ESG ESSA: Menangkap Peluang Energi Bersih dari Amoniak

Senin, 20 Januari 2025 | 07:09 WIB
ESG ESSA: Menangkap Peluang Energi Bersih dari Amoniak
[ILUSTRASI. PT ESSA SAF Makmur (ESM) akan menjadi fasilitas manufaktur greenfield berteknologi termutakhir yang akan didirikan di Jawa Tengah dengan kapasitas produksi ±150.000 MT per tahun. Operasi komersial diharapkan dimulai di antara Kuartal IV 2027 dan Kuartal I 2028.]
Reporter: Sanny Cicilia | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Emiten PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) masuk ke jajaran saham berkinerja baik untuk isu lingkungan (environmental), sosial (social), dan tata kelola (governance) atau ESG. Investor bisa mempertimbangkan saham ESSA sebagai diversifikasi portofolio.

Sejatinya, sebagai perusahaan dengan bisnis pertambangan minyak bumi mentah dan penyulingan, bisnis ESSA memiliki risiko yang tinggi terhadap lingkungan dan sosial. Tahun 2019, emisi yang dihasilkan industri penyulingan minyak bumi menyumbang emisi gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia. Setelah pandemi berakhir, diyakini, kontribusi emisi gas rumah kaca (GRK) dari industri ini kembali menyala.

Perating internasional Morningstar Sustainalytics memberi rating ESSA 49,5. Berdasarkan penilaian Sustainalytics, rating 40 ke atas dianggap memiliki risiko ESG yang berat.

Namun, Desember lalu, saham ESSA masuk dalam jajaran daftar indeks, yaitu Indeks ESG Quality 45 IDX Kehati. Indeks ini berisikan 45 saham terbaik dari hasil penilaian kinerja ESG dan kualitas keuangan perusahaan serta memiliki likuiditas yang baik.

Sebagai informasi, ESSA memiliki sejumlah lini bisnis utama. Antara lain, kegiatan pertambangan minyak bumi mentah dan pengilangan minyak bumi menghasilkan produk liquified petroleum gas (LPG).

Lalu, lewat akuisisi PT Panca Amara Utama (PAU) pada 2011, ESSA melakukan diversifikasi bisnis ke proyek amoniak.

Perusahaan yang juga dimiliki oleh taipan Garibaldi Thohir dan TP Rachmat ini memproduksi 51.836 MT liquefied petroleum gas (LPG) dan 560.541 MT amoniak pada akhir kuartal III-2024.

Nah, kemunculan nama ESSA di indeks ESG tidak terlepas dari rencana jangka panjang perusahaan untuk menjadi penyedia energi bersih. Yang terbaru, pada akhir Desember 2024, ESSA mengumumkan akan merambah bisnis produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur.

Kanishk Laroya, Presiden Direktur dan CEO ESSA mengatakan, avtur yang lebih ramah lingkungan ini hadir seiring semakin meningkatnya tuntutan bagi industri penerbangan global untuk mengurangi emisi karbondioksida (CO2) yang terus meningkat.

Industri penerbangan global IATA menyebut, SAF atau bioavtur bisa mengurangi emisi di industri penerbangan komersial sampai sebesar 80%. Dibandingkan dengan peningkatan teknologi pesawat modern ramah lingkungan, penerapan SAF dalam skala besar dipercaya lebih manjur untuk menurunkan emisi di sektor penerbangan.

Bahan bakar bioavtur bisa didapatkan dari biomassa. Misalnya, diproduksi dari limbah minyak dan lemak, sampah kota dan organik, serta tanaman nonpangan.

Industri penerbangan komersil sejatinya sudah memulai uji coba terbang pesawat berbahan bakar SAF sejak lama, di tahun 2011. Menurut data penyedia teknologi manajemen bahan bakar penerbangan i6 Group, mitra IATA, 50 maskapai di dunia sudah pernah menguji bahan bakar campuran bioavtur pada lebih dari 450.000 penerbangan.

Tahun 2023 lalu, Virgin Atlantic berhasil membawa penerbangan VS100 selama 7 jam 16 menit dari Bandara Heathrow London hingga JFK New York dengan berbahan bakar SAF. Bahan bakarnya merupakan campuran 88% hydroprocessed esters and fatty acids (HEFA) dan 12% synthetic aromatic kerosene (SAK).

Di tahun yang sama, Emirates Airlines berhasil menerbangkan Airbus A380 dengan bahan bakar 100% SAF. Hanya saja, pemanfaatan SAF baru sekitar 0,1% dari bahan bakar penerbangan setidaknya dalam empat tahun hingga 2023. Ini membuka peluang untuk lebih besar bagi penyedia bioavtur.

Seiring bertambahnya maskapai penerbangan dan negara yang mencari alternatif bahan bakar fosil yang berkelanjutan untuk memenuhi target net zero emission, ESSA ingin menjadi pemain kunci dalam memberikan solusi bahan bakar hijau dan lebih ramah lingkungan untuk industri ini.

Untuk masuk ke bisnis bioavtur, ESSA mendirikan dua perusahaan baru pada akhir Desember 2024 lalu. Yang pertama yaitu PT ESSA Sustainable Indonesia (ESI). Lalu lewat ESSI, perusahaan mendirikan PT ESSA SAF Makmur (ESM).

ESM memiliki kegiatan usaha industri kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian. Nantinya, ESM yang akan didirikan di Jawa Tengah akan menjadi fasilitas manufaktur greenfield berteknologi termutakhir dengan kapasitas produksi 150.000 metrik ton per tahun. Operasi komersial diharapkan dimulai di antara Kuartal IV-2027 dan Kuartal I-2028.

"Dengan mendayagunakan keahlian kami di bidang energi dan kimia, kami memposisikan ESSA di garis depan revolusi penerbangan ramah lingkungan dengan menargetkan untuk menjadi salah satu pabrik bersertifikasi ISCC CORSIA pertama di Indonesia," ujar Kanishk.

ISCC Corsia merupakan inisiatif standar emisi CO2 penerbangan yang dikembangkan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) yang bertujuan membantu industri penerbangan memenuhi target mengurangi emisi karbon. Target jangka panjang yang ditetapkan pada 2050 adalah tercapainya penurunan emisi sebesar 50% di bawah level emisi tahun 2005.

Amoniak biru

Dalam jangka panjang, ESSA ingin menjadi penyedia amoniak ramah lingkungan atau blue ammonia. Bahkan, perusahaan dalam proses mengubah fasilitas eksisting menjadi fasilitas produsen blue ammonia yang ditargetkan rampung tahun 2027 mendatang.

Amoniak, yang terdiri dari unsur nitrogen dan hidrogen, merupakan hasil turunan pengolahan gas bumi yang disimpan oleh PAU dalam bentuk cair dan disimpan dalam tangki bersuhu kurang lebih -33 derajat celcius. Secara umum, amoniak selama ini digunakan sebagai bahan baku pupuk. Tapi bahan ini juga dimanfaatkan sebagai bahan farmasi, industri tekstil, pembersih rumah tangga, pengolahan air, hingga pulp serta kertas.

Dalam beberapa tahun terakhir, nama amoniak semakin populer karena kandungan hidrogennya yang tinggi, nol emisi CO2 pada saat pembakaran. Pengiriman logistiknya pun aman.

Penjualan amoniak merupakan tulang punggung ESSA, yang menyumbang sampai 85% pendapatan, jika melihat kinerja kuartal III-2024. Transisi ini akan menjadikan perusahaan menjadi penyedia energi hijau.

Proyek blue ammonia ini bertujuan untuk menyerap 2.547 CO2 dari temperature-programmed desroption (TPD) atau menangkap sekitar 69% dari total emisi CO2 dari Pabrik PAU yang ada.

Proyek blue ammonia sudah dimulai sejak 2021. Ketika itu, ESSA menandatangani komitmen MoU dengan institusi Jepang, yaitu Japan Oil, Gas and Metal National Corporation (JOGMEC), Mitsubishi Corp, dan juga Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan studi bersama untuk produksi bahan bakar bersih amoniak dengan menggunakan fasilitas dari PAU.

Lalu pada tahun 2022, ESSA menandatangani MoU dengan JGC untuk mengukur GRK di pabrik amoniak di Banggai, Sulawesi Tengah.

Pabrik amoniak Banggai, menurut manajemen, merupakan pabrik pertama dunia dengan teknologi carbon capture utilization and storage (CSSU). Melalui blue ammonia, ESSA berharap dapat membuka jalan menjadi yang terdepan dalam menyediakan bahan bakar masa depan.

Sedangkan Jepang merupakan negara yang mendorong penggunaan amoniak rendah karbon atau blue ammonia untuk menggantikan konsumsi bahan bakar. Clean Fuel Ammonia Association meperkirakan, permintaan Jepang untuk amoniak bisa naik menjadi 5 juta ton per tahun di 2030 nanti dari awal 2024 yaitu 1 juta ton per tahun.

Proses studi fase pertama telah rampung di tahun 2023 lalu. Saat ini, rencana pembangunan pabrik blue ammonia akan masuk ke fase II.

Namun, perusahaan tengah melakukan studi lebih lanjut. "Studi tersebut sangat diperlukan untuk memastikan CO2 yang akan diserap bisa aman dan berkelanjutan," kata Direktur & COO ESSA Mukesh Agrawal.

Untuk proyek blue ammonia, ESSA pernah menaksir perlu investasi antara US$ 100 juta - US$ 150 juta atau sampai Rp 1,6 triliun.

Kenakeragaman Hayati

Bersamaan dengan rencana panjang ini, ESSA melakukan rebranding grup. Menyusul pada 2023, perusahaan mengganti nama dari PT Surya Esa Perkasa Tbk menjadi PT Essa Industries Tbk.

Dengan pembaruan brand ini, ESSA bukan hanya ingin menjadi perusahaan penyedia energi dan kimia melalui kilang LPG dan pabrik amoniak, tetapi juga berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan dan pembangunan masyarakat.

Bukan hanya merambah bisnis baru, ESSA juga mengutamakan aspek lingkungan dan keanekaragaman hayati dalam operasionalnya. Dalam rangka pengelolaan lingkungan, ESSA juga telah mengantongi predikat PROPER hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Banggai Ammonia Plant (BAP) dan PROPER.

PROPER hijau diberikan kepada perusahaan tersebut, karena pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan oleh peraturan. Termasuk atas penggunaan sumber daya secara efisien dan melaksanakan tanggung jawab sosial (TJSL) dengan baik.

Sedangkan PROPER biru menunjukkan perusahaan tersebut memenuhi persyaratan kepatuhan pada regulasi lingkungan dengan baik.

Selain fokus pada regulasi lingkungan yang berlaku, ESSA mendukung pelestarian hewan langka atau endemik di wilayah operasi. Salah satu yang mereka lakukan yaitu, program konservasi burung maleo di Sulawesi. Sejak tahun 2019 hingga pertengahan 2024, ESSA Group telah berhasil melepasliarkan 325 burung Maleo kembali ke habitat asli mereka, dan berkontribusi sebesar 11% terhadap populasi burung Maleo yang ada di alam liar.

Di bidang sosial, ESSA fokus kepada kesejahteraan karyawan dan masyarakat di sekitar daerah operasional. Untuk corporate social responsibility (CSR), ESSA fokus ke bidang sosial, pendidikan dan keagamaan.

Misalnya, Panca Amara Utama telah memfasilitasi kemitraan antara BUMDES Uling di Sulawesi Tengah untuk ekspor arang tempurung kelapa untuk pertama kalinya ke Swedia. Tak hanya itu, PAU juga membantu Rp 100 juta untuk produksi keberlanjutan ekspor ini.

Di kawasan pabriknya, ESSA mengupayakan standar yang ditetapkan untuk keselamatan karyawan. Pada September lalu, pabrik amoniak berhasil mencatatkan 8 juta jam kerja kumulatif tanpa loss time injury. Sementara kilang LPG berhasil mencapai lima tahun beroperasi secara terus menerus tanpa trip. Kegiatan pemeliharaan pabrik amoniak selama hampir dua minggu pada kuartal II sebelumnya, berhasil mendorong produktivitas dan efisiensi optimal.

Saham naik

Sembari menyiapkan langkah panjang, ESSA masih akan bergantung pada bisnis amoniak dan LPG. Per akhir kuartal III-2024, ESSA mencatatkan pendapatan US$ 230,1 juta, turun 1% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Dalam bisnis LPG, meskipun produksi turun 5% menjadi 51.836 metrik ton, rata-rata harga LPG naik 8% menjadi US$ 597 per MT.

Di bisnis amoniak, meskipun rata-rata harganya turun 9% menjadi US$ 345 per MT, produksi naik 4% menjadi 560.541 MT.

Manajemen ESSA menyebut, peningkatan volume produksi dan pengendalian biaya yang baik berhasil mendorong peningkatan EBITDA.

Akhir September, EBITDA tercatat naik 47% menjadi US$ 97 juta. Laba ESSA di akhir kuartal III terbang 244% menjadi US$ 33,6 juta.

Mukesh menyebutkan, sampai akhir tahun 2024, ESSA menargetkan pendapatan US$ 300 juta - US$ 310 juta. Manajemen ESSA yakin, pada tahun 2025, bisnis ESSA bisa stabil dengan menjaga keandalan operasional.

Di papan bursa, kinerja saham ESSA cukup menarik. Harganya Rp 845 per saham pada penutupan pada Kamis (16/1). Sepanjang Januari ini, harganya sudah naik 4,32%, menjadikan harganya naik 59,43% dalam 1 tahun terakhir.

Namun, dengan kenaikan cukup besar, investor tampaknya perlu mengawasi potensi ambil untung. Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas merekomendasikan membeli ESSA jika sahamnya sudah kembali ke atas Rp 875 per saham, lalu area jual di Rp 890 - Rp 915.

Analis teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana merekomendasikan buy on weakness saham ESSA di area Rp 840 - Rp 850 per saham. Target harganya diperkirakan ke Rp 895 - Rp 910. Investor bisa stop loss jika harganya merosot ke bawah Rp 820 per saham.

Meski tetap menarik dibeli, rekomendasi saham ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham ESSA. Setiap keputusan ada di tangan masing-masing. Jadi, sesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko.

Bagikan

Berita Terbaru

Ramadan Dongkrak Trafik Data, Saham ISAT Masih Layak Dicermati?
| Senin, 09 Februari 2026 | 11:00 WIB

Ramadan Dongkrak Trafik Data, Saham ISAT Masih Layak Dicermati?

Kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) ada di jalur pemulihan yang semakin berkelanjutan. Sejak akhir 2025, ISAT mencatat lonjakan signifikan trafik data.

Ditopang Normalisasi AMMN & Tambahan PI Corridor, Kinerja MEDC Diproyeksikan Melesat
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:37 WIB

Ditopang Normalisasi AMMN & Tambahan PI Corridor, Kinerja MEDC Diproyeksikan Melesat

Dalam jangka pendek, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dipandang masih dalam fase downtrend.

Prospek ERAL Masih Menarik, Meski Tengah Menanti Kepastian Insentif Mobil Listrik
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:25 WIB

Prospek ERAL Masih Menarik, Meski Tengah Menanti Kepastian Insentif Mobil Listrik

PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) berencana menambah gerai baru sekaligus menghadirkan produk dan merek baru di berbagai segmen usaha.

Free Float Naik ke 15%, Emiten yang Tak Butuh Pendanaan Pasar Modal bisa Go Private?
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:00 WIB

Free Float Naik ke 15%, Emiten yang Tak Butuh Pendanaan Pasar Modal bisa Go Private?

Di rancangan peraturan terbaru, besaran free float dibedakan berdasarkan nilai kapitalisasi saham calon emiten sebelum tanggal pencatatan.

Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:31 WIB

Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good

Obligasi bertema ESG dan keberlanjutan akan meramaikan penerbitan surat utang di 2026. Bagaimana menakar daya tariknya?

Dharma Polimetal (DRMA) Produksi Baterai Motor Listrik
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:29 WIB

Dharma Polimetal (DRMA) Produksi Baterai Motor Listrik

Strategi tersebut ditempuh melalui penguatan kapabilitas manufaktur, diversifikasi produk bernilai tambah, serta integrasi ekosistem bisnis.

Pebisnis Minta Kepastian Izin Impor Daging Sapi
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:23 WIB

Pebisnis Minta Kepastian Izin Impor Daging Sapi

Para pelaku usaha tengah menantikan kepastian izin impor yang belum terbit. Padahal, saat ini sudah melewati waktu proses.

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:50 WIB

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN

Investor asing mencatat jual neto Rp 2,77 triliun di SBN. Tekanan jual ini diprediksi berlanjut hingga Kuartal I 2026. Pahami risikonya.

Prospek Kredit Perbankan Akan Lebih Bergairah
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:30 WIB

Prospek Kredit Perbankan Akan Lebih Bergairah

​Didorong penurunan suku bunga dan program pemerintah, OJK dan BI memproyeksikan kredit perbankan tumbuh hingga dua digit tahun ini,

Nasib Rupiah Awal Pekan: Tertekan Isu Domestik & Global
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:15 WIB

Nasib Rupiah Awal Pekan: Tertekan Isu Domestik & Global

Rupiah melemah hingga 16.887 per dolar AS. Cari tahu alasan di balik tekanan Moodys dan data ketenagakerjaan AS yang memicu gejolak

INDEKS BERITA

Terpopuler