Duet Indofood Masih Mencatatkan Pertumbuhan Kinerja di Kuartal III 2024

Jumat, 01 November 2024 | 08:53 WIB
Duet Indofood Masih Mencatatkan Pertumbuhan Kinerja di Kuartal III 2024
[ILUSTRASI. Produk mi instan Indomie produksi PT Indofood ICBP Sukses Makmur (ICBP) dipajang pada etalase pasar swalayan di Pondok Gede, Kota, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (07/3). KONTAN/Cheppy A. Muchlis/07/03/2024]
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Kinerja emiten sektor barang konsumsi milik Grup Salim masih moncer. Tengok saja PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan anak usahanya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang menangguk pertumbuhan laba bersih dua digit dalam sembilan bulan pertama tahun ini. 

Sepanjang Januari hingga September 2024, INDF mengantongi penjualan bersih Rp 86,94 triliun. Raihan ini bertumbuh 3,64% secara tahunan atau year on year (yoy). Beban pokok penjualan INDF menyusut 0,79% secara tahunan menjadi Rp 57,24 triliun. 

Alhasil, laba usaha INDF naik 13% mencapai Rp 16,09 triliun. Laba inti, yang mencerminkan kinerja operasional INDF naik 17% menjadi Rp 8,3 triliun. 
Sedangkan laba bersih INDF mendaki 23,69% yoy menjadi  Rp 8,76 triliun per September 2024. Pada periode yang sama di 2023, laba bersih INDF mencapai Rp 7,08 triliun. 

"Ke depan, kami akan beradaptasi terhadap perubahan secara dinamis dan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian untuk meraih pertumbuhan," kata Anthoni Salim, Direktur Utama dan Chief Executive Officer Grup Indofood, Kamis (31/10).

Pertumbuhan laba bersih INDF juga tak lepas dari kinerja berbagai anak usahanya. Salah satunya ialah ICBP. Penjualan produsen Indomie ini mencapai Rp 55,48 triliun per September 2024. Angka ini tumbuh 8,14% secara tahunan. Sedangkan laba usaha ICBP mencapai Rp 11,99 triliun, naik 10,11% yoy. 

Baca Juga: Saham Konsumer Menjadi Saham Paling Diuntungkan di Program Pemerintahan Baru

ICBP juga memperoleh pendapatan keuangan sebesar Rp 1,51 triliun per September 2024, meningkat 50,56% secara tahunan dari Rp 1 triliun di periode yang sama pada 2023. Karena itulah laba bersih ICBP merekah 15,43% yoy menjadi Rp 8,14 triliun hingga akhir kuartal III-2024.

Pertumbuhan kinerja emiten Grup Indofood berpeluang berlanjut pada kuartal empat ini. Tim Investment Analyst Stockbit Sekuritas menilai ada dua hal utama yang berpotensi memengaruhi kinerja INDF pada kuartal terakhir, yaitu risiko pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Lalu, harga gandum dan minyak sawit mentah (CPO) yang lebih menguntungkan membuka peluang terjaganya margin INDF tahun buku 2024 yang lebih tinggi. Ini akan menguntungkan segmen agribisnis INDF. 

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memperkirakan, pertumbuhan kinerja INDF berpotensi berlanjut di kuartal keempat mendatang karena akan ada musim liburan yang bakal menaikkan konsumsi. 

"Apalagi di November mendatang akan ada gelaran pemilihan kepala daerah secara serentak yang bisa menjadi sentimen tambahan untuk mendorong kinerja emiten di sektor konsumsi," katanya kepada KONTAN, Kamis (31/10). Saham pilihan Nafan jatuh pada ICBP. Rekomendasinya accumulate buy ICBP dengan target harga jangka menengah dan panjang Rp 12.700 dan Rp 13.300.            

Bagikan

Berita Terbaru

Ratusan Emiten Terjepit Kala Tenggat Free Float Kian Dekat: Delisting atau Bertahan?
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39 WIB

Ratusan Emiten Terjepit Kala Tenggat Free Float Kian Dekat: Delisting atau Bertahan?

Gempuran sentimen negatif yang sedang melanda pasar saham Indonesia membuat pemenuhan ketentuan free float kian sulit.

Mau Masuk ke RI, CEO Kinza Bandar Okrin: Kami Mengidentifikasi Mitra Lokal yang Tepat
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 17:36 WIB

Mau Masuk ke RI, CEO Kinza Bandar Okrin: Kami Mengidentifikasi Mitra Lokal yang Tepat

Indonesia dipandang sebagai pasar strategis bagi Kinza dan bagian penting dari ekspansi mereka di Asia Tenggara. 

IHSG Technical Rebound, Tapi Risiko Ini Masih Membayangi
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 09:02 WIB

IHSG Technical Rebound, Tapi Risiko Ini Masih Membayangi

IHSG masih menghadapi risiko ketidakpastian MSCI dan arus dana asing yang dapat memengaruhi keberlanjutan penguatan.

Ilusi Stabilitas BI-Rate 5,75% di Tengah Ancaman Bunga KPR dan Tekanan Daya Beli
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 09:00 WIB

Ilusi Stabilitas BI-Rate 5,75% di Tengah Ancaman Bunga KPR dan Tekanan Daya Beli

Gejolak pasar keuangan, depresiasi rupiah, serta ketidakpastian suku bunga global mempersempit ruang gerak arus modal bagi emiten.

Alokasi Pasokan & Harga Gas Kembali Menjadi Sorotan Pelaku Industri
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:41 WIB

Alokasi Pasokan & Harga Gas Kembali Menjadi Sorotan Pelaku Industri

Pasokan gas yang andal dan kompetitif untuk memenuhi kebutuhan industri perlu penguatan infrastuktur dari hulu ke hilir​

Harga Ayam Pulih, Emiten Unggas Dapat Angin Segar Hingga Akhir Tahun
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:40 WIB

Harga Ayam Pulih, Emiten Unggas Dapat Angin Segar Hingga Akhir Tahun

Pemulihan harga jual bisa memberikan ruang bagi perbaikan margin, terutama jika perusahaan mampu menjaga biaya produksi tetap terkendali.

Antara Kebijakan Pemerintah dan MSCI, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:26 WIB

Antara Kebijakan Pemerintah dan MSCI, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini

Namun, indeks masih menghadapi risiko ketidakpastian MSCI dan arus dana asing yang dapat memengaruhi keberlanjutan penguatan.

Intip Peluang Cuan dari Imbal Hasil Dividen Saat Pasar Tertekan
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:21 WIB

Intip Peluang Cuan dari Imbal Hasil Dividen Saat Pasar Tertekan

Sejumlah emiten berpotensi menawarkan dividend yield dua digit, seiring penurunan harga saham belakangan ini.

Prospek Jangka Panjang PGEO Kian Menarik Di tengah Masifnya Proyek Pembangkit
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Prospek Jangka Panjang PGEO Kian Menarik Di tengah Masifnya Proyek Pembangkit

Investor perlu melihat realisasi proyek-proyek yang saat ini berjalan, jika tidak ada hambatan dan sesuai dengan timeline.

Dilema Akuisisi MEDC di Kutai: Cadangan Gas Melesat, Risiko Keuangan Meningkat?
| Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:11 WIB

Dilema Akuisisi MEDC di Kutai: Cadangan Gas Melesat, Risiko Keuangan Meningkat?

Produksi dari aset Kutai diperkirakan meningkat secara bertahap dan berpotensi melampaui 40.000 barel setara minyak per hari mulai 2033.

INDEKS BERITA

Terpopuler