Ingin Investasi pada Surat Utang Terbitan Pemerintah? InI yang Perlu Anda Cermati

Senin, 04 Maret 2019 | 07:22 WIB
Ingin Investasi pada Surat Utang Terbitan Pemerintah? InI yang Perlu Anda Cermati
[]
Reporter: Sri Sayekti | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Awal pekan ini pemerintah menerbitkan Sukuk Ritel SR-011 dengan tingkat bunga 8,05% bertenor 3 tahun dengan masa penawaran hingga 21 Maret 2019. Pemerintah menargetkan bisa meraup dana Rp 10 triliun dari penjualan SR-011.

Nah, bagi Anda yang tengah mencari pilihan berinvestasi dengan imbal hasil lebih gede daripada deposito dan tabungan, bisa melirik SR-011 ini. Investor bisa memulai dengan dana Rp 1 juta dan maksimal Rp 1 miliar untuk membeli SR-011.

Eh, ngomong-omong, patutkah rumah tangga berinvestasi pada surat utang terbitan negara atau pemerintah?

Apa pula yang perlu diperhatikan dalam memilih investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) seperti Sukuk Ritel (SR), Saving Bond Ritel (SBR), Sukuk Tabungan (ST), Obligasi Ritel Indonesia (ORI), Surat Utang Negara (SUN)?

Menurut Eko Endarto, perencana keuangan dari Financia Consulting, tak masalah jika sebuah rumah tangga memilih berinvestasi pada Surat Berharga Negara yang diterbitkan pemerintah.

“Dilihat dari faktor keamanan termasuk produk yang bisa dikatakan tanpa risiko dengan tingkat bagi hasil yang lebih tinggi dari deposito dan tabungan,” kata dia.

Pembelian berbagai jenis SBN tersebut bisa dilakukan secara langsung, bukan bertahap. Prita H.Ghozie, perencana keuangan dari ZAP Finance menyarankan agar dana yang digunakan adalah dari sisa penghasilan yang sudah ada.

Durasi jatuh tempo SBN ritel ini antara 2 tahun hingga 4 tahun. Sebagai investor ritel sebaiknya Anda berinvestasi SBN hingga tenor jatuh tempo selesai. Sebab, pasar sekunder SBN lebih banyak dikuasai oleh investor institusi dengan kapitalisasi dana yang besar.

Namun jika tetap ingin menjual di pasar sekunder, Anda bisa mengikuti saran Prita. Jika Anda berencana 1 tahun mengendapkan dana maka bisa memilih SBR dan ST. Tetapi jika Anda ingin menjual kembali sebelum 1 tahun maka bisa memilih ORI dan SR. Lalu jika Anda ingin berinvestasi secara syariah bisa memilih ST dan SR.

Eko berpendapat di antara berbagai pilihan SBN tersebut tidak ada masalah memilih jenis yang mana. “Karena produknya sama-sama obligasi, mungkin yang menjadi kendala adalah masalah likuditas, ada yang jangka waktunya lebih panjang dari produk lainnya,” jelas Eko.

Berkaitan dengan jangka waktu investasi Eko menyarankan pilihan investasi obligasi lebih tepat untuk tujuan dengan jangka waktu 3 tahun hingga 5 tahun, meski produk ini termasuk risiko sedang.

Lantas kapan saat paling tepat membeli SBN?

Pedoman paling gampang adalah beli di pasar primer atau pasar perdana saat SBN terbit dalam jangka waktu penawaran yang biasanya berkisar 3 minggu. Seperti SBR-011 yang baru saja terbit ini bisa Anda beli  hingga 21 Maret 2019.

Anda bisa membeli di bank dan sekuritas yang telah ditunjuk oleh pemerintah sebagai agen penjual yang total berjumlah 22 agen, antara lain Citibnal N.A. Indonesia, BRI, BRISyariah, BCA, Bank Commonwealth, Bank Danamon, DBS, HSBC, Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri, Maybank Indonesia, Bank Mega, Bank Muamalat, BNI, OCBC NISP, Panin Bank, Bank Permata, BTN, CIMB Niaga, Standard Chartered Bank, MNC Sekuritas dan Trimegah Sekuritas.

Lebih tinggi ketimbang tabungan dan deposito

Imbal hasil investasi pada SBN pasti lebih tinggi ketimbang bunga tabungan dan deposito. “Bila saat ini bunga bank 7%, maka kemungkinan produk ini memberi imbal hasil 1% hingga 2% lebih tinggi,” jelas Eko.

SR-011 yang baru terbit memberi imbal hasil 8,05%. Imbal hasil ini sedikit lebih rendah ketimbang surat utang yang diterbitkan pemerintah sebelumnya di tahun ini yakni SBR-005 dan ST-003 yang memiliki imbalan masing-masing sebesar 8,15%.

Jika Anda belum pernah berinvestasi pada SBN beberapa panduan dari perencana keuangan ini bisa Anda terapkan. Eko mewanti-wanti agar investor jangan menggunakan dana untuk kebutuhan jangka pendek untuk diinvestasikan dalam SBN.

Selain itu ia mengingatkan bahwa SBN memberikan hasil tetap, bukan berarti pokoknya tetap, kecuali bila diinvestasikan sampai jatuh tempo. Produk SBN memiliki korelasi yang tinggi dengan bunga bank. “Bila memiliki keyakinan bunga bank akan naik, sebaiknya tunda dulu investasinya,”pesan Eko.

Profil investor mulai dari konservatif, moderat hingga agresif akan berpengaruh pada komposisi alokasi investasi pada SBN. Jika Anda termasuk tipe investor konservatif maka Anda bisa mengalokasikan hingga 50% pada produk SBN yang bisa dibilang minim risiko.

Tetapi jika Anda tipe investor moderat dan agresif, tentu imbal hasil 1% hingga 2% di atas bunga tabungan dan deposito terasa kurang menarik, jadi Anda cukup mengalokasikan 20% dana investasi Anda pada SBN.

Dana lainnya bisa Anda tempatkan pada instrumen lain yang memberikan imbal hasil lebih tinggi kendati dengan risiko yang juga lebih tinggi. Nah, selamat berinvestasi sesuai profil Anda. Berinvestasi pada SBN artinya Anda juga telah punya andil terhadap pemerintah dalam membangun negara tercinta ini.

Bagikan

Berita Terbaru

Efek MSCI, Investor Asing Kabur Rp 6,17 Triliun, IHSG Nyungsep 7,35% ke 8.320,56
| Rabu, 28 Januari 2026 | 20:17 WIB

Efek MSCI, Investor Asing Kabur Rp 6,17 Triliun, IHSG Nyungsep 7,35% ke 8.320,56

Jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, MSCI siap memangkas peringkat pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

Saham PTRO Anjlok Lebih Dari 14%, Lebih Baik Cash Out atau Tunggu Sentimen Lain?
| Rabu, 28 Januari 2026 | 14:17 WIB

Saham PTRO Anjlok Lebih Dari 14%, Lebih Baik Cash Out atau Tunggu Sentimen Lain?

Mengenai saham PTRO untuk saat ini sebaiknya wait and see dahulu, karena masih volatil akibat sentimen MSCI.

MSCI Soroti Transparansi Otoritas Pasar Saham Indonesia, Begini Kata BEI
| Rabu, 28 Januari 2026 | 09:31 WIB

MSCI Soroti Transparansi Otoritas Pasar Saham Indonesia, Begini Kata BEI

MSCI membekukan evaluasi indeks Indonesia mulai Februari 2026. Ini bisa jadi sinyal risiko bagi investor. Simak langkah BEI

Meneropong Peluang BUVA Masuk MSCI Small Cap 2026
| Rabu, 28 Januari 2026 | 08:30 WIB

Meneropong Peluang BUVA Masuk MSCI Small Cap 2026

Berdasarkan riset terbaru Samuel Sekuritas Indonesia, BUVA dinilai memiliki peluang masuk konstituen MSCI Small Cap periode semester I-2026.

Diwarnai Aksi Profit Taking Allianz cs Usai Capai ATH, Ke Mana Arah Saham ANTM?
| Rabu, 28 Januari 2026 | 08:23 WIB

Diwarnai Aksi Profit Taking Allianz cs Usai Capai ATH, Ke Mana Arah Saham ANTM?

Meski muncul tekanan jual, secara teknikal sejauh ini pergerakan ANTM masih berada di fase uptrend

Saham INET Terjun Bebas dari Pucuk, 2026 Jadi Tahun Pembuktian Eksekusi Proyek
| Rabu, 28 Januari 2026 | 08:08 WIB

Saham INET Terjun Bebas dari Pucuk, 2026 Jadi Tahun Pembuktian Eksekusi Proyek

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) menganggarkan belanja modal sebesar Rp 4,2 triliun untuk tahun 2026.

Investor Waspada, Volatilitas Rupiah Mengancam Cuan Saham Barang Baku.
| Rabu, 28 Januari 2026 | 07:36 WIB

Investor Waspada, Volatilitas Rupiah Mengancam Cuan Saham Barang Baku.

Para investor berekspektasi, kinerja keuangan emiten-emiten logam dan mineral akan meningkat, terutama dari sisi profitabilitas.

Menakar Daya Tahan Saham Grup Lippo, Menguat Sesaat atau Ada Perbaikan Fundamental?
| Rabu, 28 Januari 2026 | 07:35 WIB

Menakar Daya Tahan Saham Grup Lippo, Menguat Sesaat atau Ada Perbaikan Fundamental?

Meski kompak menghijau, karakter penguatan saham Grup Lippo saat ini masih kental nuansa trading momentum.

Sistem Komunikasi Kapal PELNI Berbasis Satelit Diperkuat
| Rabu, 28 Januari 2026 | 07:23 WIB

Sistem Komunikasi Kapal PELNI Berbasis Satelit Diperkuat

Pelni mempercepat transformasi digital dengan mengimplementasikan Sistem Komunikasi Kapal (SisKomKap) berbasis satelit Low Earth Orbit (LEO).

Apartemen Meikarta Lippo Cikarang (LPCK) Telah Dihuni 3.600 Unit
| Rabu, 28 Januari 2026 | 07:15 WIB

Apartemen Meikarta Lippo Cikarang (LPCK) Telah Dihuni 3.600 Unit

Pengembangan Meikarta diarahkan untuk menghadirkan kawasan yang hidup dan relevan dengan kebutuhan masyarakat urban.

INDEKS BERITA

Terpopuler