Ekspektasi Investor Tinggi, The Fed Peringatkan Kemungkinan Peningkatan RIsiko di AS

Jumat, 07 Mei 2021 | 21:22 WIB
Ekspektasi Investor Tinggi, The Fed Peringatkan Kemungkinan Peningkatan RIsiko di AS
[ILUSTRASI. FILE PHOTO: Situasi bursa efek New York (NYSE) di New York, AS di awal pandemi, 22 Mei 2020. REUTERS/Brendan McDermid/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Tingkat risiko di pasar meningkat di saat ekonomi Amerika Serikat (AS) mulai bangkit dari tekanan pandemi virus korona berbarengan dengan meningkatnya selera berinvestasi. Peringatan semacam itu disampaikan otoritas moneter AS dalam laporan tentang stabilitas keuangan di AS yang terbit Kamis (6/5).

“Karena investor memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap rebound yang kuat, penting untuk memantau risiko sistem dan memastikan ketangguhan sistim keuangan,” ujar  Gubernur Federal Reserve Lael Brainard seperti dikutip dalam pernyataan tertulis. Bersamaan dengan penerbitan pernyataan itu, The Fed juga menerbitkan laporan tengah tahun, yang memuat beberapa peringatan, baik yang baru maupun yang telah disampaikan.

Sektor real estate komersial tetap berpotensi rentan, kata Fed, bahkan, di masa setelah pandemi. Permintaan untuk ruang kantor, dan bisnis serta rumah tangga tetap berada di bawah tekanan yang cukup besar akibat dampak penyebaran virus korona.

Baca Juga: Cermati nasib rupiah setelah menguat 1,1% di pekan ini

Kekhawatiran The Fed terbaru seputar bursa saham. Seperti, kemungkinan pembalikan arah harga saham secara cepat. Pernyataan ini merujuk ke popularitas media sosial yang terbukti mampu menaikkan sekaligus menurunkan harga saham secara cepat. The Fed juga merisaukan manajemen risiko yang dilakukan pengelola dana, menyusul kegagalan investasi Archegos Capital Management, yang berstatus family office, hingga mengakibatkan beberapa bank dunia menanggung rugi.

The Fed juga menyerukan perlunya perbaikan struktural dalam produk reksadana pasar uang yang menghadapi gelombang permohonan penebusan di awal pandemi. Situasi itu berujung ke dimasukkannya produk reksadana tersebut ke dalam program bantuan likuiditas The Fed.

“Kerentanan yang terkait dengan transformasi likuiditas pada reksadana tetap menonjol,” demikian kesimpulan The Fed. Pernyataan itu mengacu ke fakta bahwa pengelola reksadana menjanjikan jangka waktu pencairan dana bagi investor yang lebih pendek daripada periode yang ia butuhkan untuk melikuidasi underlying asset dari reksadana tersebut.

Baca Juga: Wall Street: Nasdaq dan S&P 500 terseret saham produsen vaksin Covid-19

Memang, apa yang terjadi sepanjang tahun lalu tidak seburuk perkiraan yang disusun di awal tahun lalu. Kegagalan pelunasan cicilan hipotek oleh debitur, misalnya, berada di bawah tingkat pra-pandemi karena insentif fiskal yang diberikan ke tiap-tiap keluarga. Di sektor bisnis, nilai utang secara keseluruhan tinggi. Namun pebisnis diperkirakan masih mampu memenuhi kewajibannya mengingat pendapatan masih kuat, tingkat bunga rendah, dan insentif dari pemerintah AS untuk dunia usaha.

Namun, laporan tersebut menguraikan sejumlah risiko yang bisa mengancam sistem keuangan negerinya, dalam jangka pendek, jika pandemi memburuk hingga pemulihan ekonomi gagal terjadi.

Risiko itu seperti penurunan harga aset yang bisa membahayakan perusahaan asuransi jiwa dan hedge fund yang memiliki tingkat utang tinggi. Situasi itu juga akan melongsorkan reksadana pasar uang. Laporan itu menambahkan, tekanan atas pasar keuangan dapat berinteraksi dengan potensi risiko yang membayangi sistem pembayaran digital baru.

Ada juga risiko yang bisa muncul dari luar AS. Jika Eropa gagal menahan penyebaran virus korona dan pemerintah di benua itu tidak menggulirkan dukungan untuk mengimbangi efek negatif dari pandemi, sejumlah lembaga keuangan besar di Eropa bakal menanggung kerugian kredit yang signifikan. Situasi semacam itu pada akhirnya akan mempengaruhi ekonomi dan sistem keuangan AS, demikian pernyataan The Fed. Tekanan terhadap sistim keuangan di pasar negara berkembang juga bisa merembet hingga Negeri Paman Sam.

Indeks acuan di bursa efek AS kini mendekati, atau bahkan, berada di posisi tertingginya.  dengan indeks acuan S&P 500 telah meningkat lebih dari 11% sepanjang tahun ini. Ini sekitar 18% lebih tinggi daripada ketika Fed merilis laporan stabilitas keuangan terakhir pada November. Dan, posisi terkini S&P 500 hampir dua kali lipat daripada titik terendahnya yang terjadi lebih dari setahun lalu, di saat awal pandemi memicu kepanikan pasar dan menggulirkan ekonomi AS ke jurang resesi.

Baca Juga: Empat hari investor asing sempat catatkan net buy di bursa, ini pendorongnya

Secara umum, tingkat keuntungan perusahaan telah pulih di tahun ini. Namun kenaikan harga ekuitas jauh lebih cepat daripada prospek pemulihan laba korporasi. Akibatnya, price to earning ratio (PER), metrik penilaian utama dalam investasi saham, terbang tinggi. Regulator pun mencemaskan perilaku “reach for yield” yang menjangkiti investor dan trader di bursa efek.

Bursa efek bukan satu-satunya bagian dari pasar keuangan yang menunjukkan buih. Premi risiko di pasar obligasi korporasi untuk emiten berperingkat rendah telah kembali ke level sebelum krisis.

Dalam laporannya yang terbit November lalu, The Fed memperingatkan AS mungkin masih menghadapi gelombang default utang dan penurunan harga aset yang signifikan karena pandemi dan resesi. Sejauh ini, kecemasan The Fed itu belum terbukti.

Selanjutnya: Investor Asing Serbu Bursa Saham Indonesia Pasca The Fed Tidak Akan Menaikkan Bunga

 

 

Bagikan

Berita Terbaru

Jumlah Kantor Bank Semakin Menyusut
| Senin, 12 Januari 2026 | 06:35 WIB

Jumlah Kantor Bank Semakin Menyusut

Gelombang digitalisasi kian menggerus jejak fisik perbankan. Dalam setahun terakhir, ratusan kantor bank di Indonesia ditutup

Pemulihan Daya Beli Masih Rapuh
| Senin, 12 Januari 2026 | 06:30 WIB

Pemulihan Daya Beli Masih Rapuh

Belanja masyarakat mulai bergairah, tetapi tabungan justru kian menipis. Di balik naiknya konsumsi, ketahanan finansial rumah tangga masih rapuh.​

Sektor Batubara Masih Tertekan, Simak Rekomendasi Sahamnya
| Senin, 12 Januari 2026 | 06:27 WIB

Sektor Batubara Masih Tertekan, Simak Rekomendasi Sahamnya

Meskipun harga acuan batubara stabil, profitabilitas emiten masih bisa tertekan akibat perubahan regulasi dan kenaikan biaya operasional.

Pertumbuhan Simpanan Perorangan Masih Mini
| Senin, 12 Januari 2026 | 06:25 WIB

Pertumbuhan Simpanan Perorangan Masih Mini

Daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih, tercermin dari rata-rata saldo tabungan per rekening di bank yang susut meski jumlah nasabah naik

Harga Kripto Mulai Sideways, Menanti Katalis Positif Baru
| Senin, 12 Januari 2026 | 06:19 WIB

Harga Kripto Mulai Sideways, Menanti Katalis Positif Baru

 Harga aset kripto masih akan bergerak mendatar, pelaku pasar masih cenderung wait and see menanti sejumlah data ekonomi global.

Rupiah Senin (12/1) Masih Rawan Tekanan
| Senin, 12 Januari 2026 | 06:12 WIB

Rupiah Senin (12/1) Masih Rawan Tekanan

Awal pekan ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan bergerak fluktuatif cenderung tertekan. 

Ulah Donald Trump Bikin Awal Pekan Memanas, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 12 Januari 2026 | 06:02 WIB

Ulah Donald Trump Bikin Awal Pekan Memanas, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Pasar juga menanti  data inflasi AS. Data ini cukup krusial untuk melihat arah suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed.

 Saham Bank Kecil Melaju, Sementara Bank Besar Masih Tertahan
| Senin, 12 Januari 2026 | 06:00 WIB

Saham Bank Kecil Melaju, Sementara Bank Besar Masih Tertahan

Memulai 2026, saham bank besar lesu, sementara bank kecil melesat, INPC naik 70% dan BCIC meningkat 18%, menyalip performa BMRI dan BBNI

Awal 2026: Asing Serbu BBRI, Net Buy Ratusan Juta Saham
| Senin, 12 Januari 2026 | 05:53 WIB

Awal 2026: Asing Serbu BBRI, Net Buy Ratusan Juta Saham

Investor asing borong 273,76 juta saham BBRI awal Januari 2026, dipimpin Invesco (106 juta). Kiwoom akumulasi target Rp 4.620 per saham.

Pemerintah Topang Promosi Investasi Danantara
| Senin, 12 Januari 2026 | 05:25 WIB

Pemerintah Topang Promosi Investasi Danantara

Kementerian Investasi/BKPM bersama Danantara bakal memanfaatkan forum World Economics Forum ajang promosi investasi dan prooyek Danantara.

INDEKS BERITA

Terpopuler