Hoki Baru Summarecon Agung (SMRA) dari Gunung Geulis

Kamis, 28 Oktober 2021 | 05:55 WIB
Hoki Baru Summarecon Agung (SMRA) dari Gunung Geulis
[]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai pendapatan pra penjualan atau marketing sales PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) melesat. Periode Juli-September 2021, SMRA mencatatkan marketing sales dengan nilai Rp 570 miliar. 

Perolehan itu membawa marketing sales SMRA senilai Rp 3,4 triliun di periode Januari-September 2021, naik 69,15% dari periode sama tahun lalu yang senilai Rp 2,01 triliun. 

Realisasi marketing sales SMRA dalam sembilan bulan pertama tahun 2021 memenuhi 86% dari target marketing sales tahun ini, yaitu sebesar Rp 4 triliun. 

Analis Samuel Sekuritas Olivia Laura mengatakan, perolehan SMRA melebihi pencapaian marketing sales emiten properti lainnya yang baru memenuhi sekitar 75% dari target di kuartal III-2021. Analis menilai perkembangan sektor properti ini positif. Ini menunjukkan industri properti dalam tren membaik setelah tertekan pada tahun lalu. 

Baca Juga: Simak rekomendasi saham CTRA dan SMRA di tengah naiknya permintaan rumah

Tingginya marketing sales SMRA juga dipengaruhi membaiknya daya beli masyarakat tahun ini. "Kami yakin SMRA mampu melewati target marketing sales tahun ini, dengan pertumbuhan mencapai 36% yoy," kata Olivia. 

Relaksasi PPN properti yang diperpanjang hingga akhir tahun ini juga membantu SMRA mencapai target marketing sales. Olivia melihat, SMRA akan fokus pada penjualan properti seharga Rp 1 miliar-Rp 2 miliar untuk memanfaatkan momentum relaksasi pajak. 

SMRA juga baru saja merilis produk baru di Summarecon Bogor. Kawasan proyek properti SMRA di kaki yang berada di Gunung Geulis, Bogor itu akan dijual pada sisa tahun ini. 

Rumah tapak terbukti menjadi segmen yang menopang penjualan SMRA pada tahun ini. Sekitar 60% realisasi marketing sales tahun ini berasal dari kontribusi rumah tapak. 

Analis CGS-CIMB Sekuritas Aurelia Barus dalam risetnya menuliskan, SMRA akan meluncurkan dua cluster baru di Summarecon Bogor pada akhir Oktober 2021, yaitu Pinewood dan Rosewood. Ada 148 unit rumah pada cluster Rosewood dengan harga mulai dari Rp 3,1 miliar per unit.

Lalu ada 258 unit rumah pada cluster Pinewood dengan harga mulai Rp 1,5 miliar per unit. "Peluncuran produk baru ini seharusnya punya take-up rate bagus, apalagi proyek pertamanya tahun lalu bisa sold out hanya dalam hitungan jam," tulis Aurelia dalam riset per 12 Oktober.

Baca Juga: Ini tanggapan CTRA dan SMRA soal perpanjangan DP 0% untuk KPR hingga tahun depan

Efek insentif PPN

Analis Maybank Kim Eng Sekuritas Farah Rahmi memperkirakan, kedua cluster tersebut bisa memberi kontribusi Rp 600 miliar. "Melihat besarnya antusiasme masyarakat, kami optimistis take-up rate dari launching ini mencapai 100%. Kontribusi dari sini saja, SMRA bisa mencapai target marketing sales," ujar dia.

SMRA juga merilis Scarlet Commercial Area di Bekasi dengan take-up rate lebih dari 70%, berkontribusi Rp 64,5 miliar. Di sisa tahun ini, Farah melihat relaksasi PPN, meningkatnya daya beli dan produk yang menarik, akan mendongkrak kinerja SMRA.

Farah mengatakan, meski relaksasi PPN hanya berlaku sampai tahun ini, penjualan SMRA tahun depan tidak akan terlalu tertekan. Sebab insentif PPN hanya berkontribusi kurang dari 30% dari total penjualan. "Kami melihat permintaan riil proyek properti cukup tinggi, sehingga bisa mendukung penjualan SMRA di 2022," ujar Farah. 

Baca Juga: Insentif Masih Mengalir Hingga Tahun 2022, Penjualan Properti Bakal Bertumbuh

Terlebih, bunga KPR masih menarik dan terjangkau. BI juga membebaskan DP 0% hingga tahun 2022. Farah menyebut kenaikan harga komoditas menjadi katalis positif. 

Farah menilai, neraca keuangan SMRA juga membaik setelah rights issue Rp 1,5 triliun pada Juni lalu. Selain itu, net gearing SMRA yang sebesar 60,7% di semester I akan turun ke 52,1%. Cash-flow juga positif pada semester I-2021 Rp 1,02 triliun, dibandingkan rugi Rp 347 miliar di akhir tahun 2020.

Aurelia memprediksi pendapatan SMRA tahun ini mencapai Rp 5,38 triliun dengan laba bersih Rp 338,4 miliar. Sedang pendapatan dan laba bersih tahun depan Rp 6,07 triliun dan Rp 376,2 miliar.

Aurelia dan Olivia merekomendasikan beli saham SMRA dengan target harga Rp 1.250 dan Rp 1.200. Sedangkan Farah menyarankan buy dengan target harga sebesar Rp 1.250 per saham.     

Baca Juga: Marketing sales tumbuh positif, simak rekomendasi saham emiten properti

Bagikan

Berita Terbaru

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:20 WIB

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah

Tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat sejumlah saham kini diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PER) di bawah rata-rata. 

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar

Volatilitas DSSA cenderung lebih tinggi dibandingkan saham berkapitalisasi besar lain yang punya basis pemegang saham lebih luas.

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:03 WIB

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas

Secara nominal, kredit Rp 400 triliun setara sekitar 1,5% dari produk domestik bruto (PDB)          

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:02 WIB

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok

Kerugian investasi menekan kinerja PT Bukalapak.com (BUKA), hingga berbalik mencatatkan rugi bersih.

BI Terus Pantau Pergerakan Nilai Tukar Rupiah
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:57 WIB

BI Terus Pantau Pergerakan Nilai Tukar Rupiah

Level rupiah pada penutupan perdagangan Senin (27/10) melemah 0,3% dibandingkan dengan penutupan Jumat (23/10)

Utang Pemda Dibayangi Risiko Likuiditas
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:52 WIB

Utang Pemda Dibayangi Risiko Likuiditas

Batas maksimal kumulatif pembiayaan utang daerah sebesar 0,18% dari proyeksi PDB 2027, naik dari 0,11% dari proyeksi PDB 2026

Bedah Tuntas Akuisisi Tambang Nikel PACK: Nilai Jumbo Versus Kualitas Laba Proforma
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:49 WIB

Bedah Tuntas Akuisisi Tambang Nikel PACK: Nilai Jumbo Versus Kualitas Laba Proforma

Meski nilai akuisisi disebut wajar, tak otomatis berarti akuisisi akan menghasilkan imbal hasil yang menarik bagi pemegang saham PACK.

Pemerintah Jaga Target Penerbitan Surat Utang
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:45 WIB

Pemerintah Jaga Target Penerbitan Surat Utang

Pemerintah masih memiliki sisa penerbitan SBN sebesar Rp 302 triliun di kuartal IV-2026             

Menanti Laporan Keuangan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Selasa (27/10)
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:30 WIB

Menanti Laporan Keuangan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Selasa (27/10)

Rilis laporan keuangan kuartal III 2026 yang berpotensi memicu pergerakan sektoral dan seleksi saham berdasarkan kinerja fundamental.

GOLF Memperkuat Fasilitas di New Kuta Golf Bali
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:19 WIB

GOLF Memperkuat Fasilitas di New Kuta Golf Bali

PT Intra GolfLink Resorts Tbk (GOLF) membidik potensi pendapatan di luar bisnis lapangan golf dengan mengembangkan kawasan komersil.

INDEKS BERITA

Terpopuler