Demam Emas

Jumat, 06 Februari 2026 | 06:10 WIB
Demam Emas
[ILUSTRASI. TAJUK - Barratut Taqiyyah (KONTAN/Praksa Partajaya)]
Barratut Taqiyyah Rafie | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Runtuhnya platform emas JWR di Shenzhen mengejutkan pasar finansial global. Bayangkan, puluhan ribu investor ritel dilaporkan mengalami kerugian gabungan lebih dari 10 miliar yuan (US$ 1,4 miliar) atau Rp 23,4 triliun. Fenomena tragis ini terjadi justru saat harga emas dunia melambung tinggi, memicu kepanikan massal di kalangan investor ritel di jantung perdagangan logam mulia China. Krisis likuiditas tersebut menjadi bukti bahwa reli harga komoditas tidak selalu menjamin keamanan modal jika ekosistem perdagangannya rapuh dan tidak transparan. 

Masalah utama terletak pada skema pre-pricing dan transaksi di luar bursa resmi yang lebih menyerupai praktik perjudian daripada investasi murni. Platform menarik minat masyarakat dengan iming-iming modal kecil dan leverage tinggi tanpa melakukan lindung nilai (hedging) yang memadai terhadap fluktuasi harga. Akibatnya, saat nasabah serentak menarik keuntungan di tengah lonjakan harga, perusahaan gagal menyediakan dana tunai maupun fisik emas yang dijanjikan.

Bagi publik di tanah air, insiden ini merupakan peringatan dini yang sangat relevan di tengah menjamurnya aplikasi investasi emas digital. Kemudahan transaksi melalui layar ponsel sering kali membuat investor abai pada fakta bahwa fisik aset tidak berada di tangan mereka secara langsung. Tanpa pemahaman risiko yang mendalam, niat hati untuk menjaga nilai aset dari inflasi justru bisa berakhir pada hilangnya seluruh kekayaan akibat kegagalan sistemik pengelola.

Investor kini dituntut lebih selektif memilih mitra investasi dengan mengedepankan aspek legalitas. Emas sejatinya adalah instrumen lindung nilai jangka panjang, bukan alat spekulasi liar untuk mengejar keuntungan instan dalam waktu singkat. Memilih platform berizin, transparan dan diawasi otoritas adalah langkah minimum untuk mengurangi risiko.

Di sisi lain, pemerintah dan regulator tidak bisa pasif. Pengawasan terhadap perdagangan emas digital dan logam mulia online perlu diperketat, termasuk kewajiban cadangan emas fisik, audit rutin, serta pemisahan dana nasabah agar tidak tercampur dengan dana operasional perusahaan. Pengawasan yang lemah hanya akan membuka celah bagi oknum tidak bertanggung jawab untuk menjalankan skema investasi bodong yang berkedok perdagangan komoditas mulia.

Akhirnya, kilau emas akan tetap menjadi magnet bagi para pencari keamanan finansial di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kasus di China menunjukkan bahwa demam emas bisa berubah menjadi krisis kepercayaan dalam waktu singkat. Indonesia perlu belajar dari pengalaman ini: perlindungan investor harus diperkuat sekarang, sebelum euforia berubah menjadi gelombang kerugian yang merugikan masyarakat luas.

Selanjutnya: Saham MBTO Terbang Lalu Terbanting, Manajemen Buka Suara Soal Ekspansi Bisnis

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Ekspor Teh Tertahan Produksi dan dan Kualitas
| Jumat, 06 Februari 2026 | 07:25 WIB

Ekspor Teh Tertahan Produksi dan dan Kualitas

Aptehindo mencermati terjadinya penurunan produksi teh Indonesia akibat adanya penurunan luas areal kebun teh,

Peringatan Beruntun dari MSCI, Goldman dan Moody's, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
| Jumat, 06 Februari 2026 | 07:17 WIB

Peringatan Beruntun dari MSCI, Goldman dan Moody's, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Outlook Moody's itu menyusul peringatan MSCI dan penurunan serupa dari Goldman Sachs.Risiko pasar Indonesia mash tinggi. 

Saham Tiga Bank Besar Diborong Investor Asing Dua Hari Beruntun, Sinyal Pemulihan?
| Jumat, 06 Februari 2026 | 07:05 WIB

Saham Tiga Bank Besar Diborong Investor Asing Dua Hari Beruntun, Sinyal Pemulihan?

Peluang kembalinya dana asing ke sektor perbankan tetap terbuka setelah tekanan jual mereda dan ketidakpastian kebijakan mulai berkurang.

Gerak Ekonomi Bak Meniti Tali
| Jumat, 06 Februari 2026 | 07:05 WIB

Gerak Ekonomi Bak Meniti Tali

Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi diuji risiko global dan fiskal.                                  

ESDM Masih Evaluasi Izin Impor BBM Shell Indonesia
| Jumat, 06 Februari 2026 | 06:50 WIB

ESDM Masih Evaluasi Izin Impor BBM Shell Indonesia

Produk Shell Super tercatat tidak tersedia di wilayah Jabodetabek dan hanya dapat ditemukan di Jawa Timur.

Momen Puasa dan Lebaran Mengerek Kinerja Sarimelati Kencana (PZZA)
| Jumat, 06 Februari 2026 | 06:50 WIB

Momen Puasa dan Lebaran Mengerek Kinerja Sarimelati Kencana (PZZA)

Secara historis periode Ramadan-Lebaran memberikan kontribusi positif terhadap total penjualan tahunan perusahaan.

Pertamina Bangun Kilang Baru Produksi Bioavtur
| Jumat, 06 Februari 2026 | 06:48 WIB

Pertamina Bangun Kilang Baru Produksi Bioavtur

Pertamina membidik pengembangan bioavtur dari minyak jelantah dengan menyasar pemakaian oleh maskapai dalam negeri dan bisa menembus pasar ekspor.

Kenaikan Harga Komoditas Rawan Profit Taking
| Jumat, 06 Februari 2026 | 06:45 WIB

Kenaikan Harga Komoditas Rawan Profit Taking

Permintaan kuat, pasokan ketat picu lonjakan komoditas. Namun profit taking hantam harga. Ketahui prospek dan strategi investasi terbaik Anda.

Pebisnis Logistik Incar Pertumbuhan 6%-8%
| Jumat, 06 Februari 2026 | 06:45 WIB

Pebisnis Logistik Incar Pertumbuhan 6%-8%

Proyeksi kinerja logistik Indonesia pada 2026 menunjukkan prospek cerah dengan perkiraan pertumbuhan 6%-8%,

Kinerja Bank Besar Mulai Tunjukkan Perbaikan
| Jumat, 06 Februari 2026 | 06:45 WIB

Kinerja Bank Besar Mulai Tunjukkan Perbaikan

​Kinerja bank besar membaik di akhir 2025. Lonjakan laba kuartalan, terutama di Bank Mandiri, menumbuhkan optimisme perbankan memasuki 2026.

INDEKS BERITA

Terpopuler