Emiten Properti Milik Keluarga Dato' Sri Tahir Beli Perusahaan Benny Tjokro

Selasa, 17 Desember 2019 | 13:10 WIB
Emiten Properti Milik Keluarga Dato' Sri Tahir Beli Perusahaan Benny Tjokro
[ILUSTRASI. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Dato Sri Tahir berpose sebelum upacara pelantikan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (13/12/2019). Emiten properti milik keluarga Tahir membeli saham dua perusahaan milik Benny Tjokro. ANTARA FOTO/Akbar Nugr]
Reporter: Benedicta Prima, Tedy Gumilar | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO), emiten properti milik keluarga Dato' Sri Tahir menjalin kesepakatan pembelian saham dua perusahaan milik Benny Tjokrosaputro (Benny Tjokro).

Kesepakatan tersebut diteken MPRO dengan PT Hanson International Tbk (MYRX) dan PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO) pada 13 Desember 2019.

MPRO berencana menjadi pemegang 49,99% saham PT Mandiri Mega Jaya, dengan melakukan pembelian sebagian saham milik MYRX.

Mandiri Mega Jaya saat ini berstatus sebagai anak usaha Hanson International.

Berikutnya, MPRO juga bakal menjadi pemegang 49,99% saham PT Hokindo Properti Investama dengan membeli sebagian saham milik RIMO.

Hokindo Properti Investama merupakan anak usaha RIMO.

Baca Juga: Pinjaman individual disetop, Hanson International (MYRX) pastikan proyek tetap jalan

Suwandi, Direktur dan Corporate Secretary PT Maha Properti Indonesia Tbk dalam keterbukaan informasi pada Selasa, 17 Desember 2019 tidak menyebutkan berapa nilai transaksi pembelian saham tersebut.

Maklum, setelah kesepakatan pembelian, pihak penjual dan pembeli akan menyusun perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) saham berdasarkan nilai hasil appraisal yang ditetapkan oleh kantor jasa penilai publik (KJPP).

Setelah itu barulah para pihak meneken akta jual beli saham Mandiri Mega Jaya dan Hokindo Properti Investama.

Baca Juga: Harga Anjlok ke Level Gocap, Saham Perusahaan Benny Tjokrosaputro Masuk Indeks MSCI

Untuk kepentingan transaksi ini, MPRO berencana menggelar penawaran umum terbatas (PUT) dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Atau dengan skema tanpa HMETD (private placement).

Namun, dalam keterbukaan informasi tersebut tidak disebutkan kapan PUT akan digelar. 

Dikendalikan keluarga Tahir

MPRO merupakan emiten yang tergolong pendatang baru di bursa saham lantaran baru listing pada 9 Oktober 2018.

Perusahaan itu dikendalikan keluarga Tahir. Per 30 November 2019, Dato' Sri Tahir punya 16,998% saham MPRO.

Putranya, Jonathan Tahir menguasai 33,995% saham. Sementara anak perempuannya, Jane Dewi Tahir mengempit 8,499% saham MPRO.

Grace Dewi Riady dan Dewi Victoria Riady juga sama-sama memiliki 8,499% saham MPRO.

Baca Juga: Maha Properti Indonesia (MPRO) berharap dapat memperkecil kerugian sampai akhir 2019

Lalu, ada nama Raymond dan Michael Putra Wijaya yang masing-masing punya 4,249% saham MPRO.

Satu-satunya institusi yang tercatat sebagai pemegang saham MPRO adalah Wing Harvest Limited dengan kepemilikan 13,865%.

Sementara investor publik dengan kepemilikan di bawah 5% hanya punya 1,147% saham MPRO.

Keterbukaan informasi dari Hanson

Pengumuman serupa juga disampaikan oleh PT Hanson International Tbk (MYRX). Melalui keterbukaan informasi kepada BEI, Hanson juga menyampaikan rencana menjual sahamnya atas PT Mandiri Mega Jaya kepada PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO).

Jumlah saham yang akan dijual mencapai 49,99%.  

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Selasa (17/12), Hanson International mengungkapkan bahwa penjualan sebagian kepemilikan saham dalam Mandiri Mega Jaya untuk memenuhi kewajiban kepada pihak ketiga sekaligus untuk recovery Hanson.

Mengintip laporan keuangan MYRX, tercatat pada kuartal III-2019 perusahaan mengalami penurunan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga 57,44% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 77,61 miliar.

Sementara itu, jumlah liabilitas tercatat mencapai Rp 4,4 triliun atau naik 18,92% dibanding periode serupa tahun lalu (year on year).

Total liabilitas ini terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp 3,59 triliun dan liabilitas jangka panjang Rp 814,71 miliar. 

MYRX memiliki utang jangka pendek kepada beberapa pihak.

Mereka adalah PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA) sebesar Rp 296,06 miliar, PT Bank Victoria International Tbk (BVIC) sebesar Rp 64 miliar, PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) sebesar Rp 67,6 miliar, PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) sebesar Rp 55 miliar dan PT Bank MNC International Tbk (BABP) sebesar Rp 22,66 miliar. 

Selain pinjaman bank jangka pendek, Hanson International memiliki pinjaman individual jangka pendek dengan nilai total Rp 2,45 triliun. Sementara itu, saldo pinjaman individual jangka pendek Mandiri Mega Jaya mencapai Rp 63,75 miliar.

Bagikan

Berita Terbaru

MSCI dan Perlunya Meninjau Ulang Resep Bursa Saham
| Senin, 19 Oktober 2026 | 10:30 WIB

MSCI dan Perlunya Meninjau Ulang Resep Bursa Saham

Reformasi berhasil bukan karena aturan semakin banyak, tetapi karena pasar Indonesia semakin transparan, likuid, adil, dan dipercaya.       

IHSG Anjlok 40,04% YtD, Terburuk di Dunia, Asing Net Sell Rp 88 Triliun
| Senin, 19 Oktober 2026 | 09:19 WIB

IHSG Anjlok 40,04% YtD, Terburuk di Dunia, Asing Net Sell Rp 88 Triliun

Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi yang terburuk di antara bursa saham global yang diperbandingkan BEI sepanjang 2026.

Tak Lagi Repot-Repot Urus Administrasi di Rumahsakit
| Senin, 19 Oktober 2026 | 09:07 WIB

Tak Lagi Repot-Repot Urus Administrasi di Rumahsakit

Platform kesehatan kini tidak hanya menawarkan layanan janji temu dengan dokter, tapi juga mendampingi pasien di rumahsakit.

Kenaikan Suku Bunga Acuan Semakin Dekat
| Senin, 19 Oktober 2026 | 08:41 WIB

Kenaikan Suku Bunga Acuan Semakin Dekat

Gejolak pasar keuangan meningkatkan risiko perubahan arah kebijakan suku bunga acuan                

Mengawali Pekan, MSCI Masih Menghantui Pasar, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 19 Oktober 2026 | 08:34 WIB

Mengawali Pekan, MSCI Masih Menghantui Pasar, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Pada Senin (19/10), volatilitas IHSG diprediksi masih cukup tinggi, meskipun peluang technical rebound tetap terbuka.

CNGR Incar 80% Saham GNI, PACK Berpotensi Kecipratan Sentimen Positif
| Senin, 19 Oktober 2026 | 08:29 WIB

CNGR Incar 80% Saham GNI, PACK Berpotensi Kecipratan Sentimen Positif

CNGR Advanced Material adalah pemilik PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) via PT Eco Energi Perkasa.

Dua Tahun Prabowo: Janji Ekonomi Tak Mampu Selamatkan IHSG dari Krisis Kepercayaan
| Senin, 19 Oktober 2026 | 08:05 WIB

Dua Tahun Prabowo: Janji Ekonomi Tak Mampu Selamatkan IHSG dari Krisis Kepercayaan

Koreksi IHSG yang lebih dalam dibandingkan sejumlah pasar lain menunjukkan adanya persoalan domestik yang turut membebani pasar.

Kelangkaan BBM dan Pemadaman Listrik Jadi Alarm Bagi Tata Kelola Energi Nasional
| Senin, 19 Oktober 2026 | 07:44 WIB

Kelangkaan BBM dan Pemadaman Listrik Jadi Alarm Bagi Tata Kelola Energi Nasional

Sejumlah pihak mendesak Presiden untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh agar blackout listrik dan kelangkaan BBM tidak terus berulang​

Menagih Janji Penegakan Hukum Pasar Modal di Tengah Ancaman Turun Kelas MSCI
| Senin, 19 Oktober 2026 | 07:39 WIB

Menagih Janji Penegakan Hukum Pasar Modal di Tengah Ancaman Turun Kelas MSCI

Dukungan terhadap pasar modal tidak cukup melalui pernyataan, tetapi harus terlihat dalam pelaksanaan reformasi dan kepastian regulasi.

ITMG Bentuk Anak Usaha di Bisnis Mineral, Investor Perlu Cermati Realisasi Eksekusi
| Senin, 19 Oktober 2026 | 07:27 WIB

ITMG Bentuk Anak Usaha di Bisnis Mineral, Investor Perlu Cermati Realisasi Eksekusi

Proyek tambang atau pengolahan mineral umumnya butuh waktu bertahun-tahun (eksplorasi, perizinan, konstruksi) sebelum menghasilkan arus kas.

INDEKS BERITA

Terpopuler