Fiskal Hijau Penangkal Bencana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bencana Sumatra di akhir November-Desember 2025 menjadi bukti betapa mahalnya harga yang harus dibayar akibat absennya fiskal hijau. Saat distribusi pangan lumpuh dan Lintas Sumatra terputus, kita sadar bahwa menjaga hulu bukan lagi soal hobi lingkungan, melainkan syarat mutlak agar ekonomi daerah tidak terus-menerus terjerembap dalam kebangkrutan ekologis di masa depan.
Banjir besar di Medan, longsor di kawasan Tapanuli, hingga banjir bandang (galodo) yang kembali menghantam lembah-lembah Sumatra Barat dan Aceh bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Polanya konsisten, kerusakan lanskap di wilayah hulu bermuara pada krisis di wilayah hilir. Dampaknya bukan hanya korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga kerugian ekonomi hingga triliunan rupiah yang kembali menggerus anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Anggaran daerah akhirnya tersedot untuk tanggap darurat -- setelah bencana terjadi, bukan untuk mencegah risiko sejak awal.
Baca Juga: Tahun 2026 Fase Transisi, Hati-Hati Membidik Cuan dari Aset Kripto
