan Emiten Konsumer Berpeluang Naik, Tapi Margin Dibayangi Tekanan Bahan Baku

Tekanan biaya bahan baku dan daya beli membuat pertumbuhan pendapatan belum otomatis berujung pada kenaikan laba.

IHSG Masih Bergerak Fluktuatif
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:37 WIB

IHSG Masih Bergerak Fluktuatif

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif di tengah sentimen harga minyak yang masih tinggi

Pembatasan Gas Industri Ganggu Investasi
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:32 WIB

Pembatasan Gas Industri Ganggu Investasi

Pembatasan pasokan gas bumi mulai menekan aktivitas industri dalam negeri. Rencana ekspansi tertunda, ribuan pekerja berpotensi terdampak.

INDEKS BERITA

Terpopuler