Cuan Tipis Berisiko
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Level risiko pasar saham belakangan dianggap lebih rendah saat muncul instrumen baru seperti kripto. Tapi jika dilihat secara global, investasi saham di Indonesia dianggap lebih berisiko ketimbang instrumen obligasi negara, apalagi pasar saham Amerika (AS).
Kata orang, high risk high return. Dengan pernyataan tersebut, pasar saham Indonesia yang dianggap memiliki risiko tinggi tentu memberikan return yang tinggi pula. Nyatanya, IHSG hanya naik 0,21% sejak awal tahun hingga Jumat (26/7). Sementara indeks acuan S&P 500 AS menguat 13,84% sejak awal tahun.
Padahal kedua negara sama-sama punya risiko transisi kepemimpinan. Kata pengamat, ada sektor industri yang ada di AS tetapi tidak ada di Indonesia, yakni artificial intelligence (AI) yang tahun ini naik daun. Tetapi tanpa saham-saham AI, indeks blue chip AS Dow Jones juga naik lebih tinggi ketimbang IHSG, yakni 5,89% sejak awal tahun.
Tak cuma cuan yang lebih mini, pasar saham Indonesia juga lebih sepi. Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah investor saham yang aktif bertransaksi hanya 1,22 juta dari total investor saham 5,78 juta per Juni 2024.
Padahal tahun lalu, investor saham yang aktif bertransaksi di bursa mencapai 1,53 juta investor dari total 5,26 juta investor. Artinya, jumlah investor yang aktif bertransksi turun dari sisi jumlah maupun porsi terhadap total investor saham.
Tentu ada investor yang jarang bertransaksi karena lebih suka beli untuk jangka panjang. Tapi ini berlawanan dengan BEI punya target nilai dan volume transaksi harian rata-rata yang tinggi.
Sejumlah aturan baru bursa yang berlaku tahun ini menjadi penyebab pasar saham tersendat. Ganjalan paling terjal di kuartal kedua lalu adalah full call action (FCA) yang menyebabkan transaksi buta bagi para investor.
Alhasil, banyak investor cabut dari saham-saham tersebut dan menunggu waktu yang lebih aman. Ganjalan lain adalah kinerja saham-saham IPO yang jeblok.
Sejumlah saham yang baru melantai di BEI dianggap bergerak tidak wajar yang pada akhirnya bisa memicu suspensi saham dan masuk ke pemantauan khusus (FCA). BEI sebelumnya menyebut akan memperluas produk dan jasa untuk pendalaman pasar.
Tapi produ-produk yang ditawarkan seperti single stock futures dan short selling terang-terang bukan untuk investor ritel yang belakangan ikut meramaikan bursa. Apakah bursa efek sekarang hanya untuk investor yang sophisticated?
