Bitcoin Rally 24% Sepekan, Waspadai Koreksi di Akhir Agustus
KONTAN.CO.D - JAKARTA. Pergerakan harga bitcoin diperkirakan masih harus diperhatikan sebab akan rawan adanya aksi profit taking hingga akhir Agustus ini.
Pergerakan harga bitcoin pada Agustus ini, dinilai memiliki beberapa momen penguatannya terutama dalam sepekan terakhir. Seperti dikutip CoinDesk, bitcoin melonjak dari sekitar US$ 62.000 menjadi US$ 80.000 dalam sepekan terakhir per Rabu (26/8). Kenaikan tersebut menjadi reli mingguan terbesar kedua dalam lima tahun terakhir.
Sementara berdasarkan data CoinMarketCap per Senin (24/8), harga Bitcoin berada di kisaran US$ 79.000, menguat 3,72% dalam 24 jam dan melonjak sekitar 24,31% dalam sepekan.
Jika ditarik sejak 19 Agustus 2026, laju penguatan Bitcoin bahkan terlihat lebih signifikan. Saat itu, harga bitcoin masih berada di bawah US$ 64.000. Dalam hitungan hari, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar tersebut telah menembus US$ 79.000 dan sempat menyentuh sekitar US$ 81.272.
Baca Juga: Bitcoin Dibalap Altcoin di Juli, Pasar Kripto Masih Bertenaga di Agustus?
CEO sekaligus pendiri FLOQ Yudhono Rawis mengatakan bahwa penguatan yang menopang pergerakan bitcoin beberapa di antaranya berasal dari kebijakan Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) yang pada 19 Agustus 2026 lalu mengumumkan peningkatan operasi buyback obligasi jangka panjang menjadi US$ 4 miliar dari sebelumnya US$ 2 miliar per operasi mulai September.
Menurut dia, kebijakan tersebut dipersepsikan pasar sebagai sinyal bertambahnya likuiditas. Penurunan imbal hasil US Treasury akibat kebijakan tersebut turut memberikan ruang bagi aset berisiko, termasuk itcoin, untuk menguat.
“Pasar membacanya sebagai sinyal ekspansi likuiditas, yang secara historis selalu direspons positif oleh BTC,” ujar Yudhono kepada KONTAN, Rabu (26/8).
Pendorong harga bitcoin juga terimbas dari dunia politik negeri Paman Sam, yaitu momen Presiden AS Donald Trump pada periode yang sama menjamu sejumlah eksekutif industri kripto di Gedung Putih dalam acara Crypto Summit yang isinya mendesak Kongres segera mengesahkan CLARITY Act, plus wacana potensi pembelian bitcoin untuk cadangan nasional AS.
Menurut Yudhono, perkembangan tersebut semakin memperkuat persepsi bahwa pemerintah AS masih memberikan dukungan terhadap industri aset kripto.
Selain faktor makro dan politik, mekanisme pasar derivatif turut mempercepat reli. Yudhono menyebut ketika bitcoin berhasil melewati area US$ 65.000-US$ 72.000, terjadi likuidasi besar-besaran terhadap posisi short.
