BSI Tebar Maslahat Lewat ESG

Rabu, 26 Februari 2025 | 13:43 WIB
BSI Tebar Maslahat Lewat ESG
[ILUSTRASI. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mempersiapkan layanan optimal untuk calon jamaah haji yang akan melakukan pelunasan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) periode 1446 Hijriah.]
Reporter: Sanny Cicilia | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Setelah merger dari tiga bank menjadi satu di tahun 2021, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menjadi bank bernafas Islami terbesar di Tanah Air. Tak ingin berpuas diri, BSI pun bercita-cita menjadi top 3 bank syariah global.

Target tersebut diincar dalam sepuluh tahun ke depan. Maklum, dari sisi aset, masih jauh dari pesaing nomor 3.

Mengutip tabinsight, bank syariah global terbesar ketiga adalah Dubai Islamic Bank. Asetnya mencapai US$ 85,56 miliar atau Rp 1.397 triliun.

Sementara aset BSI pada akhir 2024 sebesar Rp 408 triliun. Posisinya ada di ranking 20 dunia. Meski begitu, posisi BSI sudah menanjak dari posisi sebelumnya ranking 23.

Biar punya nafas panjang, Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta bilang, BSI hadir di tengah masyarakat sebagai sahabat finansial, sosial, dan spiritual yang berprinsip 3P (people, planet, profit).

"Penerapan bisnis berkelanjutan perusahaan sejalan dengan penerapan prinsip lingkungan (environmental), sosial (social), tata kelola (governance) atau ESG," kata dia.

Prinsip ini diterapkan melalui tiga pilar BSI, yakni sustainable banking, sustainable operation, dan sustainable beyond banking. Mari tengok satu per satu pilar BSI ini.

Sustainable banking merupakan inisiatif ESG BSI yang dihadirkan dalam bisnis perbankan, seperti produk pembiayaan dan pendanaan. Lewat pilar ini, BSI sampai akhir 2024 menyalurkan pembiayaan berkelanjutan (KKUB) sebesar 66,5 triliun. Nilai ini tumbuh 15,3% dibanding 2023 lalu.

Komposisinya, pembiayaan hijau untuk kredit usaha berwawasan lingkungan (KUBL) sebesar Rp 14,1 triliun dan kredit usaha berwawasan sosial (KUBS) Rp 52,4 triliun.

Kata Bob, penyaluran green financing BSI pada 2024 didominasi sektor penggunaan lahan berkelanjutan, mencapai 48,78%, seperti pembiayaan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan (bersertifikat ISPO atau RSPO), dan sektor eco-efficient (penggunaan sumber daya yang menghasilkan sedikit polusi) seperti pembiayaan pulp papers dengan sumber kayu bersertifikat eco-label.

Pembiayaan hijau ini disusul sektor energi terbarukan, seperti pembiayaan pembangkit listrik tenaga panas bumi dan mikrohidro. Sektor lain yang dibiayai dalam green financing BSI adalah transportasi ramah lingkungan, usaha berwawasan lingkungan, dan bangunan berwawasan lingkungan.

Menurut Bob, pada 2025, pembiayaan berkelanjutan tumbuh positif. Sektor yang akan menjadi pendorong ialah pengelolaan SDA hayati dan penggunaan lahan berkelanjutan, serta energi terbarukan dan usaha yang eco-efficient.

Produk keuangan yang menjadi sumber pendanaan BSI yaitu penerbitan obligasi syariah atau sukuk senilai Rp 3 triliun pada pertengahan 2024 lalu. Porsi dananya, sebesar 41% untuk kredit berbasis lingkungan dan sisanya 59% untuk kegiatan usaha berbasis sosial.

Sukuk ini sempat kebanjiran peminat dengan oversubscribed hingga 300% atau mencapai Rp 9 triliun. Sukuk ini pun pun meraih penghargaan sebagai Best Mudharabah Sukuk in Southeast Asia 2024 di ajang 18th Annual Deal & Solution and ESG Award yang dihelat di Malaysia, 12 Februari 2025 lalu.

Dampak sosial dan lingkungan dari penerbitan ESG Sukuk adalah akses energi bersih melalui pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan jumlah penerima lebih dari 150.000 rumah, akses air bersih ke hampir 30.000 rumah, dan melayani setidaknya 100.000 orang.

 

Pedoman 3 Pilar

Bukan hanya menghijaukan portofolio banking, BSI berniat memangkas emisi karbon dari operasionalnya. Untuk mewujudkan sustainable operation ini, BSI di milad ke-4 Februari lalu meluncurkan Digital Carbon Tracking Initiative untuk memantau jejak karbon yang lebih akurat dan menyeluruh di semua jaringan kantor BSI, menggantikan sistem manual sebelumnya.

Dengan begitu, BSI bisa menyiapkan peta jalan untuk mendukung komitmen pencapaian net zero emission Indonesia di tahun 2060 mendatang.

Dalam upaya mengurangi jejak karbon, BSI juga melakukan berbagai inisiatif, termasuk penanaman 50.000 pohon yang mampu menyerap emisi 4.129 ton CO2e, serta pengelolaan 70 unit mesin reverse vending machine (RVM) untuk mendaur ulang sampah botol plastik, yang berkontribusi terhadap pengurangan 235 ton CO2e.

Tidak hanya itu, BSI terus memperkuat operasional berkelanjutan dengan membangun Green Building Landmark BSI Aceh, memasang panel surya di beberapa outlet, dan memulai konversi kendaraan operasional melalui penyediaan 139 kendaraan listrik (EV). Di pilar kedua ini, BSI juga terus memperbaiki kualitas perlindungan data dan privasi nasabah dan mendorong kesetaraan gender di antara insan pekerja.

Sedangkan pada pilar beyond banking, BSI lebih leluasa lagi memberi kontribusi terhadap kemaslahatan umat. Zakat sebesar Rp 268 miliar mengalir ke berbagai penerima manfaat di bidang ekonomi, pendidikan, kemanusiaan, kesehatan, dan dakwah sepanjang 2024.

Jelang Ramadan tahun ini, BSI akan lebih fokus pada sektor dakwah dan advokasi. Yakni, santunan yatim piatu, pemberdayaan UMKM naik kelas lewat zakat, dan mudik gratis bagi difabel dan mustahik.

Berbagai langkah implementasi BSI dalam menunjukkan komitmen net zero emission tersebut mengerek peringkat ESG dalam Bloomberg ESG Score ke level 3.86 dari sebelumnya 2.24, dan masuk ke dalam kategori leading.

Dari capaian itu, BSI menduduki peringkat 4 di tingkat nasional untuk bank umum, bahkan di tingkat internasional untuk bank syariah global setelah MBSB BHD, Abu Dhabi Islamic, dan Qatar Islamic Bank.

"Sejak didirikan pada Februari 2021 lalu, BSI terus melaksanakan komitmennya dalam memberikan kemaslahatan kepada masyarakat dan lingkungan melalui implementasi ESG demi mewujudkan pertumbuhan dan pembangunan berkelanjutan," ujar Bob.

 

Bisnis emas

Di 2025, BSI sudah menyiapkan pedoman pertumbuhan. Jika pada 2024, pembiayaan BSI tumbuh 15,8% menjadi Rp 278,48 triliun. Targetnya, tahun ini tumbuh 14%-16%.

Lalu, biaya kredit ditargetkan tetap berada di bawah 1%. Tahun lalu, rasio cost of credit BSI sudah di 0,83%. Sedangkan margin bunga (NIM) ditargetkan ada di kisaran 5,5%-5,9% dari sebelumnya 5,63%.

BSI cukup yakin bisa mencapai target-target tersebut. Tahun ini, Bob membeberkan, BSI lebih fokus memperkuat bisnis transaction banking dan membuka peluang lebih lebar di bisnis yang menjanjikan, seperti emas, tabungan haji, bancassurance, serta tresuri.

Memperkuat infrastruktur transaction banking, November 2024 lalu, BSI meluncurkan aplikasi BYOND by BSI. Perusahaan juga memperbanyak mesin ATM/CRM, EDC, BSI Agent, serta merchant QRIS. Memang, aplikasi BYOND sempat ramai lantaran error pada 9-10 Februari lalu. Untuk itu, manajemen mengatakan, tengah melakukan optimalisasi sistem dan memastikan dana masyarakat tetap aman.

BSI juga yakin diuntungkan oleh bisnis yang hanya ada di ekosistem syariah, yaitu tabungan haji dan bisnis emas. Ditambah dengan penguatan digital, kedua bisnis ini menjaga pertumbuhan dana dan pembiayaan tahun lalu, meski dibayangi ketatnya likuiditas dan ketidakpastian ekonomi.

Didorong platform digital, BSI mencatatkan tren kenaikan jumlah nasabah tabungan haji menjadi 5,6 juta nasabah pada akhir 2024, dengan saldo total mencapai Rp 14,5 triliun.

Bisnis emas BSI tak kalah berkilau. Hingga Desember 2024, bisnis emas di BSI mencapai Rp 12,82 triliun, tumbuh 78,18%. Bisnis ini ditopang oleh produk cicil emas yang melesat 177,42% menjadi Rp 6,40 triliun dan produk gadai emas yang naik 31,33% menjadi Rp 6,42 triliun. Basis nasabah bisnis emas juga berkembang, dengan nasabah gadai emas bertumbuh 11% dan nasabah cicil emas naik mencapai 81%.

Potensi bisnis emas bisa lebih besar lagi lantaran BSI sudah mengantongi izin sebagai bank bullion pada Februari ini. Lewat bisnis ini, nasabah bisa lebih banyak menikmati fasilitas emas, seperti titip emas, menabung emas, atau menjualnya kembali kepada BSI.

"Sebagai bank bullion, BSI mampu memacu pertumbuhan bisnis logam mulia secara berkelanjutan, sehingga inklusi masyarakat untuk berinvestasi emas sesuai dengan maqashid syariah akan terus meningkat," ungkap Bob.

Bisnis emas BSI didorong tren investasi emas yang terus meningkat karena merupakan safe haven. Selain itu, harga emas terjaga dan naik sampai 32% pada tahun lalu.

Dengan kinerja yang optimal, BSI bakal memberikan kemanfaatan yang luas melalui komitmen penyaluran zakat mereka yang berkelanjutan.

"Sejalan dengan komitmen 3P, yakni people, planet, profit. Ke depan, BSI terus menghadirkan inovasi produk berkelanjutan yang bisa membawa manfaat bagi nasabah, masyarakat dan lingkungan," kata Bob.

Analis MNC Sekuritas Victoria Venny merekomendasikan saham BRIS karena berbagai alasan. Antara lain, perusahaan berkelanjutan menghasilkan pertumbuhan bisnis yang solid di tahun 2024 lalu.

BSI pada akhir 2024 mencatatkan laba mencapai Rp 7,01 triliun, tumbuh 22,83% dibanding realisasi 2023. Pembiayaan membaik dengan NPF gross yang turun ke bawah 2%.

Victoria menilai, dengan pertumbuhan bisnis yang di atas rata-rata perbankan, BRIS bisa menjaga NIM yang cukup tinggi hingga 5,9%. Sementara bisnis bullion bank dianggap bisa mendorong sumber pertumbuhan baru di tahun 2025.

Victoria pun merekomendasikan beli saham BRIS dengan target harga Rp 3.500. Pada Rabu (26/2), harga BRIS ada di Rp 2.900 per saham.

Siap koleksi BRIS?

Bagikan

Berita Terbaru

Rumor Dual Listing AMMN di Hong Kong Mencuat, Agoes Projosasmito: Belum Ada Rencana
| Senin, 13 Juli 2026 | 11:30 WIB

Rumor Dual Listing AMMN di Hong Kong Mencuat, Agoes Projosasmito: Belum Ada Rencana

PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) lebih dulu menggelar dual listing di Papan Utama HKEX dan melantai pada 26 Juni 2026.

Menakar Efek Mandatori Bioetanol E20 Terhadap Emiten Produsen Etanol
| Senin, 13 Juli 2026 | 10:30 WIB

Menakar Efek Mandatori Bioetanol E20 Terhadap Emiten Produsen Etanol

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa pada tahun depan program mandatori bioetanol E20 akan berlaku. 

Smelter HPAL SLNC Bakal Beroperasi, Prospek MDKA Makin Berseri
| Senin, 13 Juli 2026 | 09:30 WIB

Smelter HPAL SLNC Bakal Beroperasi, Prospek MDKA Makin Berseri

Salah satu katalis positif bagi MDKA berasal dari akan beroperasinya smelter HPAL milik PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC).

Biaya Energi Menyusut, Margin Emiten Tambang Mineral Bisa Pulih
| Senin, 13 Juli 2026 | 09:18 WIB

Biaya Energi Menyusut, Margin Emiten Tambang Mineral Bisa Pulih

Biaya energi turun, profitabilitas emiten tambang diprediksi membaik di paruh kedua 2026. AMMN dan INCO paling sensitif terhadap perubahan ini.

Penguatan Dolar Amerika Masih Menekan Mata Uang Asia
| Senin, 13 Juli 2026 | 08:45 WIB

Penguatan Dolar Amerika Masih Menekan Mata Uang Asia

Rupiah melemah 0,58% pekan lalu, mencapai Rp 18.065 per dolar AS. Ketegangan geopolitik dan suku bunga AS jadi pemicu. Simak proyeksi selengkapnya

Sudah Saatnya KPI Direksi BEI Diperluas
| Senin, 13 Juli 2026 | 08:24 WIB

Sudah Saatnya KPI Direksi BEI Diperluas

Target ambisius BEI Rp 30.000 triliun terancam. Peningkatan kualitas IPO dan daya tarik emiten asing jadi kunci agar dana global masuk.

Produksi dan Penjualan Emas BRMS Mengalami Kenaikan di Kuartal II-2026
| Senin, 13 Juli 2026 | 08:14 WIB

Produksi dan Penjualan Emas BRMS Mengalami Kenaikan di Kuartal II-2026

Kenaikan volume penjualan emas sekitar 50% dibandingkan kuartal sebelumnya akan mampu mengimbangi pelemahan harga jual rata-rata.

Keyakinan Investor Anjlok, Net Sell Deras, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 13 Juli 2026 | 08:08 WIB

Keyakinan Investor Anjlok, Net Sell Deras, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Investor belum memiliki keyakinan kuat untuk meningkatkan eksposur risiko. Di sisi lain, investor asing terus mencetak net sell. 

Prospek Harga Emas Pekan Ini: Geopolitik, Inflasi, hingga Bank Sentral Jadi Penentu
| Senin, 13 Juli 2026 | 07:47 WIB

Prospek Harga Emas Pekan Ini: Geopolitik, Inflasi, hingga Bank Sentral Jadi Penentu

Arah pergerakan emas tetap sangat bergantung pada hasil berbagai data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini.

Persib Bandung Mau IPO, Sepakbola Domestik Sudah Jadi Industri?
| Senin, 13 Juli 2026 | 07:43 WIB

Persib Bandung Mau IPO, Sepakbola Domestik Sudah Jadi Industri?

Rencana PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) untuk melantai di Bursa Efek Indonesia belakangan ini menyedot perhatian publik.

INDEKS BERITA

Terpopuler