BTN dan Bukopin Siap Luncurkan EBA

Senin, 25 Februari 2019 | 07:32 WIB
BTN dan Bukopin Siap Luncurkan EBA
[]
Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya bank mencari pendanaan terus dilakukan bank. Dua bank kategori bank umum kelompok usaha (BUKU) III berencana melakukan sekuritisasi lewat instrumen efek beragun aset (EBA) tahun ini.

Kedua bank itu adalah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) dan PT Bank Bukopin Tbk. Direktur Keuangan BTN Iman Nugroho Soeko mengatakan, BTN mengincar dana sekitar Rp 2 triliun dari aksi korporasi yang bakal dilangsungkan kuartal I 2019 ini

Skema EBA BTN kali ini merupakan sekuritisasi kredit pemilikan rumah (KPR) sintetik. Artinya, alternatif pendanaan ini menjaminkan future cash flow. Sekuritisasi tersebut nantinya akan dilakukan dengan PT Sarana Multiguna Finansial (SMF).

"KIK EBA Sintetik jadi yang disekuritisasi future cash flow dari interest income sebagai portofolio KPR," katanya kepada KONTAN, Jumat (22/2). Kelak, seluruh dana yang diperoleh dari aksi korporasi tersebut bakal digunakan untuk mendorong pendanaan realisasi kredit baru BTN di tahun 2019 yang ditarget naik 15%.

Asal tahu saja, BTN merupakan bank yang paling aktif melakukan sekuritisasi dalam bentuk KIK EBA dan EBA SP. Catatan Iman, EBA tahun ini menjadi ke-12 kali dengan total EBA yang sudah diterbitkan sebesar Rp 9,65 triliun.

Sementara itu, Bukopin juga berencana menerbitkan EBA dengan kisaran nilai antara Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun. Aset yang akan diagunkan adalah tagihan berkualitas milik perseroan seperti KPR dan kredit konsumer dengan kualitas tinggi.

Direktur Keuangan Bukopin Rachmat Kaimuddin menyebut instrumen ini baru akan diterbitkan oleh perseroan pada semester II-2019. Pihaknya memilih untuk memantau kondisi pasar pasca pemilihan umum (Pemilu) yang jatuh pada 17 April 2019.

Seluruh dana yang diperoleh dalam aksi korporasi ini bakal digunakan untuk menopang rencana ekspansi kredit Bukopin yang ditargetlkan 8% tahun ini, sekaligus memperkuat likuiditas.

Penerbitan EBA kedua bank ini bukan tanpa beralasan. Pasalnya, instrumen EBA memang lebih menarik bagi investor dibanding surat utang lain. Apalagi, instrumen ini memiliki aset yang likuid yang disertai risiko yang kecil.

Adapun keuntungan dari sisi penerbit antara lain EBA lebih murah dibandingkan dengan instrumen investasi lain lantaran biaya dananya yang rendah. Dengan begitu, penggunaan modal bank dengan adanya EBA akan lebih efisien.

Di sisi lain, instrumen EBA juga bisa menjadi alternatif pendanaan serta diversifikasi instrumen investasi perusahaan menurut Iman.

Namun. EBA juga memiliki beberapa risiko antara lain risiko suku bunga yang bisa mempengaruhi harga, selain itu bila terjadi pelunasan lebih awal dari aset yang diagunkan, maka bisa mempengaruhi imbal hasil (yield) yang diterima. Serta adanya risiko gagal bayar oleh debitur penerbit yang tentunya bisa merugikan pemegang EBA.

Bagikan

Berita Terbaru

Asuransi Syariah Tertekan, Industri Bidik Pemulihan
| Senin, 26 Januari 2026 | 04:30 WIB

Asuransi Syariah Tertekan, Industri Bidik Pemulihan

Kontribusi asuransi syariah anjlok 5% hingga November 2025. Pergeseran produk dan kasus unitlink jadi penyebab utama. Simak detail penurunannya!

Pengangguran dan Risiko Utama Perekonomian
| Senin, 26 Januari 2026 | 04:24 WIB

Pengangguran dan Risiko Utama Perekonomian

Pemerintah mendesak untuk mengembangkan revitalisasi industri dan membangun infrastruktur pendukung untuk membuka lapangan kerja baru.

Semen Baturaja (SMBR) Siap Mengokohkan Kinerja
| Senin, 26 Januari 2026 | 04:20 WIB

Semen Baturaja (SMBR) Siap Mengokohkan Kinerja

Memproyeksikan pendapatan SMBR pada 2026 bisa meningkat 13,6%. Sedangkan laba bersih SMBR diproyeksikan tumbuh 57% dibandingkan 2025.​

Krisis Chip Memori Kerek Biaya Produksi Laptop
| Senin, 26 Januari 2026 | 04:10 WIB

Krisis Chip Memori Kerek Biaya Produksi Laptop

Sejak Oktober 2025 hingga Januari 2026, harga komponen RAM dan NAND tercatat mengalami kenaikan yang sangat tajam, yakni berkisar 300% hingga 500%

Pekan Ini, Pasar Wait and See Menanti MSCI dan Rebalancing LQ45
| Senin, 26 Januari 2026 | 04:00 WIB

Pekan Ini, Pasar Wait and See Menanti MSCI dan Rebalancing LQ45

IHSG berpotensi bergerak fluktuatif menjelang rebalancing indeks LQ45 dan pengumuman pembaruan metodologi penghitungan free float MSCI

Turun 1,37% Pekan Ini, IHSG Punya Peluang Rebound Terbatas Esok (26/1)
| Minggu, 25 Januari 2026 | 19:12 WIB

Turun 1,37% Pekan Ini, IHSG Punya Peluang Rebound Terbatas Esok (26/1)

IHSG melemah 1,37% sepekan. Namun, sejumlah saham pilihan diprediksi berpotensi cuan di tengah tekanan. Cek rekomendasi terbaru!

Wangi Cuan dari Usaha Belah Durian
| Minggu, 25 Januari 2026 | 07:10 WIB

Wangi Cuan dari Usaha Belah Durian

Menikmati durian tak perlu menunggu musim durian. Kini ada banyak warung menanti pelanggan untuk membelah durian.

 
Bos Privy, Sukses Berkat Kejelian Membaca Pasar
| Minggu, 25 Januari 2026 | 06:38 WIB

Bos Privy, Sukses Berkat Kejelian Membaca Pasar

Pada 2014, belum ada perusahaan di Indonesia yang memiliki izin resmi sebagai penyelenggara sertifikasi elektronik meski regulsinya tersedia.

Bank Permata Pangkas Pemakaian Air di Kantor
| Minggu, 25 Januari 2026 | 06:10 WIB

Bank Permata Pangkas Pemakaian Air di Kantor

Untuk menerapkan praktik bisnis berkelanjutan, Bank Permata mengintegrasikan prinsip ramah lingkungan dalam operasional

Ambisi Bangun Ekosistem Terintegrasi Logam Tanah Jarang
| Minggu, 25 Januari 2026 | 06:00 WIB

Ambisi Bangun Ekosistem Terintegrasi Logam Tanah Jarang

Pemerintahan Prabowo Subianto berambisi mempercepat hilirisasi logam tanah jarang. Tapi, masih banyak PR yang harus pemerintah selesaikan dulu.

INDEKS BERITA

Terpopuler