Daya Beli dan Relaksasi Jadi Kunci Sukses Saham Otomotif di 2022
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun ini, bisnis otomotif diyakini bakal kembali melaju. Analis memprediksi, perbaikan daya beli dan peluncuran produk-produk baru akan mendorong penjualan kendaraan tahun ini.
Analis Sucor Sekuritas Edward Lowis memperkirakan, penjualan mobil akan mencapai 950.000 unit mobil pada tahun ini. Angka tersebut naik 15% dari penjualan mobil pada tahun 2021 lalu yang mencapai 850.000 unit.
"Membaiknya daya beli seiring dengan harga komoditas yang tinggi serta banyaknya model baru yang diluncurkan dalam beberapa bulan terakhir ini akan menjadi faktor pendorong penjualan mobil di tahun 2022," jelas Edward. Selain itu, rasio kepemilikan mobil di Indonesia juga masih di bawah negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.
Baca Juga: Berhasil Lampaui Target, Ini Kata Gaikindo dan APM Soal Penjualan Mobil Tahun 2021
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan rasio kepemilikan mobil di Indonesia baru 99 mobil per 1.000 penduduk. Sementara Malaysia dan Thailand masing-masing 490 dan 275 mobil per 1.000 penduduk.
Bagi produsen mobil, Edward menilai, ini tentu akan menguntungkan. Pasalnya, biaya produksi per unit juga akan lebih rendah. Sehingga margin dari distribusi mobil meningkat. "Rencana penghapusan PPnBM untuk mobil dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang lebih dari 80% juga akan memberikan sentimen positif ke sektor otomotif," ujar dia.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyebut, fasilitas penghapusan PPnBM diberikan untuk mobil rakyat dengan harga Rp 240 juta dan memiliki kapasitas mesin maksimal 1.500 cc, serta punya TKDN lebih dari 80%.
Perang segmen LMVP
Analis MNC Sekuritas Muhamad Rudy menyebut, peluang perpanjangan relaksasi PPnBM juga akan menjadi sentimen positif bagi emiten sektor otomotif. "Pemerintah telah merasakan dampak positif dari kebijakan fiskal ini, begitu pun para produsen otomotif," kata dia.
Baca Juga: Toyota Astra Motor Berharap Pasar Otomotif Terus Membaik Tahun Ini
Rudy melihat pada tahun ini akan terjadi perang pada segmen low multi purpose vehicle (LMVP) di industri otomotif. Sejauh ini, jenis mobil ini terus mengalami peningkatan minat dari pembeli.
Karena itu, persaingan pada segmen ini akan semakin intens. Rudy menyebutkan, beberapa produsen terus melakukan manuver untuk memperkuat posisi di pasar.
Toyota misalnya, mengenalkan Toyota New Avanza dan Veloz dengan desain baru. Tak hanya itu, Toyota juga menghadirkan berbagai fitur keamanan baru, seperti Toyota Safety Sense, 360o camera, dan full disc-brake.
Honda pun tak mau kalah dengan menghadirkan desain baru pada unit BRV, serta fitur keamanan yang mirip dengan milik Toyota, yakni Honda Sensing. "Menurut kami, inisiatif ini merupakan bentuk strategi para produsen tersebut untuk tetap bisa bersaing sekaligus merespons pertumbuhan pangsa pasar Mitsubishi X-Pander di kelas LMPV,” jelas Rudy.
Meski begitu, Edward menilai, emiten otomotif masih belum lepas dari risiko penyebaran kasus Covid-19. Tak hanya itu, kenaikan suku bunga acuan juga bisa jadi risiko bagi bisnis otomotif. "Kenaikan suku bunga acuan bisa membuat daya beli konsumen sedikit terganggu, karena artinya biaya cicilan akan jauh lebih tinggi," kata dia.
Baca Juga: Industri Otomotif Melaju, Prospek Bisnis Mobil Bekas Tetap Bergas pada Tahun Depan
Rudy memberi rating overweight untuk sektor otomotif. Namun, volatilitas rupiah, kenaikan inflasi, serta potensi kelangkaan chip semikonduktor akan jadi faktor risiko bagi saham sektor otomotif.
