Berita

Di Ujung Tanduk, Industri Tekstil Tak Kompak Soal Safeguard Produk China

Selasa, 03 September 2019 | 06:16 WIB

ILUSTRASI. Pakaian bekas impor di Pasar Sekaten

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) berada di ujung tanduk lantaran daftar pengangguran dan gulung tikar perusahaan TPT mungkin saja bertambah banyak.

Saat ini, pemerintah sedang menyiapkan aturan safeguard untuk mengadang banjir impor tekstil dan produk tekstil (TPT) yang kebanyakan dari China.

Namun pelaku industri di dalam negeri tak kompak soal perlu tidaknya penerapan aturan yang digagas untuk melindungi produk dalam negeri tersebut.

Aturan safeguard tersebut masih dalam bentuk rumusan dan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) yang akan menentukan besaran safeguard.

Baca Juga: Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) perlu harmonisasi

"Kalau sektor hulu minta anti dumping, sektor hilir teriak karena harus membeli barang yang harganya lebih mahal," kata Achmad Sigit Dwiwahjono, Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian (Kemperin) ketika ditemui KONTAN di Menara KADIN, Senin (2/9).

Pemerintah menuding, banjir impor TPT merupakan efek dari perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS). Produk China yang memiliki harga lebih murah menjadi alasan produk TPT dalam negeri tak terserap.

Namun Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) tidak sependapat dengan rencana aturan safeguard.

Fokus di daya saing

Selanjutnya
Halaman   1 2 3
Reporter: Kenia Intan
Editor: Tedy Gumilar

IHSG
6.236,69
0.28%
17,26
LQ45
985,92
0.27%
2,68
USD/IDR
14.100
0,57
EMAS
753.000
0,00%

Baca juga