Gubernur PBOC Yi Gang: Renminbi Akan Menjadi Mata Uang yang Kuat

Selasa, 06 Agustus 2019 | 22:25 WIB
Gubernur PBOC Yi Gang: Renminbi Akan Menjadi Mata Uang yang Kuat
[]
Reporter: Herry Prasetyo | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank sentral China, People's Bank of China (PBOC), memberikan tanggapan terkait pelemahan mata uang renminbi (RMB) alias yuan.

Kemarin, nilai tukar renminbi alias yuan terhadap dollar Amerika Serikat (AS) anjlok ke posisi terendah dalam satu dekade terakhir.

Nilai tukar renminbi telah menembus posisi kunci di atas 7 yuan per dollar AS.

Beredar spekulasi, China sengaja membiarkan mata uangnya terus melemah di tengah perang dagang dengan AS.

Dalam pernyataan resmi yang diunggah di situs PBOC, Gubernur PBOC Yi Gang mengatakan, dalam situasi ekonomi internasional dan friksi perdagangan, telah muncul beberapa situasi baru belakangan ini.

Selain itu, ekspektasi pasar juga telah mengalami beberapa perubahan.

Hal itulah, menurut Yi Gang, yang membuat banyak mata uang telah terdepresiasi terhadap dollar AS sejak Agustus.

Nilai tukar yuan, Yi Gang bilang, juga telah terpengaruh sampai batas tertentu.

"Flutuasi ini didorong dan ditentukan oleh pasar," ujar Yi Gang dalam keterangan resmi.

Sebagai negara besar yang bertanggung jawab, Yi Gang menambahkan, China akan mematuhi semangat pertemuan kepala pemerintahan G20 mengenai nilai tukar, mematuhi sistem nilai tukar yang ditentukan pasar, tidak terlibat dalam devaluasi kompetitif, dan tidak menggunakan nilai tukar untuk tujuan kompetitif.

China, kata Yi Gang, juga tidak akan menggunakan nilai tukar sebagai alat untuk menangani gangguan eksternal seperti sengketa perdagangan.

"Selama ini, Poeple's Bank of China berkomitmen untuk mempertahankan nilai tukar renmimbi yang stabil dan seimbang pada tingkat yang wajar dan seimbang. Upaya ini diyakini jelas bagi semua orang," ujar Yi Gang.

Menurut Yi Gang, ekonomi China saat ini stabil dan maju. Pertumbuhan ekonominya berada di peringkat teratas di negara-negara utama, menunjukkan ketahanan, potensi, dan ruang gerak yang besar.

Neraca pembayaran internasional seimbang, cadangan devisa mencukupi, dan semakin banyak perusahaan yang melakukan lindung nilai di pasar valuta asing.

Selisih alias spread antara China dan negara-negara maju utama berada dalam kisaran yang sesuai dan dapat mendukung stabilitas dasar nilai tukar renminbi.

People's Bank of China dan the State Administration of Foreign Exchange, kata Yi Gang, akan menjaga stabilitas dan kontinuitas kebijakan manajemen valuta asing dan menjamin penggunaan valuta asing yang sah oleh pelaku pasar seperti perusahaan dan individu.

"Kami akan memperdalam reformasi dan membuka sektor valuta asing, lebih lanjut meningkatkan liberalisasi dan fasilitasi perdagangan dan investasi lintas batas, dan melayani pengembangan ekonomi riil dan pengembangan pola baru keterbukaan komprehensif," ujar Yi Gang.

Apakah itu dari fundamental ekonomi China atau dari keseimbangan penawaran dan permintaan pasar, Yi Gang menegaskan, nilai tukar renminbi saat ini berada pada tingkat yang sesuai.

"Meski nilai tukar RMB telah berfluktuasi karena ketidakpastian eksternal bari-baru ini, saya yakin bahwa RMB akan terus menjadi mata uang yang kuat," kata Yi Gang.

PBOC, menurut Yi Gang, memiliki pengalaman dan kemampuan penuh untuk menjaga kelancaran operasi pasar valuta asing dan menjaga nilai tukar renminbi tetap stabil pada tingkat yang masuk akal dan seimbang.

Bagikan

Berita Terbaru

Dyandra Media (DYAN) Bidik Pertumbuhan Kinerja Sebesar 10% di Tahun Ini
| Jumat, 30 Januari 2026 | 06:15 WIB

Dyandra Media (DYAN) Bidik Pertumbuhan Kinerja Sebesar 10% di Tahun Ini

Pada 2026 segmen bisnis promotor musik, operator venue dan professional event organizer ini terus dioptimalkan dengan sejumlah strategi.​

Meski Dolar Tertekan, Fluktuasi Valas Asia Masih Tinggi
| Jumat, 30 Januari 2026 | 06:15 WIB

Meski Dolar Tertekan, Fluktuasi Valas Asia Masih Tinggi

Pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY diperkirakan masih akan berlanjut hingga kuartal I-2026

Au Ah Gelap
| Jumat, 30 Januari 2026 | 06:10 WIB

Au Ah Gelap

Investor perorangan yang masih menahan floating loss cemas karena mereka tak tahu sampai di titik mana harga saham yang mereka miliki akan jatuh.

IHSG Tertekan, Lebih Baik Masuk Perlahan Jika Ingin Aman
| Jumat, 30 Januari 2026 | 06:01 WIB

IHSG Tertekan, Lebih Baik Masuk Perlahan Jika Ingin Aman

Potensi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berlanjut, meskipun ada peluang rebound teknikal

Kawasan Industri Lirik Potensi Bisnis Semikonduktor
| Jumat, 30 Januari 2026 | 06:00 WIB

Kawasan Industri Lirik Potensi Bisnis Semikonduktor

HKI undang perusahaan global membentuk perusahaan patungan atau joint venture (JV) dengan perusahaan lokal dalam pengembangan semikonduktor.

Harga Saham MBMA: Tiga Analis Kompak Rekomendasi Beli, Targetnya Segini
| Jumat, 30 Januari 2026 | 06:00 WIB

Harga Saham MBMA: Tiga Analis Kompak Rekomendasi Beli, Targetnya Segini

Volatilitas harga nikel dan kuota produksi nasional menekan MBMA. Ketahui tantangan dan dampaknya pada prospek saham Anda.

Alfamart (AMRT) Akan Membuka 100 Gerai di Bangladesh
| Jumat, 30 Januari 2026 | 05:57 WIB

Alfamart (AMRT) Akan Membuka 100 Gerai di Bangladesh

AMRT telah membuka gerai perdana di Dhaka, Bangladesh pada 27 Januari 2026 lalu. Langkah ini berpeluang mendorong prospek kinerja AMRT.

IHSG Terjungkal, Dapen hingga Asuransi Tunggu Waktu yang Tepat untuk Menyerok Saham
| Jumat, 30 Januari 2026 | 05:35 WIB

IHSG Terjungkal, Dapen hingga Asuransi Tunggu Waktu yang Tepat untuk Menyerok Saham

Rontoknya IHSG dalam dua hari terakhir membuka kesempatan bagi Industri Keuangan Non Bank (IKNB) menyerok saham saat harganya jatuh

Target Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) Menarik 9,59 Juta Pengunjung
| Jumat, 30 Januari 2026 | 05:20 WIB

Target Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) Menarik 9,59 Juta Pengunjung

Pada bisnis eksisting, PJAA akan terus melakukan pembaruan tema kawasan, peningkatan kualitas wahana, dan penguatan pengalaman pengunjung.

IHSG Anjlok 8,33% dalam 2 Hari, Intip Prediksi Hari Terakhir Januari (30/1)
| Jumat, 30 Januari 2026 | 04:45 WIB

IHSG Anjlok 8,33% dalam 2 Hari, Intip Prediksi Hari Terakhir Januari (30/1)

Dalam dua hari penurunan saja, IHSG jatuh 8,33% setelah MSCI mengumumkan potensi penurunan status pasar saham Indonesia ke frontier market.

INDEKS BERITA

Terpopuler