Harga Emas Antam Turun, Ini Saat Tepat Beli

Jumat, 29 April 2022 | 03:45 WIB
Harga Emas Antam Turun, Ini Saat Tepat Beli
[]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjelang hari lebaran, toko emas dipadati para calon pembeli. Lantas, apakah periode ini saat tepat untuk membeli emas atau justru sebaliknya? 

Maklum, jelang lebaran harga emas batangan bersertifikat Antam justru bergerak turun. Kamis (28/4), harga emas Antam berada di Rp 975.000 per gram. Sementara harga buyback berada di Rp 876.000 per gram.

Analis Global Kapital Investama menyebut, penurunan harga emas saat ini bisa jadi periode tepat bagi para masyarakat untuk membeli logam mulia. Namun, ia mengingatkan, investasi emas fisik harus dengan tujuan investasi jangka panjang. 

Baca Juga: Hartadinata Abadi (HRTA) Bidik Penjualan hingga Rp 8 Triliun pada Tahun Ini

Maklum, kenaikan harga emas jangka pendek terbatas. Investor bahkan bisa merugi lantaran harga buyback lebih rendah. "Bagi investor yang sudah punya emas, mungkin lebih baik hold terlebih dahulu karena secara jangka panjang masih ada potensi kenaikan," kata Alwi, Rabu (27/4).

Efek The Fed

Analis DC Futures Lukman Leong juga bilang, dalam waktu dekat harga emas masih bisa terkoreksi didorong  kebijakan The Fed yang ultra agresif dalam menaikkan suku bunga acuan. Dampaknya, dollar Amerika Serikat (AS) akan menguat, sehingga harga emas bisa tertekan.

Menurut Lukman, emas Antam akan sangat menarik untuk dikoleksi ketika menembus di bawah level Rp 950.000 per gram. Ia meyakini ke depannya harga emas punya peluang menguat. 

Lukman menilai, potensi konflik Ukraina dan Rusia berlanjut dalam waktu yang lebih lama serta adanya kemungkinan ekonomi melambat akibat kebijakan lockdown di China bisa mengerek harga emas naik lagi. "Mungkin akhir kuartal III-2022 akan terlihat efek kebijakan The Fed mereda dan emas mencapai level menarik bagi investor," ujar dia. Lukman memperkirakan harga emas spot bisa turun ke US$ 1.750 per ons troi. 

Alwi juga melihat, konflik Rusia dan Ukraina akan terus menimbulkan ketidakpastian, sehingga emas akan diminati sebagai safe haven. Apalagi, ada kabar Rusia akan menghentikan ekspor gas ke Polandia, mengindikasikan konflik belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Alwi menambahkan, kekhawatiran terkait inflasi yang tinggi justru menguntungkan emas. Sebab emas berpotensi diburu untuk lindung nilai. "Kemungkinan harga emas dunia akhir tahun nanti ada di US$ 1.950 per ons troi, sebelum menembus US$ 2.000 tahun depan," kata dia. Lalu emas Antam akan mencapai Rp 990.000 di akhir tahun.

Baca Juga: Cek Harga Emas Siang Ini di Pegadaian, Kamis 28 April 2022

Hitungan Lukman, harga emas Antam bisa kembali ke Rp 1 juta akhir tahun nanti. Sementara emas spot akan berada di US$ 1.900 per ons troi tahun ini dan US$ 2.100 per ons troi tahun depan. 

Bagikan

Berita Terbaru

Jangan Serakah Serok Beli Saham dan Panic Sell Berlebihan
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:53 WIB

Jangan Serakah Serok Beli Saham dan Panic Sell Berlebihan

Dengan kondisi pasar saham yang memerah, bagaimana saran keputusan investasi saat ini?              

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:54 WIB

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran

Preferensi masyarakat terhadap pembayaran tunai banyak dipengaruhi oleh kenyamanan dan kemudahan yang dirasakan.

Meredam Inflasi
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:34 WIB

Meredam Inflasi

Masalahnya, lonjakan harga pangan semakin menjadi persoalan, karena terjadi saat daya beli masyarakat masih melemah.

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:57 WIB

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa

Perbedaan porsi pasien jadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor dalam menilai potensi dampak tambahan dana BPJS Kesehatan.

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:21 WIB

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income

Keberlanjutan insentif PPN DTP dan stabilitas suku bunga sebagai faktor yang dapat mendorong pemulihan permintaan properti.

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:58 WIB

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi emiten yang paling langsung terpapar pergerakan harga minyak.

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:20 WIB

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah

Tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat sejumlah saham kini diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PER) di bawah rata-rata. 

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar

Volatilitas DSSA cenderung lebih tinggi dibandingkan saham berkapitalisasi besar lain yang punya basis pemegang saham lebih luas.

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:03 WIB

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas

Secara nominal, kredit Rp 400 triliun setara sekitar 1,5% dari produk domestik bruto (PDB)          

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:02 WIB

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok

Kerugian investasi menekan kinerja PT Bukalapak.com (BUKA), hingga berbalik mencatatkan rugi bersih.

INDEKS BERITA