Di Balik Kematian Dokter Internship
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Empat dokter internship meninggal dalam dua bulan terakhir. Penyebabnya mungkin berbeda, tetapi pesan yang muncul seharusnya sama: ini bukan sekadar rangkaian kejadian acak. Ini sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam sistem. Kematian tenaga kesehatan dalam masa pemegangan, dalam standar sistem kesehatan yang matang, bukan hanya berita duka. Ia dikategorikan sebagai sentinel event -- kejadian yang langka, tidak dapat diterima, dan menuntut respons struktural segera. Karena yang dipertaruhkan bukan hanya keselamatan dokter muda, tetapi juga mutu pelayanan dan kredibilitas sistem kesehatan itu sendiri.
Masalahnya tidak sederhana. Di atas kertas, program internship dirancang sebagai jembatan antara fase pendidikan dan praktik mandiri. Ia seharusnya menjadi ruang belajar dengan supervisi yang kuat, tempat dokter muda mengasah keterampilan klinis dengan aman. Namun dalam praktik, fungsi ini sering bergeser. Internship kerap menjadi penyangga sistem pelayanan yang kekurangan tenaga. Di titik ini, muncul masalah mendasar: dokter muda ditempatkan dalam posisi yang ambigu. Mereka memikul tanggung jawab klinis nyata, tetapi tidak sepenuhnya dilindungi sebagai tenaga kerja, dan tidak selalu dibimbing secara optimal sebagai peserta didik. Zona abu-abu ini bukan hanya membingungkan, tetapi juga berbahaya. Jika mereka dianggap peserta didik, maka supervisi harus ketat. Jika mereka dianggap tenaga kerja, maka perlindungan harus jelas. Sayangnya, dua-duanya tak ada. Tanpa kejelasan, sistem kehilangan pijakan dan akuntabilitas menjadi kabur.
Baca Juga: Anomali Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, FDI dari China Naik dan PMI Manufaktur Melemah
