Berita

Duh, Masa Depan Ekspor RI Masih Suram

Jumat, 16 Agustus 2019 | 09:14 WIB

ILUSTRASI. Ekspor Indonesia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia belum bisa berharap banyak agar nilai ekspor bisa meningkat.

Meskipun ekspor sedikit membaik di bulan Juli, ke depan masih ada tantangan lebih besar, mulai dari perang dagang yang berakibat fluktuasi harga komoditas global juga potensi resesi di Amerika Serikat.

Walhasil, neraca dagang berpeluang terus mengalami defisit.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Juli 2019 sebesar US$ 15,45 miliar, melonjak 31,02% dibandingkan dengan Juni 2019.

Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, ekspor masih turun 5,12%.

Sementara impor Juli 2019 sebesar US$ 15,51 miliar, naik 34,96% ketimbang Juni.

Angka impor tersebut juga masih turun 15,21% dari tahun lalu.

Alhasil, neraca perdagangan Juli defisit tipis sebesar US$ 63,5 juta.

BPS memerinci sektor migas mengalami defisit sebesar US$ 142,4 juta. Sementara sektor nonmigas, mencatat surplus US$ 78,9 juta.

Defisit neraca dagang dipengaruhi oleh masih lemahnya sejumlah harga komoditas ekspor unggulan.

Misalnya, harga batu bara yang turun 0,55% dibanding bulan sebelumnya.

Selain itu, harga crude palm oil (CPO) juga tercatat turun 1,45% ketimbang Juni 2019.

Meskipun, harga minyak mentah internasional Juli naik 0,52% dari Juni.

Sementara itu, Kepala BPS Suhariyanto menyebut kenaikan ekspor dan impor dibandingkan dengan bulan sebelumnya karena aktivitas industri dan perdagangan mulai normal pasca libur panjang serta cuti bersama pada bulan Juni 2019.

Maklum libur panjang itu menyebabkan hilangnya 1/3 hari kerja dalam sebulan.

"Semua aktivitas sudah normal sehingga produktivitas kembali lancar," kata Suhariyanto, Kamis (15/8).

BPS melihat impor, barang modal dan impor barang konsumsi masing-masing naik sebesar 60,73% dan 42,15% dibanding dengan Juni 2019.

Sedangkan impor bahan baku dan penolong naik 29,01% month to month (mtm).

Masih berisiko

Meski defisit neraca perdagangan terlihat membaik, kinerja ekspor Indonesia ke depan masih berisiko.

Selanjutnya
Halaman   1 2
Reporter: Bidara Pink
Editor: Herry Prasetyo

IHSG
6.231,47
0.21%
-13,00
LQ45
980,77
0.21%
-2,03
USD/IDR
14.085
-0,10
EMAS
756.000
0,53%

Baca juga