Hasil Survei: Perkerja Lansia Lebih Dapat Dipercaya Ketimbang Tenaga Muda

Rabu, 21 Agustus 2019 | 06:25 WIB
Hasil Survei: Perkerja Lansia Lebih Dapat Dipercaya Ketimbang Tenaga Muda
[ILUSTRASI. HARI LANJUT USIA NASIONAL]
Reporter: Agung Hidayat, Amalia Fitri, Andy Dwijayanto, Muhammad Julian | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tua tidak selamanya terbuang. Ternyata pekerja lanjut usia (lansia) rupanya masih menjadi kelompok tenaga kerja andalan pada badan-badan usaha di sejumlah negara.

Survei Australian Human Rights Institute (AHRI) terhadap sejumlah responden memperlihatkan bahwa sebanyak 59,69% responden merasa pekerja lansia lebih dapat dipercaya dibandingkan tenaga kerja yang lebih muda.

Sementara itu, sebanyak 39,24% responden merasa pekerja lansia maupun yang lebih muda memiliki reliabilitas yang sama saja. Adapun sebanyak 1,07% responden sisanya berpandangan bahwa tenaga kerja yang lebih muda cenderung lebih bisa dipercaya.

Temuan yang sama juga menunjukkan sebanyak 73,84% responden merasa bahwa pekerja lansia cenderung lebih loyal dibandingkan pekerja yang lebih muda. Kemudian sebanyak 39,24% merasa berpandangan bahwa pekerja lansia maupun yang lebih muda punya loyalitas yang kurang lebih sama. Sedangkan sebanyak 0,48% sisanya merasa pekerja muda memiliki loyalitas yang lebih baik ketimbang pekerja lansia.

Fenomena perusahaan yang masih menganggap pekerja uzur cukup bermanfaat, misalnya, bisa ditemui di Jepang. Mengutip publikasi Asian Nikkei Review pada 28 Mei 2019, jumlah pekerja lansia yang bekerja pada sektor manufaktur cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2008, proporsi tenaga kerja berusia di atas 65 tahun di sektor manufaktur tercatat sebesar 6,5%. Proporsi tersebut meningkat sebesar 2,4 poin menjadi 8,9% di tahun 2018.

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Faktanya, jumlah lansia terus bertambah selama hampir 50 tahun terakhir, yakni pada kurun waktu tahun 1971 hingga 2018.

Baca Juga: Dengan perencanaan pensiun yang tepat, hari tua terasa nikmat

Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan Indonesia akan memiliki sekitar 63,31 juta warga lansia atau setara dengan hampir 20% dari populasi di tahun 2045.

Mengacu data BPS, saat ini Indonesia sedang dalam masa transisi menuju ke arah struktur penduduk tua atau aging population lantaran persentase penduduk berusia di atas 60 tahun melebihi 7% dari keseluruhan penduduk.

 

Dengan terus bertambahnya kelompok lansia, negara telah mengantisipasi dengan merumuskan penghargaan dan penghormatan kepada lansia dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 13/1998 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia. Para lansia mendapatkan hak untuk meningkatkan kesejahteraan sosialnya melalui pemberian kesempatan kerja.

Namun, belum semua perusahaan memberikan kesempatan tersebut kepada para lansia. Maklumlah, masih ada semacam stereotip mengenai lansia yang dianggap sudah tidak produktif, lemah, hingga pikun.

Lansia katalisator

Meski begitu, sejumlah perusahaan masih memberikan kesempatan bagi lansia untuk bekerja di perusahaan mereka. Misalnya PT Tigaraksa Satria Tbk (TGKA). Saat ini, sekitar 1% dari total karyawan sebanyak 1.750 orang terdiri atas pekerja lansia, yang memiliki rentang usia 55 hingga 61 tahun.

Presiden Direktur PT Tigaraksa Satria Tbk, Lianne Widjaja mengatakan, pekerja lansia merupakan eks karyawan perusahaan yang kembali mendapatkan kesempatan kerja setelah melalui masa pensiun normal di usia 55 tahun. Pekerja lansia ini mempunyai keunggulan kompetensi, pengetahuan dan pengalaman dibandingkan para juniornya yang lebih muda.

"Mostly mereka adalah para leader yang justru menjadi katalisator dan controller bagi pencapaian kinerja tim di usia produktif, ungkap Lianne kepada KONTAN, Kamis (15/8) pekan lalu.

Penghargaan serupa diterapkan manajemen PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).

Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat, mengaku tak pernah melarang karyawan berusia lanjut tetap bekerja, jika mereka menginginkan. "Kalau masih mau bekerja ya boleh. Dulu kan aturannya pensiun 58 tahun, jauh sebelum go public, kami terapkan bagi yang masih mau, ya silakan," kata dia kepada KONTAN, Jumat (16/8) lalu.

Menurut Irwan, masih cukup banyak tenaga dari biro iklan dan pemasok Sido Muncul yang berusia lanjut dan manajemen masih mempertahankan mereka. "Kalau diganti, sepertinya melanggar aturan, melanggar aturan hati nurani," sebut Irwan.

Soal produktivitas, performance pekerja lansia tak kalah dengan anak muda. "Saya tidak bilang anak muda jelek, tapi buktinya dengan mempertahankan mereka yang lanjut usia, perusahaan kami tetap mampu maju," klaim Irwan.

Maka tak heran, banyak yang tetap meneruskan bekerja di Sido Muncul hingga tutup usia. Pasalnya, perusahaan terus menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan mengedepankan kekeluargaan jika menghadapi suatu masalah.

Irwan pun membocorkan resepnya, yakni memberikan kesempatan mereka waktu untuk memikirkan jika ingin pensiun. Lantas, lingkungan perusahaan harus baik. "Dan paling penting, percaya serta punya loyalitas dengan perusahaan, itu saja. Perusahaan ini baik dan akan mengelola dengan baik," ungkap dia.

Baca Juga: Berusia 29 Tahun di Pasar Modal, Begini Kisah Bumi Resources Setelah IPO (Bagian 3)

Presiden Direktur PT Champion Pacific Indonesia Tbk (IGAR), Antonius Muhartoyo, pun mengamini. Tidak gampang mencari pengganti tenaga lama di industri kemasan. "Sebab, pabrikasi bekerja sangat presisi karena berkaitan dengan packaging obat," ujar dia.

Antonius tak sungkan menggaji lebih mahal pekerja yang punya kapabilitas tinggi. Bagi manajemen IGAR, mempertahankan SDM adalah bagian dari mempertahankan aset perusahaan. Alhasil, masih banyak pekerja usia lanjut yang dipertahankan, baik bagian operator maupun staf biasa. "Mereka yang sudah lansia dipertahankan karena integritas dan semangat kerjanya yang tinggi," kata dia.

IGAR juga menjaga agar aspek kesejahteraan dan jaminan sosial pekerja tetap tercukupi.

Melayani kebutuhan lansia

Perlahan tapi pasti, bisnis hunian untuk lansia atau senior living dan senior club di Indonesia mengalami pertumbuhan. Sebab, ada gap yang cukup lebar antara supply dan demand.

Marlin Marpaung, Presiden Direktur Senior Living D'Khayangan yang juga Ketua Asosiasi Senior Living Indonesia (ASLI) menyatakan, bisnis senior living bertumbuh, terlihat dari pasokan yang mengikuti permintaan pasar.

Baca Juga: ASLI: Kebutuhan rumah untuk lansia tahun ini 14 juta

"Secara kapasitas total baik senior living dan senior club itu pertumbuhannya bisa 25% karena ada 2-3 perusahaan yang terus bangun. Kalau sebelumnya supply hanya 400 unit per tahun ini bisa mencapai 560 unit hunian," ujarnya kepada KONTAN, Senin (19/8).

Namun penyebaran hunian lansia belum merata di Indonesia. Klub ini baru terkonsentrasi di Jabodetabek dan Bali saja, yang sudah memiliki fasilitas untuk masyarakat berusia di atas 60 tahun. Sedangkan di kota lainnya masih terbilang minim kendati permintaan cukup tinggi.

Marlin menyebutkan, kini sudah banyak pemain global yang tertarik masuk ke pasar Indonesia. Kebanyakan berasal dari Asia Timur, mulai dari Jepang, Korea Selatan dan Taiwan, juga Australia.

Saat ini beberapa pemain sudah mengajukan ke BKPM dan kemungkinan beroperasi pada tahun depan. "D'Khayangan contohnya merupakan hasil joint venture antara perusahaan Jepang dan PT Jababeka. Kami menggandeng Longlife Holding Jepang yang sudah puluhan tahun  berpengalaman dan sudah go public di sana," ungkap Marlin.

Selain D'Khayangan, ada pula pemain lain, yakni Citra Premier Senior Club. Klub ini merupakan kerjasama antara PT Ciputra Residence dan Living Well Senior Communities.

 

Saat ini, Citra Premier Senior Club sudah memiliki 100 anggota. "Target daya tampung kami 100 orang, cuma kalau sudah (kedatangan) stabil di 50 orang. Mungkin kami akan membuka fasilitas baru. Total member kami sudah 100 orang, tapi untuk fasilitas yang nyaman hanya cukup 30-50 orang," ungkap Corpotate Development Officer Ciputra Group, Jonathan Budiman.

Saat ini tingkat okupansi atau kedatangan baru sekitar 10 hingga 15 orang per hari. Apabila sudah mencapai 50 orang, mereka akan membuka fasilitas baru. Ke depan, Ciputra berencana membangun fasilitas khusus untuk memanjakan para lansia.

President Director Living Well, Benjamin Cass, menilai bisnis komunitas senior ini berangkat dari kesadaran akan terbatasnya ruang bersosialisasi dan berkumpul bagi warga lansia. Mayoritas anggota CitraPremier dahulu merupakan pengusaha yang menjalankan sendiri bisnisnya.

Kini, saat menikmati masa pensiun, kebanyakan dari mereka hanya tinggal di rumah dengan pengasuh tanpa banyak kegiatan. Lantaran itu, CitraPremier menyediakan jadwal yang dapat dipilih anggota sejak kelas dibuka pada pukul 08:00-16:00 WIB. Adapun kegiatan rutinnya mulai dari aerobik di tepi danau, kelas seni, tai chi, mahjong, grup diskusi film dan berita, kelas memasak dan berkebun, hingga karaoke.

Bagikan

Berita Terbaru

Asing Kabur Terus dari Pasar Saham, Mampukah Likuiditas Domestik Menyelamatkan IHSG?
| Selasa, 21 April 2026 | 09:35 WIB

Asing Kabur Terus dari Pasar Saham, Mampukah Likuiditas Domestik Menyelamatkan IHSG?

IHSG Belum berpijak pada fondasi yang kokoh, melainkan masih rentan karena sekadar bergantung pada perputaran likuiditas yang tersisa.

Menyelisik Jejak Pengendali Baru BIKE, Dimiliki Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat
| Selasa, 21 April 2026 | 08:31 WIB

Menyelisik Jejak Pengendali Baru BIKE, Dimiliki Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat

Pemegang saham mayoritas PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk (BIKE) punya track record buruk di saham MENN.

Pendapatan Turun dan Rugi Bengkak Rp 5,4 T, Anak Usaha ADHI Kini Hadapi Gugatan PKPU!
| Selasa, 21 April 2026 | 08:05 WIB

Pendapatan Turun dan Rugi Bengkak Rp 5,4 T, Anak Usaha ADHI Kini Hadapi Gugatan PKPU!

Jerat PKPU yang membelit anak usaha ADHI merupakan manifestasi dari tekanan likuiditas sistemik yang menghantui BUMN Karya.

Indointernet (EDGE) Go Private, Pengendali Tawarkan Tender Sukarela
| Selasa, 21 April 2026 | 07:43 WIB

Indointernet (EDGE) Go Private, Pengendali Tawarkan Tender Sukarela

Harga penawaran tender sukarela Rp 11.500 per saham. Nilai ini mencerminkan premi 141,2%, di atas rata-rata harga tertinggi selama 90 hari.

Kantongi Restu RUPS, Wahana Interfood (COCO) Bakal Menggelar Rights Issue
| Selasa, 21 April 2026 | 07:38 WIB

Kantongi Restu RUPS, Wahana Interfood (COCO) Bakal Menggelar Rights Issue

Aksi rights issue akan digelar COCO usai mengantongi persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Jumat, (17/4).​

Eksekusi Proyek Pembangkit, Kinerja PGEO bisa Terungkit
| Selasa, 21 April 2026 | 07:32 WIB

Eksekusi Proyek Pembangkit, Kinerja PGEO bisa Terungkit

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mulai mengeksekusi Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 4.

Tahun 2025, Kinerja Emiten Jasa Konstruksi Bervariasi
| Selasa, 21 April 2026 | 07:26 WIB

Tahun 2025, Kinerja Emiten Jasa Konstruksi Bervariasi

Jika ditelisik, kinerja emiten konstruksi swasta, baik dari sisi top line maupun bottom line lebih unggul dibandingkan emiten BUMN karya.

Ketika BEI Butuh Penyedia Likuiditas Agar Bursa Berkualitas
| Selasa, 21 April 2026 | 07:06 WIB

Ketika BEI Butuh Penyedia Likuiditas Agar Bursa Berkualitas

BEI mengklaim, liquidity provider dapat meningkatkan kualitas perdagangan melalui penyempitan bid-ask spread.

 Menakar Plus Minus Bila OJK Didanai APBN
| Selasa, 21 April 2026 | 07:05 WIB

Menakar Plus Minus Bila OJK Didanai APBN

​Wacana pendanaan OJK dari APBN menggantikan iuran industri menuai sorotan, dinilai berisiko memicu intervensi politik 

Kinerja ICBP Ditekan Kenaikan Harga Bahan Baku
| Selasa, 21 April 2026 | 07:00 WIB

Kinerja ICBP Ditekan Kenaikan Harga Bahan Baku

Manajemen ICBP targetkan pertumbuhan penjualan 5%-7% di 2026 dan margin EBIT 20%-22%. Cek potensi cuan sahamnya!

INDEKS BERITA

Terpopuler