Gedung Putih Minta Penundaan Sanksi Terkait Huawei

Senin, 10 Juni 2019 | 17:16 WIB
Gedung Putih Minta Penundaan Sanksi Terkait Huawei
[]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Gedung Putih telah meminta tambahan waktu penundaan larangan bagi perusahaan-perusahaan yang melakukan bisnis dengan raksasa telekomunikasi China, Huawei. Itu perlu dilakukan untuk memastikan implementasi larangan tersebut berjalan efektif tanpa mengorbankan tujuan keamanan yang diinginkan pemerintah Amerika Serikat (AS).

"Ini untuk memastikan bahwa perusahaan yang melakukan bisnis dengan pemerintah AS atau menerima hibah dan pinjaman federal punya waktu untuk membebaskan diri dari bisnis dengan Huawei dan perusahaan teknologi China lainnya yang terdaftar di NDAA," kata Jacob Wood, juru bicara Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih, seperti dikutip dari Reuters, (10/6).

Sebelumnya, Russell Vought Direktur Pelaksana Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih, pada Selasa (4/6) waktu setempat telah melayangkan surat kepada Wakil Presiden AS Mike Pence dan sembilan anggota Kongres AS. Vought menyebut, tanpa ada tambahan waktu, larangan ini akan menimbulkan terlalu banyak beban bagi perusahaan-perusahaan AS. Jumlah kontraktor yang selama ini memasok produk ke pemerintah AS akan berkurang drastis.

Ia meminta agar pembatasan pembelian peralatan Huawei yang dikenakan pada kontraktor pemerintah dimulai dalam empat tahun, bukan dua tahun. Penundaan akan memungkinkan "waktu tambahan untuk memikirkan dampak potensial terkait dan kemungkinan solusi," katanya.

Undang-undang pertahanan, yakni National Defense Authorization Act (NDAA) yang disahkan tahun lalu, melarang penggunaan uang federal untuk membeli produk-produk dari Huawei. Itu termasuk larangan pembelian peralatan Huawei secara langsung oleh pemerintah federal yang akan mulai berlaku tahun ini. Langkah ini dilakukan dengan alasan masalah keamanan nasional.

Namun permintaan penundaan ini tidak akan memengaruhi aturan Departemen Perdagangan AS yang telah memasukkan Huawei ke daftar hitam. Huawei dilarang membeli suku cadang dan peralatan dari perusahaan AS tanpa persetujuan pemerintah.

Pada bulan lalu Presiden Donald Trump juga menandatangani perintah eksekutif yang melarang perusahaan-perusahaan AS menggunakan peralatan telekomunikasi yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan yang dianggap memiliki risiko keamanan nasional.

Bagikan

Berita Terbaru

Strategi Dafam (DFAM) untuk Momen Akhir Tahun
| Senin, 26 Oktober 2026 | 06:50 WIB

Strategi Dafam (DFAM) untuk Momen Akhir Tahun

PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) memproyeksikan bisnis lebih ramai pada kuartal IV-2026 dibandingkan kuartal sebelumnya.

Mayapada Hospital (SRAJ) Ekspansi Layanan di Tangerang
| Senin, 26 Oktober 2026 | 06:46 WIB

Mayapada Hospital (SRAJ) Ekspansi Layanan di Tangerang

Bidik pasien kanker, PT Sejahtera Anugrahjaya Tbk (SRAJ) memperkuat kapasitas Mayapada Hospital Tangerang

DP 0% Diperpanjang, Penjualan Sepeda Motor Tak Serta Merta Gacor
| Senin, 26 Oktober 2026 | 06:44 WIB

DP 0% Diperpanjang, Penjualan Sepeda Motor Tak Serta Merta Gacor

Kebijakan uang muka atau down payment (DP) minimum 0% untuk kredit kendaraan bermotor diperpanjang hingga akhir 2027.

Gejolak Pasar Ancam Emiten Investasi
| Senin, 26 Oktober 2026 | 06:37 WIB

Gejolak Pasar Ancam Emiten Investasi

Akibat gejolak pasar saham, kinerja emiten holding investasi berpotensi baru bisa pulih pada 2027 mendatang

Ketentuan Free Float Bisa Jadi Bumerang
| Senin, 26 Oktober 2026 | 06:34 WIB

Ketentuan Free Float Bisa Jadi Bumerang

Potensi delisting mengintai sejumlah emiten jika tidak ada relaksasi ketentuan batas minimum free float

Amunisi RUPTL Baru Emiten EBT
| Senin, 26 Oktober 2026 | 06:30 WIB

Amunisi RUPTL Baru Emiten EBT

Mengintip cuan para emiten energi terbarukan (EBT) di tengah rencana penambahan kapasitas pembangkit EBT

Tekanan pada Rupiah Diproyeksi Masih Kuat pada Senin (26/10)
| Senin, 26 Oktober 2026 | 06:15 WIB

Tekanan pada Rupiah Diproyeksi Masih Kuat pada Senin (26/10)

Kenaikan harga minyak mentah dunia di akhir pekan bakal jadi faktor penekan rupiah pada awal pekan ini.

Hubungan Indonesia-Singapura dan Tetangga yang Respek
| Senin, 26 Oktober 2026 | 06:10 WIB

Hubungan Indonesia-Singapura dan Tetangga yang Respek

Hanya saja, menjaga hubungan baik bukan berarti mengalah atau mengabaikan kepentingan nasional. Kedua negara harus saling respek.

Inflow ke Pasar SBN Masih Tertahan Premi Risiko
| Senin, 26 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Inflow ke Pasar SBN Masih Tertahan Premi Risiko

Yield US Treasury melandai hingga sempat menyentuh 4,9% pada Kamis (22/10), dan ditutup menguat tipis di level 5% pada Jumat (23/10).

Harga Emas Keluar dari US$ 4.000, Level US$ 3.950 Jadi Penentu Tren
| Senin, 26 Oktober 2026 | 05:30 WIB

Harga Emas Keluar dari US$ 4.000, Level US$ 3.950 Jadi Penentu Tren

Apabila ekspektasi suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, daya tarik emas relatif terhadap instrumen berbunga dapat berkurang.

INDEKS BERITA

Terpopuler