Berita Bisnis

Harga Batubara Mengerek Kinerja Keuangan TOBA

Kamis, 18 November 2021 | 04:00 WIB
Harga Batubara Mengerek Kinerja Keuangan TOBA

Kontan + Kompas.id : Rp 95.000 Hemat hingga 55%

Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Lonjakan harga batubara mengerek pendapatan PT TBS Energi Utama Tbk. Emiten berkode saham TOBA di Bursa Efek Indonesia ini meraih pendapatan senilai US$ 286,8 juta, atau naik 4,1% year on year di periode sembilan bulan tahun ini. TOBA masih mengandalkan batubara dalam mendongkrak kinerja meskipun perusahaan sudah memiliki diversifikasi bisnis ke energi terbarukan. 

TBS Energi Utama memiliki tiga perusahaan tambang batubara yakni PT Adimitra Baratama Nusantara, PT Trisensa Coal dan PT Indomining yang berlokasi di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Adapun total produksinya sekitar 3 juta sampai 4 juta metrik ton per tahun (MMtpa). 
 
Direktur TBS Energi Utama, Alvin Firman Sunanda bilang, pasca pandemi Covid-19 terjadi pemulihan ekonomi, baik secara global maupun domestik. Ekonomi Indonesia mulai pulih tercermin dari indeks manufaktur yang meningkat dan perkiraan produk domestik bruto yang cukup sehat. 
 
Dengan pemulihan ekonomi, permintaan batubara ikut menanjak dan berdampak pada harganya yang sempat mencapai US$ 254 per ton. "Sentimen positif ini berpotensi meningkatkan permintaan yang kuat dan berkelanjutan di sektor pertambangan dan listrik," jelas dia dalam paparan publik virtual, Rabu (17/11). 
 
Terungkitnya industri batubara tahun ini tercermin dari kinerja keuangan TOBA yang masih didominasi segmen pertambangan batubara dan perdagangan batubara selama sembilan bulan tahun ini. 
Alvin memaparkan, pada September 2021, TOBA mencatat penjualan konsolidasi US$ 286,8 juta atau naik 4,1% (yoy). Perolehan ini terutama dari pertambangan batubara senilai US$ 124 juta, disusul perdagangan batubara senilai US$ 106 juta, dan lain-lain/kelistrikan US$ 52 juta. 
 
"Pendapatan pertambangan dan perdagangan batubara yang meningkat seiring meningkatnya harga global batubara. Kenaikan ini cukup mengkaver penurunan dari pendapatan di pembangkit listrik yang disebabkan proyek PLTU Sulbagut 1 dan Sulut 3 dalam tahap penyelesaian proyek," jelas dia. 
 
Pada sembilan bulan tahun ini, Alvin memaparkan, terjadi pemulihan harga jual rata-rata menjadi US$ 56,8 per ton dari sebelumnya di 2020 US$ 54,1 per ton. Kemudian ada peningkatan EBITDA per ton meskipun volume batubara yang dijual lebih rendah. 
 
Volume produksi TOBA menurun 24% (yoy) menjadi 1,9 juta ton dari 2,5 juta ton di periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun volume penjualan juga mengalami koreksi sampai 22,2% (yoy) menjadi 2,1 juta ton. Penurunan volume penjualan pertambangan sejalan dengan penurunan produksi karena curah hujan yang tinggi di kuartal ketiga tahun ini dan penyesuaian mine plan.
 
Selama sembilan bulan tahun ini, Alvin menjelaskan,  strategi pemasaran TOBA mengutamakan penjualan ke basis tujuan ekspor yang lebih terdiversifikasi. Tercatat, porsi penjualan ke Tiongkok naik menjadi 52% dari sebelumnya setara 25% per 30 September 2020.
 
Disusul penjualan ke Hong Kong sebesar 26% atau melonjak dari sebelumnya 4% di periode yang sama tahun 2020. Adapun sisanya, TOBA menjual batubara ke India, Thailand, Bangladesh, Vietnam dan Filipina. 
 
Seiring kenaikan harga jual rata-rata, laba operasi TOBA tumbuh 5,5% (yoy) menjadi US$ 69,3 juta. Adapun EBITDA Adjusted selama Januari-September 2021 tercatat US$ 75 juta, meningkat 5% yoy. 
 
TOBA juga mencatatkan margin EBITDA sebesar 15,2%, menunjukkan pengelolaan biaya yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga September 2021, TOBA telah menyerap belanja modal senilai US$ 36 juta untuk proyek PLTU Sulbagut 1 dan PLTU Sulut 3.       

Terbaru