Ini Alasan Pembentukan Holding BUMN Keuangan Belum Juga Terwujud

Selasa, 07 Mei 2019 | 08:34 WIB
Ini Alasan Pembentukan Holding BUMN Keuangan Belum Juga Terwujud
[]
Reporter: Anggar Septiadi | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembentukan holding BUMN sektor keuangan hingga kini masih terkatung-katung. Kabar yang beredar, Kementerian Keuangan sebagai salah satu anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) belum memberi lampu hijau bagi pembentukan holding keuangan BUMN.

Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Konsultan Kementerian BUMN Gatot Trihargo memperjelas kabar tersebut.

Menurut Gatot, yang benar adalah KSSK memberi masukan, bukan menolak atau menyetujui. Masukan itu kini sedang dibahas secara intensif.

Kendati pembentukan holding belum tuntas, Kementerian BUMN sudah menyiapkan tiga agenda yang bakal digulirkan holding itu setelah terbentuk. Masing-masing adalah permodalan, pendalaman pasar serta big data di industri keuangan.

Soal permodalan, misalnya, dengan adanya holding, peran pemerintah melalui Kementerian BUMN akan lebih ringan. Pemenuhan modal kelak akan menjadi tanggung jawab PT Danareksa (Persero) sebagai induk holding keuangan.

Misalnya, untuk menangani masalah kurangnya pasokan rumah terhadap kebutuhan (backlog) hampir 11 juta rumah serta harga properti yang makin tinggi membuat backlog perumahan nasional diprediksi akan makin melebar.

Tanpa adanya suntikan modal ke BTN sebagai mortgage bank, masalah backlog ini akan sulit diatasi. "Melalui holding, Danareksa sebagai induk holding bisa langsung ikut menyumbang (penyertaan modal), misal dengan cara BTN melakukan rights issue. Jadi, tak perlu ada dana dari pemerintah, ujar Gatot.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) Maryono yang juga ketua Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) bilang, holding memang akan menciptakan efisiensi pendanaan dan efektivitas dalam bisnis.

Sementara soal memperdalam pasar, bank pelat merah anggota Himbara akan memiliki segmen masing-masing. Misalnya Bank Mandiri dan Bank BNI akan menggarap debitur korporasi, Bank Rakyat Indonesia (BRI) menyasar kredit mikro, dan BTN di segmen kredit perumahan.

Sedangkan big data adalah alasan perusahaan industri keuangan non bank (IKNB) seperti PT Pegadaian, PT Bahana Artha Ventura, serta PT Permodalan Nasional Madani, hingga perusahaan teknologi finansial seperti PT Jalin Pembayaran Nasional pengelola ATM Link, dan PT Fintek Karya Nusantara pengelola platform pembayaran digital LinkAja, ikut menjadi anggota holding.

"Pasar saat ini memang berubah, behavior nasabah juga berubah. Ke depan arah industri keuangan memang menuju fintech,” jelas Gatot.

Bagikan

Berita Terbaru

Ambisi Baru Grup Bakrie: Gagal Otomotif 1998, Kini Rebut Dominasi Mobil EV Nasional
| Kamis, 09 April 2026 | 12:29 WIB

Ambisi Baru Grup Bakrie: Gagal Otomotif 1998, Kini Rebut Dominasi Mobil EV Nasional

VKTR Bakrie pimpin penguasaan ekosistem EV nasional dengan fokus kendaraan niaga. Target hemat subsidi US$5 miliar per tahun.

Kenaikan Harga Avtur Mengancam Sektor Pariwisata dan Hotel
| Kamis, 09 April 2026 | 11:00 WIB

Kenaikan Harga Avtur Mengancam Sektor Pariwisata dan Hotel

Pasokan minyak berpotensi akan tetap terganggu karena rusaknya kilang minyak di beberapa negara, seperti Qatar dan Kuwait.

Lotte Chemical Beberkan Kondisi Bisnis, Produksi Turun Imbas Konflik di Selat Hormuz
| Kamis, 09 April 2026 | 09:30 WIB

Lotte Chemical Beberkan Kondisi Bisnis, Produksi Turun Imbas Konflik di Selat Hormuz

PT Lotte Chemical Indonesia mendesak penyederhanaan regulasi birokrasi guna mempercepat proses impor bahan baku pengganti.

Harga Saham ANTM Kembali Naik Signifikan, Simak Prospek dan Rekomendasinya
| Kamis, 09 April 2026 | 08:55 WIB

Harga Saham ANTM Kembali Naik Signifikan, Simak Prospek dan Rekomendasinya

Di tengah kenaikan harga, investor asing mencatatkan net foreign sell di ANTM sebesar Rp 506,5 miliar sepanjang 1-8 April 2026.

MKNT Ingin Lepas dari Suspensi, Berikut Deretan Syarat dari BEI yang Harus Dipenuhi
| Kamis, 09 April 2026 | 08:50 WIB

MKNT Ingin Lepas dari Suspensi, Berikut Deretan Syarat dari BEI yang Harus Dipenuhi

MKNT telah menyampaikan laporan keuangan hingga tahun buku 2025 dan kini menggadang rencana menggelar backdoor listing.

Harga Plastik Kian Meroket, Menakar Efek Ganda ke Laba Bersih CLEO dan ADES
| Kamis, 09 April 2026 | 08:27 WIB

Harga Plastik Kian Meroket, Menakar Efek Ganda ke Laba Bersih CLEO dan ADES

Kemampuan passing-on cost di bisnis AMDK jauh lebih kerdil ketimbang kategori barang konsumer lainnya.

Kinerja Emiten di Kawasan Industri Bervariasi
| Kamis, 09 April 2026 | 07:59 WIB

Kinerja Emiten di Kawasan Industri Bervariasi

Emiten kawasan industri mencetak kinerja beragam di sepanjang 2025. Hal ini dipengaruhi siklus penjualan lahan dan struktur sumber pendapatan.

Laba Emiten Menara Kompak Melesat, Guyuran Cuan Fiber Optik Sukses Jadi Juru Selamat!
| Kamis, 09 April 2026 | 07:57 WIB

Laba Emiten Menara Kompak Melesat, Guyuran Cuan Fiber Optik Sukses Jadi Juru Selamat!

Kokohnya pertumbuhan laba emiten menara seperti TBIG, TOWR, dan MTEL didorong oleh tiga katalis utama.

Pengendali Menambah Kepemilikan di Saham Summarecon Agung (SMRA)
| Kamis, 09 April 2026 | 07:52 WIB

Pengendali Menambah Kepemilikan di Saham Summarecon Agung (SMRA)

Pengendali PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Semarop Agung menambah kepemilikan saham di emiten properti tersebut.

Kucurkan Dana Rp 437,87 miliar, Indocement (INTP) Sudah Buyback 66,24 juta saham
| Kamis, 09 April 2026 | 07:48 WIB

Kucurkan Dana Rp 437,87 miliar, Indocement (INTP) Sudah Buyback 66,24 juta saham

Sejak 22 Mei 2025 sampai 6 April 2026, Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) buyback 66,24 juta saham atau 1,88% dibanding jumlah saham beredar.

INDEKS BERITA

Terpopuler