Emiten Keramik Milik Siam Cement Masih Hadapi Masa Sulit

Jumat, 21 Juni 2019 | 06:54 WIB
Emiten Keramik Milik Siam Cement Masih Hadapi Masa Sulit
[]
Reporter: Agung Hidayat | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis keramik Siam Cement Group (SCG) di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan pada tahun ini. Lini usaha keramik Siam Cement mencatatkan penurunan kinerja, salah satunya akibat harga gas yang dianggap belum kompetitif.

Korporasi asal Thailand ini memiliki sejumlah entitas bisnis keramik di dalam negeri melalui SCG Building Materials Co Ltd yang menjadi pemegang saham mayoritas di PT Keramika Indonesia Asosiasi Tbk (KIAS) dan SCG Distribution Company Limited yang menjadi pemegang saham PT Kokoh Inti Aberama Tbk (KOIN).

Kinerja KIAS masih melemah. Mengacu laporan keuangan pada kuartal I-2019, KIAS mencatatkan penurunan penjualan. Bahkan bottom line emiten itu minus.

Handono Warih, Direktur PT Keramika Indonesia Asosiasi Tbk, mengungkapkan bahwa manajemen masih merasakan kesulitan ditambah harga gas di Indonesia masih belum kompetitif. Namun perusahaan ini masih tetap optimistis mampu melalui hambatan-hambatan tersebut di masa depan.

Menurut dia, upaya pertama yang dilakukan adalah efisiensi. "Segala efisiensi harus kami lakukan terutama di permesinan agar menurunkan cost," ungkap dia dalam paparan publik, Kamis (20/6).

Melihat prospek bisnis di Indonesia, KIAS sebenarnya menyasar segmen produk middle atau menengah, bukan segmen low end yang secara volume lebih banyak diserap di pasar dalam negeri.

Menurut Handono, KIAS memang mempersiapkan diri untuk pasar kelas menengah, dipicu dengan pertumbuhan properti dan perumahan di masa mendatang. "Apalagi semester kedua nanti proyek infrastruktur pemerintah mulai jalan, diharapkan tren penjualan akan naik," kata Handono. Namun dia tidak memerinci berapa market share KIAS di dalam negeri.

Namun yang pasti, kapasitas terpasang KIAS saat ini mencapai 22 juta meter persegi (m) per tahun dan utilitas saat ini telah mencapai 85% hingga 90%.

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menyebutkan kapasitas terpasang keramik nasional saat ini mencapai 550 juta m per tahun dengan utilitas rata-rata sebesar 67%.

Seperti halnya KIAS, KOIN juga bernasib sama. Pada kuartal I-2019, perusahaan distribusi keramik dan material bangunan ini mencatatkan pelemahan kinerja keuangan.

KOIN merupakan distributor resmi produk keramik KIAS dan material bangunan SCG lainnya. Untuk keramik, manajemen KOIN mengakui penurunan volume penjualan sudah dirasakan sejak awal tahun ini.

Menggenjot kinerja

Dalam laporan keuangan di kuartal I-2019, penjualan KOIN tercatat sekitar Rp 409,99 miliar atau turun 9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 450,45 miliar. "Setelah Lebaran tahun ini pun belum kelihatan (meningkat)," ujar Susilowati, Sekretaris Perusahaan KOIN, Kamis (20/6).

Meski kondisi di awal tahun masih terasa sulit, manajemen KOIN tetap akan menggenjot kinerja hingga akhir tahun nanti. Sebab, KOIN optimistis dengan prospek bisnis material bangunan, khususnya keramik di Indonesia, masih cukup bagus. Susilowati menyebutkan, program pemerintah seperti pembangunan satu juta rumah bisa merangsang dan menyerap produk keramik di masa depan.

Untuk itu, KOIN terus menambah jalur distribusi dan agen di seluruh Indonesia, serta mulai mencari peluang di pasar Kalimantan dan Sumatra. Saat ini, KOIN baru mempunyai 12 cabang dan tiga toko ritel resmi. Tahun ini, mereka bakal menambah lagi tiga toko ritel baru.

Penjualan keramik KOIN menjadi penyokong paling besar untuk total pendapatan di kuartal I-2019, yakni mencapai 58% atau Rp 238,22 miliar. Pencapaian segmen ini menurun 12% dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 271,05 miliar.

Adapun segmen bisnis semen sak mencatatkan kontribusi Rp 89,79 miliar, menurun tipis 0,40% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 90,15 miliar.

Satu-satunya segmen bisnis yang bagus adalah penjualan granit, yakni Rp 54,33 miliar. Angka itu tumbuh 19% dibandingkan setahun lalu yang sebesar Rp 45,73 miliar.

Bagikan

Berita Terbaru

Purbaya Harus Tahu, Yield SBN Tinggi Akibat Risiko Investasi & Disiplin Fiskal Kendor
| Senin, 30 Maret 2026 | 11:19 WIB

Purbaya Harus Tahu, Yield SBN Tinggi Akibat Risiko Investasi & Disiplin Fiskal Kendor

Tingginya yield SBN menandakan harga obligasi sedang turun dan persepsi risiko dalam negeri  meningkat.

Menimbang Investasi dan Risiko Geopolitik
| Senin, 30 Maret 2026 | 10:48 WIB

Menimbang Investasi dan Risiko Geopolitik

Melihat kecenderungan ini, sudah saatnya politik dan geopolitik menjadi salah satu pertimbangan bisnis keberlanjutan. 

Sinyal Bahaya Mengintai! Efek Jeda Suku Bunga BI 4,75% Berpotensi Menjerat Laba Bank
| Senin, 30 Maret 2026 | 09:15 WIB

Sinyal Bahaya Mengintai! Efek Jeda Suku Bunga BI 4,75% Berpotensi Menjerat Laba Bank

Masyarakat cenderung makin berhati-hati dalam mengambil komitmen pembiayaan jangka panjang, seperti KPR dan KKB.

Perluas Segmen OEM dan Baterai EV, Cek Rekomendasi dan Target Harga Saham DRMA
| Senin, 30 Maret 2026 | 08:30 WIB

Perluas Segmen OEM dan Baterai EV, Cek Rekomendasi dan Target Harga Saham DRMA

Mandiri Sekuritas memproyeksikan laba bersih 2026 DRMA bakal terbang sekitar 23,46% menjadi di kisaran Rp 805 miliar.

Menengok Potensi Sektor Saham di Kuartal Kedua
| Senin, 30 Maret 2026 | 08:03 WIB

Menengok Potensi Sektor Saham di Kuartal Kedua

Memasuki kuartal II-2026, pundak investor dalam negeri menanggung sentimen negatif. Sentimen apa saja yang harus diawasi market?

Saham BRMS Mulai Bangkit, Disengat Aksi Borong Blackrock, Vanguard Hingga Manulife
| Senin, 30 Maret 2026 | 08:00 WIB

Saham BRMS Mulai Bangkit, Disengat Aksi Borong Blackrock, Vanguard Hingga Manulife

Laba bersih PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) pada 2026 diperkirakan mampu melonjak ke angka US$ 94 juta.

Tekanan Jual, Rupiah Loyo dan Sentimen Global, Berikut Proyeksi IHSG Hari Ini
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:43 WIB

Tekanan Jual, Rupiah Loyo dan Sentimen Global, Berikut Proyeksi IHSG Hari Ini

Kenaikan harga minyak mentah dan gas alam menjadi sentimen negatif, di tengah kekhawatiran  supply serta dampak kenaikan harga energi ke inflasi

Harga Batubara Membara! Asing Guyur Ratusan Miliar ke Saham AADI, BUMI, ITMG dan PTBA
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:30 WIB

Harga Batubara Membara! Asing Guyur Ratusan Miliar ke Saham AADI, BUMI, ITMG dan PTBA

Harga batubara menguat tajam di atas US$ 140 per ton pada Jumat pekan lalu, mendekati level tertingginya sejak Oktober 2024.

Awal Pekan: Persepsi Risiko Jelek, Rupiah Jeblok, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:22 WIB

Awal Pekan: Persepsi Risiko Jelek, Rupiah Jeblok, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Dari faktor domestik, persepsi terhadap risiko fiskal, kenaikan CDS dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi pemberat bursa saham.

Gadai Ramai, Kredit Tetap Landai
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:12 WIB

Gadai Ramai, Kredit Tetap Landai

Permintaan gadai naik untuk memenuhi kebutuhan saat Ramadan dan Lebaran.                                 

INDEKS BERITA

Terpopuler