Geopolitik Logam Tanah Jarang dan Cermin Bagi Indonesia
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di ujung selatan Greenland, di antara fjord yang membeku dan keheningan lanskap Arktik, terdapat sebuah bukit bernama Kvanefjeld. Dari perspektif publik, ia hanyalah hamparan batuan beku yang sunyi. Namun bagi para otoritas kebijakan sektor energi di Beijing, Washington dan Brussels, bukit ini adalah salah satu titik paling panas di muka bumi. Di perutnya tersimpan salah satu deposit rare earth elements (REE) atau logam tanah jarang terbesar di dunia -- material ajaib yang menjadi jantung dari segala teknologi modern, mulai dari turbin angin, mobil listrik hingga sistem pandu rudal jet tempur F-35.
Kisah Kvanefjeld bukan sekadar cerita tentang pertambangan. Ini adalah mikrokosmos dari "Perang Dingin Baru": perebutan pengaruh antara Tiongkok, yang saat ini memegang kunci rantai pasok global, dan Barat, yang mati-matian berusaha melepaskan diri dari ketergantungan tersebut.
