Ikatan Cinta Menopang Prospek Saham Media Nusantara Citra (MNCN)

Selasa, 01 November 2022 | 04:50 WIB
Ikatan Cinta Menopang Prospek Saham Media Nusantara Citra (MNCN)
[]
Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pangsa pemirsa PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) masih mengungguli emiten media yang lain. Emiten milik Hary Tanoe tersebut mengandalkan lini bisnis televisi free to air (FTA), konten dan digital. 

Analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya dalam riset 3 Oktober mengungkapkan, kinerja MNCN didukung penuh tiga saluran TV utama yaitu RCTI, Global TV (GTV) dan MNCTV. Pada September 2022, MNCN membukukan rekor tertinggi sepanjang masa pangsa pemirsa sebesar 36,8%. Christine bilang, pemirsa RCTI sebagai saluran TV andalan MNCN naik 380 basis poin (bps) secara bulanan menjadi 22,8%. 

Hal tersebut membuktikan MNCN berhasil memikat pemirsa lewat program Ikatan Cinta. Ini menunjukkan komitmen MNCN mengembalikan audience share RCTI di semester II telah terpenuhi.

Baca Juga: Enam Emiten Bakal Membayar Dividen Interim, Cek Mana Yang Paling Menarik

Saluran TV non-unggulan MNCN yakni Global TV dan MNCTV ikut mendukung naiknya keseluruhan pangsa pemirsa di luar jam tayang utama alias non-prime time MNCN di September. Pangsa pemirsa non-prime time kedua saluran ini naik 140 bps dan 170 bps secara bulanan. Di September 2022, MNCN membukukan peningkatan pangsa pemirsa non-prime time sejumlah 300 bps menjadi 37,6%, dari 34,6% pada Agustus 2022. 

"Kami percaya pencapaian tersebut didukung pemirsa MNCN baik prime time dan non-prime time di tengah kehilangan pemirsa prime time dari rival terdekatnya PT Surya Citra Media Tbk (SCMA)," tulis Christine.

Namun menurut Analis Sucor Sekuritas Paulus Jimmy, ada faktor risiko dari potensi penurunan pendapatan. Ini karena penurunan anggaran pengiklan akibat efek inflasi.

Padahal iklan masih menjadi sumber pendapatan utama MNCN. Pada semester I tahun ini, MNCN pendapatan Rp 5,27 triliun. Dari jumlah tersebut, pendapatan iklan menyumbang Rp 4,76 triliun.

Selain itu, Jimmy menilai, ada risiko lain yakni penurunan market share MNCN di semester kedua tahun ini. Penyebabnya, ajang piala dunia yang bisa menyedot perhatian pemirsa televisi. Maklum, hak siar piala dunia dipegang kompetitornya yakni SCMA. 

Baca Juga: Cadangan Batubara MNC Energy Investments (IATA) Bertambah

Layanan digital

Jimmy berharap, dampak penurunan iklan di televisi bisa diatasi setelah terjadi peralihan ke iklan berbasis digital pada layanan over the top (OTT). 

Analis Samuel Sekuritas Farras Farhan juga memperkirakan bisnis layanan digital akan menjadi katalis pertumbuhan bagi MNCN. Seperti diketahui MNCN telah mengonsolidasikan salah satu platform OTT yaitu Vision+ ke dalam struktur bisnisnya. 

"Ke depan, kami meyakini, inisiatif digital seperti Vision+ dan RCTI+ akan menjadi katalis positif bagi pertumbuhan perusahaan dengan adanya peningkatan popularitas dari platform OTT," ujar Farras.
Jimmy menilai, kinerja MNCN ke depan akan membaik. Apalagi, MNCN telah mengurangi porsi utang dollar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir. Sehingga, pelemahan rupiah tidak akan mempengaruhi kinerja MNCN. 

Jimmy memproyeksikan pendapatan MNCN di akhir 2022 sebesar Rp 11,4 trilliun. Dia merekomendasikan beli saham MNCN dengan target h Rp 1.450. Christine dan Farras juga menyarankan beli saham MNCN dengan target harga masing-masing di Rp 1.350 dan Rp 1.400 per saham.  

Baca Juga: OJK dan BI Berikan Izin Motion Digital Milik Bank MNC Kapital (BCAP)

Bagikan

Berita Terbaru

Kemiskinan Indonesia Turun ke 8,25% pada 2025, Tapi Tekanan Biaya Hidup Masih Tinggi
| Senin, 09 Februari 2026 | 17:33 WIB

Kemiskinan Indonesia Turun ke 8,25% pada 2025, Tapi Tekanan Biaya Hidup Masih Tinggi

Secara jumlah, penduduk miskin Indonesia tercatat 23,36 juta orang, menyusut 490 ribu orang dibandingkan Maret 2025.

Tambahan Anggaran PU Rp 36,91 Triliun, Harapan Baru atau Sekadar Penyangga bagi BUMN?
| Senin, 09 Februari 2026 | 13:00 WIB

Tambahan Anggaran PU Rp 36,91 Triliun, Harapan Baru atau Sekadar Penyangga bagi BUMN?

Upaya Pemerintah menambah anggaran Rp 36,91 triliun guna mempercepat pembangunan infrastruktur, dianggap bisa menjadi suplemen bagi BUMN Karya.

Ramadan Dongkrak Trafik Data, Saham ISAT Masih Layak Dicermati?
| Senin, 09 Februari 2026 | 11:00 WIB

Ramadan Dongkrak Trafik Data, Saham ISAT Masih Layak Dicermati?

Kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) ada di jalur pemulihan yang semakin berkelanjutan. Sejak akhir 2025, ISAT mencatat lonjakan signifikan trafik data.

Ditopang Normalisasi AMMN & Tambahan PI Corridor, Kinerja MEDC Diproyeksikan Melesat
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:37 WIB

Ditopang Normalisasi AMMN & Tambahan PI Corridor, Kinerja MEDC Diproyeksikan Melesat

Dalam jangka pendek, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dipandang masih dalam fase downtrend.

Prospek ERAL Masih Menarik, Meski Tengah Menanti Kepastian Insentif Mobil Listrik
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:25 WIB

Prospek ERAL Masih Menarik, Meski Tengah Menanti Kepastian Insentif Mobil Listrik

PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) berencana menambah gerai baru sekaligus menghadirkan produk dan merek baru di berbagai segmen usaha.

Free Float Naik ke 15%, Emiten yang Tak Butuh Pendanaan Pasar Modal bisa Go Private?
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:00 WIB

Free Float Naik ke 15%, Emiten yang Tak Butuh Pendanaan Pasar Modal bisa Go Private?

Di rancangan peraturan terbaru, besaran free float dibedakan berdasarkan nilai kapitalisasi saham calon emiten sebelum tanggal pencatatan.

Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:31 WIB

Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good

Obligasi bertema ESG dan keberlanjutan akan meramaikan penerbitan surat utang di 2026. Bagaimana menakar daya tariknya?

Dharma Polimetal (DRMA) Produksi Baterai Motor Listrik
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:29 WIB

Dharma Polimetal (DRMA) Produksi Baterai Motor Listrik

Strategi tersebut ditempuh melalui penguatan kapabilitas manufaktur, diversifikasi produk bernilai tambah, serta integrasi ekosistem bisnis.

Pebisnis Minta Kepastian Izin Impor Daging Sapi
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:23 WIB

Pebisnis Minta Kepastian Izin Impor Daging Sapi

Para pelaku usaha tengah menantikan kepastian izin impor yang belum terbit. Padahal, saat ini sudah melewati waktu proses.

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:50 WIB

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN

Investor asing mencatat jual neto Rp 2,77 triliun di SBN. Tekanan jual ini diprediksi berlanjut hingga Kuartal I 2026. Pahami risikonya.

INDEKS BERITA

Terpopuler