Lagi, Menyoal MBG

Selasa, 10 Februari 2026 | 06:10 WIB
Lagi, Menyoal MBG
[ILUSTRASI. Yuwono Triatmodjo (KONTAN/Steve GA)]
Yuwono Triatmodjo | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lagi dan lagi, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan. Kali ini bukan menyoal jumlah korban keracunan, melainkan penilaian lembaga pemeringkat global terhadap program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut.

Berawal dari keputusan Moody's Ratings yang menurunkan prospek (outlook) peringkat kredit Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif, yang diumumkan Kamis (5/2/2026). Meski, lembaga tersebut tetap menyematkan peringkat layak investasi (investment grade) bagi Indonesia di posisi Baa2.

Tegas dinyatakan, salah satu faktor penyebab pemangkasan outlook tersebut adalah program MBG. Menurut Moody's, program unggulan Presiden Prabowo ini dibiayai melalui realokasi dan pemangkasan belanja kementerian, termasuk anggaran pemeliharaan infrastruktur. Kondisi tersebut dinilai mereka, dapat menekan fleksibilitas anggaran negara.

Singkatnya, Moody's mengingatkan agar program MBG sebaiknya tidak turut menekan kondisi fiskal negara, yang mengakibatkan kian lebarnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Telah banyak diberitakan bahwa alokasi MBG tahun 2026 bernilai total Rp 335 triliun dengan target 82,9 juta penerima. Angka ini melonjak 371,83% dari anggaran tahun 2025 yang berjumlah Rp 71 triliun.

Jauh-jauh hari, peringatan sudah digaungkan Nomura Holdings institusi investasi asal negeri Sakura, sejak Februari 2025 silam. Kala itu, lembaga ini memprediksi defisit APBN 2025 akan membengkak menjadi 3,4% dari produk domestik bruto (PDB). Meski pada akhirnya ditutup di posisi 2,92% atau masih di bawah ambang batas 3% seperti diatur dalam Undang-Undang, namun angka defisit itu tetap saja ada di atas target awal pemerintah 2,53%.

Baru-baru ini, Citigroup memperkuat kekhawatiran Nomura dengan memberikan prediksi defisit APBN tahun 2026 berpotensi meningkat menjadi 3,5% PDB.

Hal tersebut memberikan gambaran, bahwa sejumlah pihak mengkhawatirkan defisit APBN Indonesia menembus ambang batas 3%.

Citigroup menyebut bahwa peningkatan defisit terutama dipicu oleh lonjakan belanja pemerintah, salah satunya MBG, di tengah seretnya kinerja penerimaan negara.

Alih-alih berkaca dan mengevaluasi program MBG, salah seorang pejabat pemerintah justru lantang menyebut program MBG lebih mendesak, ketimbang penciptaan lapangan kerja. Duh Gusti!

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Peluang Penguatan Saham Danantara
| Rabu, 22 Juli 2026 | 06:06 WIB

Peluang Penguatan Saham Danantara

Isu tata kelola Danantara masih menjadi salah satu sentimen yang membayangi pergerakan saham-saham pelat merah pada separuh kedua tahun 2026

Dana Asing Kembali Perlahan ke Bursa
| Rabu, 22 Juli 2026 | 06:04 WIB

Dana Asing Kembali Perlahan ke Bursa

Net buy asing dalam sepekan terakhir ke pasar saham Indonesia merupakan sinyal awal yang positif, namun, belum tentu menjadi tren struktural.

Efisiensi Beban dan Laba Kurs Menopang Lonjakan Laba Bersih PTPP
| Rabu, 22 Juli 2026 | 06:02 WIB

Efisiensi Beban dan Laba Kurs Menopang Lonjakan Laba Bersih PTPP

PT PP Tbk (PTPP) berhasil melipatgandakan laba bersih pada semester I 2026, di tengah pendapatan yang masih tertekan. 

Sido Muncul Dorong Pasar Ekspor dan Efisiensi
| Rabu, 22 Juli 2026 | 06:00 WIB

Sido Muncul Dorong Pasar Ekspor dan Efisiensi

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) menargetkan kinerja tahun ini relatif mendatar di tengah kelesuan konsumsi. 

Risiko Kredit Bayangi Laba Industri Fintech
| Rabu, 22 Juli 2026 | 05:50 WIB

Risiko Kredit Bayangi Laba Industri Fintech

Industri pinjaman daring mengantongi laba Rp 1,08 triliun, atau naik 37,43% secara tahunan per Mei 2026. 

Rekening Valas Tumbuh Lampaui Rekening Rupiah
| Rabu, 22 Juli 2026 | 05:30 WIB

Rekening Valas Tumbuh Lampaui Rekening Rupiah

Pelemahan kurs mendorong masyarakat memperbesar kepemilikan dana dalam valas.                             

Indonesia Mendapat Hibah Kapal Induk Italia Senilai Rp 1,1 Triliun
| Rabu, 22 Juli 2026 | 05:25 WIB

Indonesia Mendapat Hibah Kapal Induk Italia Senilai Rp 1,1 Triliun

Sebelumnya pemerintah menerima sejumlah hibah alutsista dari negara mitra, di antaranya kapal patroli dari Jepang serta rantis dari Australia.

Permintaan Lesu, Indonesia Fibreboard (IFII) Proyeksi Kinerja Melambat di Tahun Ini
| Rabu, 22 Juli 2026 | 05:20 WIB

Permintaan Lesu, Indonesia Fibreboard (IFII) Proyeksi Kinerja Melambat di Tahun Ini

Meski demikian, IFII tetap menargetkan penjualan dan laba bersih dapat tumbuh positif dibandingkan tahun sebelumnya.

Pemerintah Finalisasi Perpres Ekosistem Transportasi Daring
| Rabu, 22 Juli 2026 | 05:20 WIB

Pemerintah Finalisasi Perpres Ekosistem Transportasi Daring

Regulasi ini diharapkan menjadi payung hukum yang memberikan kepastian bagi seluruh pelaku dalam ekosistem transportasi digital. ​

BGN Pangkas Penerima Makan Bergizi Gratis
| Rabu, 22 Juli 2026 | 05:10 WIB

BGN Pangkas Penerima Makan Bergizi Gratis

Badan Gizi Nasional (BGN) tengah melakukan refocusing program MBG sebagai efek dari efisiensi anggaran.

INDEKS BERITA

Terpopuler