Cadangan Devisa RI Februari 2024 Turun tapi Dianggap Masih Aman

Minggu, 10 Maret 2024 | 10:29 WIB
Cadangan Devisa RI Februari 2024 Turun tapi Dianggap Masih Aman
[ILUSTRASI. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kiri) dan Deputi Gubernur BI Doni P Joewono hadir pada jumpa pers pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulan Februari 2024 di Gedung BI, Jakarta, Rabu (21/2/2024). KONTAN/Cheppy A. Muchlis]
Reporter: Bidara Pink | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Posisi cadangan devisa kembali menurun. Bank Indonesia (BI) mencatat, cadangan devisa pada akhir Februari 2024 sebesar US$ 144,0 miliar atau turun 0,75% dari posisi akhir Januari 2024 yang sebesar US$ 145,1 miliar. 

Penurunan cadangan devisa tak lepas dari efek intervensi yang dilakukan BI demi menjaga volatilitas nilai rupiah. Sepanjang bulan lalu, BI memang cukup agresif menggerojoki pasar demi menahan imbas pergerakan dana asing.

Tengok saja, pada Februari kepemilikan BI atas Surat Berharga Negara (SBN) bertambah Rp 131,95 triliun menjadi Rp 1.200,14 triliun.

Penurunan cadangan devisa pada akhir bulan lalu, diwarnai dengan penurunan nilai hampir semua komponen pembentuknya, dengan penurunan terdalam pada komponen Other Reserves Assets, yaitu sebesar 1,98% mom. 

Other Reserves Assets merupakan komponen mencakup tagihan yang tidak termasuk dalam kategori tagihan lainnya. 

Hanya satu komponen yang mencatat pertumbuhan positif, yaitu komponen emas moneter). Komponen tersebut tumbuh 0,02% secara bulanan atau month on month (mom). 

Emas moneter adalah persediaan emas yang dimiliki oleh bank sentral, berupa emas batangan yang memenuhi persyaratan internasional tertentu, seperti London Good Delivery (LGD). 

Selain itu, yang termasuk monetary gold adalah emas murni, serta mata uang emas yang berada di dalam negeri maupun luar negeri. 

Otoritas moneter yang ingin menambah emas miliknya, bisa menambang emas baru atau membeli emas dari pasar, tetapi harus memonetisasi emas tersebut. 

Sebaliknya, otoritas moneter juga bisa mengeluarkan kepemilikan emas untuk tujuan non moneter, tetapi harus mendemonetisasi emas tersebut. 

 

Baca Juga: Mitratel (MTEL) Agresif Tambah Aset Menara, Kinerja Melejit dan Prospek Masih Menarik

Pupuk Komponen Cadangan Mata Uang Asing Karena Lebih Likuid

Cadangan devisa menjadi bantalan pertama saat nilai tukar rupiah loyo. BI bisa menggunakan cadangan devisa untuk melakukan intervensi, agar pelemahan Mata Uang Garuda tak terlalu dalam. 

Ekonom Bank Danamon Irman Faiz menilai, komposisi berbagai komponen cadangan devisa saat ini sudah pas. Namun, kalaupun ingin menambah strategi dengan memupuk komponen cadangan devisa tertentu, BI bisa mengambil opsi komponen yang lebih likuid. 

Contohnya, cadangan valuta asing dolar AS, yang masuk ke dalam komponen foreign currency reserves, atau komponen cadangan mata uang asing. 

Foreign currency reserves terdiri dari uang kertas asing dan simpanan, serta derivatif keuangan. Komponen ini juga bisa berupa surat berharga seperti penyertaan, saham, obligasi, dan instrumen pasar uang lainnya.

Foreign currency reserves juga mencakup tagihan otoritas moneter kepada orang asing atau bukan penduduk (nonresiden). 

Faiz melihat BI sebenarnya juga bisa mengambil opsi menimbun cadangan emas. Mengingat harga emas yang naik terus. Buktinya, komponen emas moneter pun meningkat di Februari 2024. 

Namun, Faiz menilai komponen cadangan emas tidak lebih likudi dari komponen foreign currency reserves

“Lebih baik memupuk cadangan dolar AS di tengah ketidakpastian. Saat kondisi seperti ini, cadangan devisa yang sangat likuid menjadi penting agar intervensi BI bisa lebih efektif dan efisien,” kata Faiz kepada KONTAN, Kamis (7/3).

Meski demikian, Faiz mengingatkan saat menjaga cadangan mata uang dolar AS menguntungkan di saat genting. Namun, akan menjadi tantangan tersendiri di saat ekspor melemah dan arus modal asing yang masuk terbatas. 

Baca Juga: Pilah-Pilih Produk Investasi Halal, Lebih Menarik Sukuk atau Saham Syariah?

Berbeda dengan Faiz, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI menilai BI tak perlu menambah komponen cadangan devisa tertentu untuk menjaga nilai cadangan devisa. 

Dalam menjaga nominal cadangan devisa, Riefky menyarankan otoritas bisa meningkatkan kinerja neraca perdagangan, untuk menambah suplai valuta asing. 

Di tengah penurunan cadangan devisa dan hampir semua komponen pembentuknya, Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Edi Susianto menegaskan kalau posisi cadangan devisa cukup untuk menjadi bantalan rupiah. 

“Cadangan devisa masih sangat aman, masih jauh di atas batas kecukupan cadangan devisa yang sekitar 3 bulan impor,” tegas Edi kepada KONTAN. 

Penurunan cadangan devisa, termasuk pada komponennya didorong oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah. 

Edi yakin, ke depan cadangan devisa akan menguat. Terlebih pada semester II-2024, kondisi gonjang-ganjing pasar keuangan akan mereda, sehingga dana asing akan berbalik masuk yang akan turut mendorong cadangan devisa.

Bagikan

Berita Terbaru

Waspadai Tren Bearish Lanjutan Saham WIFI, Masih Dominan Tekanan Jual dibanding Beli
| Senin, 26 Januari 2026 | 18:22 WIB

Waspadai Tren Bearish Lanjutan Saham WIFI, Masih Dominan Tekanan Jual dibanding Beli

Fundamental WIFI yang diuntungkan oleh basis biaya yang lebih rendah, capex Rp 750 ribu/koneksi rumah di bawah rata-rata industri Rp 1,5 juta.

Menimbang Saham Tambang Logam yang Harganya Terbang
| Senin, 26 Januari 2026 | 14:45 WIB

Menimbang Saham Tambang Logam yang Harganya Terbang

Saham tambang logam di bursa melanjutkan reli. Kenaikannya masih menarik bagi investor. Saham-sahamnya masih menarik dik

Ekspansi Hulu Gas Indonesia Bisa Lebih Semarak Saat Investasi Global Diramal Landai
| Senin, 26 Januari 2026 | 09:35 WIB

Ekspansi Hulu Gas Indonesia Bisa Lebih Semarak Saat Investasi Global Diramal Landai

Lesunya transaksi merger dan akuisisi global tak lepas dari volatilitas harga minyak yang cenderung bearish sepanjang 2025.

Mari Menghitung Kinerja Saham Grup Konglomerasi
| Senin, 26 Januari 2026 | 09:29 WIB

Mari Menghitung Kinerja Saham Grup Konglomerasi

Konglomerat mempunyai pendanaan yang relatif kuat serta bagi yang sudah mengucurkan penambahan modal kerja atau investasi perlu dicermati

Risiko Setor Surplus BI Sebelum Audit
| Senin, 26 Januari 2026 | 08:38 WIB

Risiko Setor Surplus BI Sebelum Audit

Ekonom memproyeksikan surplus BI akan meningkat pada 2025 sebelum kembali menurun pada 2026         

Tak Berkutik, Pajak Bisa Blokir Layanan Publik
| Senin, 26 Januari 2026 | 08:29 WIB

Tak Berkutik, Pajak Bisa Blokir Layanan Publik

Ditjen Pajak bisa memblokir penunggak pajak dengan utang minimal Rp 100 juta                        

Ada Wacana Penerapan Layer Cukai Baru, Wismilak (WIIM) Disebut Paling Diuntungkan
| Senin, 26 Januari 2026 | 08:26 WIB

Ada Wacana Penerapan Layer Cukai Baru, Wismilak (WIIM) Disebut Paling Diuntungkan

Penambahan layer cukai agar pelaku usaha dapat bertransformasi menjadi legal tanpa tekanan biaya yang terlalu berat.

Lonjakan Harga Emas Meniup Angin Segar ke Arah Emiten, Saham Boy Thohir Paling Cuan
| Senin, 26 Januari 2026 | 08:12 WIB

Lonjakan Harga Emas Meniup Angin Segar ke Arah Emiten, Saham Boy Thohir Paling Cuan

Kombinasi faktor geopolitik dan kebijakan moneter membuat tren harga emas global masih cenderung uptrend.

Menghitung Dampak Rencana Pemangkasan Komisi dan Asuransi Terhadap Kinerja GOTO
| Senin, 26 Januari 2026 | 07:50 WIB

Menghitung Dampak Rencana Pemangkasan Komisi dan Asuransi Terhadap Kinerja GOTO

Teradang rencana aturan baru, harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terjerembap 11,76% dalam sepekan.​

Jadi Price Anchor, Harga Pasar Saham SGRO Berpotensi Mendekati Harga Tender Offer
| Senin, 26 Januari 2026 | 07:10 WIB

Jadi Price Anchor, Harga Pasar Saham SGRO Berpotensi Mendekati Harga Tender Offer

Kehadiran Posco turut berpotensi memberikan akses pendanaan yang lebih kompetitif untuk mendukung ekspansi agresif SGRO ke depan.

INDEKS BERITA

Terpopuler