Defisit dan Ego
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hanya dalam kurun waktu satu bulan, postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menunjukkan gejala sakit parah. Per Februari 2026, defisit anggaran mencapai Rp 135,7 triliun, melompat dari posisi defisit per Januari 2026 yang Rp 54,6 triliun.
Defisit yang sedemikian besar lantaran pasak negara ini memang jauh lebih besar ketimbang tiangnya. Betul, pendapatan negara tumbuh 12,8% YoY jadi Rp 358 triliun. Tapi pada saat yang sama, pos belanja menggelembung 41,9% YoY jadi Rp 493,8 triliun.
Repotnya, ke depan, target defisit tahunan APBN 2026 yang dipatok di Rp 638 triliun atau 2,48% dari PDB terasa seperti ilusi. Perang Iran versus AS-Israel bikin harga minyak mendidih. Akhir pekan lalu, 6 Maret 2026, harga minyak mentah Brent sempat mencapai US$ 91,89 per barel. Ini adalah level tertinggi sejak April 2024.
Sebelum duo agresor AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, harga Brent masih di kisaran US$ 72,50 per barel. Level itu pun sebetulnya sudah di atas perkiraan pemerintah yang mengasumsikan harga minyak di APBN 2026 di US$ 70 per barel.
Simulasi yang dibikin Kementerian Keuangan menunjukkan, jika harga minyak rata-rata bertahan di US$ 92 per barel selama setahun, defisit bisa jebol hingga 3,6%. Ini sudah jauh di atas batas aman defisit yang ditetapkan 3% dari PDB.
Keuangan negara memang gampang goyang oleh fluktuasi harga minyak. Sensitivitasnya, setiap kenaikan harga minyak satu dolar AS berarti tambahan beban belanja subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp 10,3 triliun.
Solusi tanpa harus menambah beban masyarakat dan dunia usaha sebetulnya ada di depan mata: pangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis! Rezim Prabowo Subianto menyetel nilai anggaran MBG di APBN 2026 sebesar Rp 335 triliun, setara dengan membakar uang Rp 1,2 triliun setiap harinya.
Misalnya, jika distribusi MBG dihentikan selama bulan Ramadan saja, negara bisa berhemat setidaknya Rp 31,2 triliun. Puluhan triliun rupiah lagi bisa diselamatkan kalau MBG ditiadakan saat libur sekolah.
Tapi usulan solusi ini pun tampaknya juga cuma ilusi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memang bilang akan membuka opsi pemangkasan anggaran MBG. Tapi itu pun lebih ke belanja pendukung semisal pembelian motor dan komputer untuk SPPG.
Remeh-temeh aja, yang penting ego penguasa tak disunat!
