EY: Aset Keuangan Senilai 800 Miliar Poundsterling Telah Mengalir Keluar dari Inggris

Selasa, 08 Januari 2019 | 16:37 WIB
EY: Aset Keuangan Senilai 800 Miliar Poundsterling Telah Mengalir Keluar dari Inggris
[]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - LONDON. Aset keuangan dengan nilai sedikitnya 800 miliar poundsterling mengalir keluar dari Inggris menjelang keluarnya negeri tersebut dari Uni Eropa.
Lembaga konsultan kelas dunia EY yang merilis angka tersebut pada awal pekan ini, memprediksi nilai aset yang hengkang dari Inggris bakal bertambah.

Penyebabnya, Inggris dan Uni Eropa belum mencapai kesepakatan apa pun sehubungan dengan keluarnya negeri kerajaan itu dari blok ekonomi terbesar di dunia itu. Padahal, waktu perpisahan Inggris dengan Uni Eropa tinggal dua bulan lagi. Dalam skejul terkini, Inggris bakal berpisah dengan Uni Eropa pada 29 Maret.

"Semakin dekat kita dengan tanggal itu tanpa membawa kesepakatan apa pun, maka semakin banyak aset keuangan yang dipindahkan keluar, dan semakin banyak sumber daya yang dipindahkan atau direkrut dari wilayah setempat," tutur Omar Ali, yang mengepalai layanan jasa keuangan EY untuk Inggris, seperti dikutip Reuters.

EY menyebut nilai aset keuangan yang sudah ditransfer baru memperlihatkan puncak dari gunung es masalah Brexit. Aset 8 miliar poundsterling terbilang memang terlihat receh jika disandingkan dengan nilai aset sektor perbankan Inggris Raya yang mencapai 8 triliun poundsterling.

Aset-aset keuangan Inggris itu mengalir keluar ke berbagai pusat keuangan di Dublin, Luksemburg, Frankfurt dan Paris. Frakfurt Main Finance, lembaga yang mempromosikan pusat keuangan di kota Jerman itu, memperkirakan aset keuangan senilai 750 miliar-800 miliar euro akan masuk ke kantong mereka dari Inggris selama kuartal pertama tahun ini.

Imbas Brexit terhadap sektor keuangan Inggris juga terlihat dalam perubahan tren perekrutan sumber daya manusia. "Memang tidak akan ada perpindahan lokasi sumber daya dari Inggris karena banyak perusahaan hanya mau memindahkan sumber daya yang dianggapnya penting. Menimbang besarnya biaya relokasi pekerja, perusahaan akan memilih merekrut karyawan baru di pusat keuangan yang baru," tutur Ali.

Penilaian itu sejalan dengan tidak terjadinya eksodus posisi kerja secara besar-besaran keluar dari Inggris, seperti yang pernah diperkirakan sebelumnya. Namun EY memperkirakan, ada tambahan 2.000 lowongan kerja baru di sektor keuangan di di Dublin, Luksemburg, Frankfurt dan Paris. Keempat kota itu memang digadang-gadang sebagai pusat keuangan baru Uni Eropa menggantikan London, saat Inggris tidak lagi berstatus anggota blok ekonomi Benua Biru.
 

Bagikan

Berita Terbaru

Prospek MIKA 2026 Tetap Solid dan Margin Terjaga Meski Pasien BPJS Menyusut
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:30 WIB

Prospek MIKA 2026 Tetap Solid dan Margin Terjaga Meski Pasien BPJS Menyusut

Persaingan bisnis rumah sakit semakin sengit sehingga akan memengaruhi ekspansi, khususnya ke kota-kota tier dua.

Perluas Kapasitas Panas Bumi, Prospek Saham PGEO Masih Menarik?
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:26 WIB

Perluas Kapasitas Panas Bumi, Prospek Saham PGEO Masih Menarik?

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terus menggeber ekspansi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) miliknya.

Wira Global Solusi (WGSH) Akan Menebar Saham Bonus Dengan Rasio 1:1
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:06 WIB

Wira Global Solusi (WGSH) Akan Menebar Saham Bonus Dengan Rasio 1:1

Saham bonus yang akan dibagikan PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH) berasal dari kapitalisasi tambahan modal disetor atau agio saham tahun buku 2024.

Momentum Ramadan Berpotensi Dorong Pertumbuhan Darya-Varia (DVLA)
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:02 WIB

Momentum Ramadan Berpotensi Dorong Pertumbuhan Darya-Varia (DVLA)

Momentum Ramadan dinilai bakal menjadi salah satu katalis positif bagi emiten farmasi. Salah satunya PT Darya-Varia Laboratoria Tbk.​

Proyek Hilirisasi BPI Danantara Menyengat Prospek Emiten BEI
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:56 WIB

Proyek Hilirisasi BPI Danantara Menyengat Prospek Emiten BEI

Proyek hilirisasi Danantara juga membuka peluang keterlibatan emiten pendukung, baik di sektor energi, logistik, maupun konstruksi.

Tembus Rp 5,50 Triliun, Laba Indosat (ISAT) Tumbuh Dua Digit Pada 2025
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:48 WIB

Tembus Rp 5,50 Triliun, Laba Indosat (ISAT) Tumbuh Dua Digit Pada 2025

Segmen selular jadi kontributor utama pertumbuhan kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) di sepanjang tahun 2025.

Saatnya Peningkatan Integritas Pasar Modal Menghadapi Turbulensi
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:33 WIB

Saatnya Peningkatan Integritas Pasar Modal Menghadapi Turbulensi

Pelaksanaan aturan ini tidak langsung, tapi ada waktu transisi. Ini penting agar pemilik dan pengendali punya waktu menyusun strategi 

Kinerja Bank Mandiri (BMRI) Tetap Kokoh di 2025, Diprediksi Berlanjut di 2026
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:11 WIB

Kinerja Bank Mandiri (BMRI) Tetap Kokoh di 2025, Diprediksi Berlanjut di 2026

Sentimen positif bagi BMRI di tahun 2026 berasal dari fundamental yang solid dan efisiensi berkelanjutan.

Melawan Arus Badai MSCI, Saham RALS Melesat Jelang Ramadan dan Idul Fitri 2026
| Selasa, 10 Februari 2026 | 07:57 WIB

Melawan Arus Badai MSCI, Saham RALS Melesat Jelang Ramadan dan Idul Fitri 2026

Penjualan periode Lebaran menyumbang hampir 30% dari total target penjualan tahunan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS).

Efek Berantai, Prospek Negatif Moody’s Bikin Saham Big Caps Pelat Merah Kompak Turun
| Selasa, 10 Februari 2026 | 07:43 WIB

Efek Berantai, Prospek Negatif Moody’s Bikin Saham Big Caps Pelat Merah Kompak Turun

Indonesia perlu belajar dari India yang mengalami masalah serupa pada 2012 namun bisa bangkit dan berhasil merebut kembali kepercayaan investor.

INDEKS BERITA

Terpopuler