Cermin Kepercayaan

Rabu, 03 Juni 2026 | 06:10 WIB
Cermin Kepercayaan
[ILUSTRASI. TAJUK - Sandy Baskoro (KONTAN/Steve G.A)]
Sandy Baskoro | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan rupiah kerap dianggap sebagai persoalan teknis pasar keuangan. Seolah-olah ini hanya urusan para ekonom, bank sentral dan pelaku pasar valuta asing. Padahal, setiap kali rupiah terperosok, yang sebenarnya sedang dipertaruhkan adalah kepercayaan terhadap arah ekonomi nasional. 

Ketika dolar AS terus menguat dan rupiah semakin tertekan, pemerintah kerap mencari kambing hitam dari luar negeri: perang, suku bunga global, ketegangan geopolitik, atau perlambatan ekonomi global. Faktor-faktor tersebut memang berpengaruh. Namun, menyalahkan kondisi eksternal secara berlebihan justru menunjukkan ketidakmauan untuk mengakui kelemahan di dalam negeri.

Pasar tidak hanya menilai angka pertumbuhan ekonomi. Pasar juga mencermati kredibilitas kebijakan. Investor tidak sekadar melihat seberapa besar cadangan devisa atau berapa persen pertumbuhan produk domestik bruto. Mereka melihat apakah pemerintah punya strategi yang jelas, konsisten, dan dapat dipercaya. Ketika kebijakan berubah-ubah, ketika komunikasi ekonomi saling bertentangan, dan ketika prioritas anggaran dianggap tidak sejalan dengan kebutuhan mendesak perekonomian, kepercayaan itu perlahan menghilang. Rupiah pun menjadi korban pertama.

Celakanya, pelemahan rupiah sering kali baru dianggap masalah serius ketika sudah menyentuh level psikologis tertentu. Padahal, dampaknya sudah dirasakan jauh sebelumnya. Industri yang bergantung pada bahan baku impor terbebani kenaikan biaya produksi. Pebisnis menunda ekspansi karena ketidakpastian. Rumah tangga kelas menengah mulai mengurangi konsumsi dan tabungan. Emak-emak mulai cemas isi piring tak lagi lengkap. Pada akhirnya, pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan kurs, melainkan penurunan daya beli dan kualitas hidup masyarakat. 

Kondisi ini semestinya menjadi peringatan bagi para pengambil kebijakan. Menjaga stabilitas rupiah tidak cukup hanya dengan intervensi di pasar valas atau menaikkan suku bunga. Langkah yang lebih penting adalah membangun kembali kepercayaan melalui kebijakan yang konsisten, disiplin fiskal yang kredibel, serta reformasi ekonomi yang benar-benar memperkuat daya saing nasional.

Akhirnya, nilai tukar adalah cermin kepercayaan. Ketika rupiah terus melemah, yang dipertanyakan bukan sekadar kemampuan otoritas moneter mempertahankan kurs, melainkan kemampuan pengelola negara ini meyakinkan dunia bahwa perekonomian Indonesia masih berada di jalur yang benar.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Nilai Tukar Rupiah Melemah, Rakyat Indonesia Makin Kurang Piknik
| Kamis, 04 Juni 2026 | 16:06 WIB

Nilai Tukar Rupiah Melemah, Rakyat Indonesia Makin Kurang Piknik

Nilai tukar rupiah yang terus melemah menyebabkan biaya piknik warga Indonesia ke luar negeri semakin mahal.

Iming-Iming Insentif Belum Tentu Efektif
| Kamis, 04 Juni 2026 | 08:51 WIB

Iming-Iming Insentif Belum Tentu Efektif

Pemerintah memberikan fasilitas perpajakan yang lebih menarik untuk DHE SDA dibandingkan instrumen investasi reguler

Mega Perintis (ZONE) Merevitalisasi Gerai dan Investasi Mesin
| Kamis, 04 Juni 2026 | 08:27 WIB

Mega Perintis (ZONE) Merevitalisasi Gerai dan Investasi Mesin

ZONE menyiapkan capex sebesar Rp 21 miliar pada tahun 2026untuk ekspansi jaringan ritel, revitalisasi gerai, dan peningkatan kapasitas manufaktur.

Intra Golflink Resort (GOLF) Siapkan Dana Capex Rp 300 Miliar
| Kamis, 04 Juni 2026 | 08:18 WIB

Intra Golflink Resort (GOLF) Siapkan Dana Capex Rp 300 Miliar

Target capex tahun ini meningkat dibandingkan realisasi belanja modal sepanjang 2025 yang mencapai Rp 202,5 miliar.

Merdeka Gold Resources (EMAS) Realisasikan Seluruh Dana IPO Rp 4,54 Triliun
| Kamis, 04 Juni 2026 | 08:04 WIB

Merdeka Gold Resources (EMAS) Realisasikan Seluruh Dana IPO Rp 4,54 Triliun

Dana hasil IPO itu digunakan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS)untuk mendukung pengembangan tambang emas Pani di Gorontalo. 

Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) Bayar Obligasi Jatuh Tempo dan Rilis Obligasi Baru
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:59 WIB

Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) Bayar Obligasi Jatuh Tempo dan Rilis Obligasi Baru

PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) menyiapkan jumbo dana untuk melunasi kewajiban obligasi dan sukuk yang akan jatuh tempo. 

Berencana Akuisisi Anak PTRO, SINI Gelar Rights Issue Jumbo
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:53 WIB

Berencana Akuisisi Anak PTRO, SINI Gelar Rights Issue Jumbo

Jumlah dana yang akan diterima PT Singaraja Putra Tbk (SINI) dari rights issue sebanyaknya Rp 3,6 triliun.

Meneropong Prospek Saham dan Kinerja NAYZ Usai Banting Setir Ke Bisnis Teknologi
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:44 WIB

Meneropong Prospek Saham dan Kinerja NAYZ Usai Banting Setir Ke Bisnis Teknologi

Transformasi bisnis akan diikuti divestasi sejumlah aset untuk produksi makanan bayi, termasuk yang diperoleh dari hasil IPO.

Harga Minyak Loyo, Emiten Migas Layu
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:36 WIB

Harga Minyak Loyo, Emiten Migas Layu

Normalisasi harga minyak dunia berpotensi mempengaruhi kelangsungan usaha emiten-emiten produsen minyak dan gas (migas). 

IHSG dan Rupiah Menukik, Pasar Keuangan Domestik Semakin Tak Menarik
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:31 WIB

IHSG dan Rupiah Menukik, Pasar Keuangan Domestik Semakin Tak Menarik

Risiko berinvestasi di Indonesia semakin tinggi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah semakin terkapar.

INDEKS BERITA

Terpopuler