Berita Bisnis

Investor Besar di Balik Rights Issue Bank Kecil

Kamis, 05 Agustus 2021 | 06:50 WIB
Investor Besar di Balik Rights Issue Bank Kecil

Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Bank-bank kecil terus berupaya memupuk modal. Salah satu caranya,  menggelar rights issue di tengah pandemi. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 12/POJK. 03/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum  menyebut, bank kecil di Tanah Air harus memiliki modal inti minimum Rp 2 triliun tahun ini dan Rp 3 triliun di akhir 2022.

Terdapat 13 bank masih masih memiliki modal inti dibawah Rp 2 triliun hingga Juni 2021. Mereka adalah Bank Ganesha, Bank Bumi Artha, Bank Capital Indonesia, Bank Neo Commerce, Allo Bank, Bank Amar Indonesia, Bank Bisnis Internasional, Bank Ina Perdana.
 
Lalu Bank J Trust Indonesia, Bank Maspion, Bank of India Indonesia, Bank Victoria dan Bank IBK Indonesia. Sejumlah bank tersebut  menyatakan akan menambah modal dengan skema rights issue. 
 
Bank Capital menggelar penguatan modal dengan rencana penawaran umum terbatas (PUT) IV sebanyak-banyaknya saham 20 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 100 per saham.  Bank ini akan meminta restu pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) pada 25 Agustus 2021.  “Tetap tahun ini untuk memenuhi ketentuan regulator melalui rights issue,” ujar Direktur Utama Bank Capital, Wahyu Aji Dirut ke KONTAN, Selasa (3/8).
 
Setelah pelaksanaan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD), pemegang saham  yang tidak menggunakan hak dalam HMETD, persentase kepemilikan saham mereka dalam perseroan ini akan terdilusi sampai  sebanyak-banyaknya  73,86%, apabila seluruh HMETD yang diterbitkan terlaksana oleh pemegang HMETD yang berhak.
 
Hingga separuh pertama 2021, pemegang saham Bank Capital, yakni PT Inigo Global Capital sebanyak 14,71% dari total saham beredar. Lalu PT Delta Indo Swakarsa sebanyak 13,96% dan ada nama besar: PT Asuransi Simas Jiwa sebesar Rp 10,94%. Sedangkan publik memiliki 60,39%.
Lalu Bank Neo Commerce yang baru saja merampungkan PUT IV dengan kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 426 juta saham atau setara Rp 127,9 miliar. 
 
Efek yang ditawarkan PUT IV ini sebanyak 832.724.404 saham dengan nilai pelaksanaan Rp 300 untuk setiap saham. Dengan demikian, jumlah dana dalam PUT IV ini sebesar Rp 249,82 miliar. 
 
Saat ini, Bank Neo tengah mempersiapkan PUT V dengan memberikan HMETD sebanyak-banyaknya lima  miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 100 setiap saham. Juga PUT VI melalui HMETD dengan jumlah sebanyak-banyaknya lima  miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 100 setiap saham.  
 
Seiring penguatan modal ini, PT Akulaku Silvrr Indonesia sebagai salah satu pemegang saham akan mengambilalih saham perusahaan dan menjadi pemegang saham pengendali setelah pelaksanaan PUT III. Hal tersebut akan dilakukan pada Oktober 2021 setelah keluarnya izin OJK .
 
Lalu Bank Bisnis Internasional akan melakukan PUT II dengan HMETD dengan merilis 344,78 juta saham nilai nominal Rp 100 per saham. 
Sekretaris Perusahaan Bank Bisnis, Paulus Tanujaya bilang,  itu setara 14,37%  modal disetor. Bank yang disokong peer to peer lending Kredivo ini akan menggunakan dana hasil rights issue untuk memperkuat struktur permodalan dan tambahan modal kerja. Kredivo saat ini mempunyai 24% saham Bank Bisnis. 
 
Adapun Bank Ina Perdana  berencana merilis saham baru sebanyak-banyaknya 2 miliar dengan nilai Rp 100 per saham pada PUT III. Sekretaris Perusahaan BINA Ria Sari Sidabutar bilang, dana yang terkumpul setelah dikurangi biaya-biaya terkait PUT III a untuk meningkatkan modal kerja pengembangan usaha.
 
Salim Group sebagai pengendali saham akan melakukan injeksi modal dengan menyerap haknya dalam rights issue. “Untuk sementara, eksisting shareholders  akan menyerap rights issue," ungkap Direktur Utama Bank Ina, Daniel Budirahayu, beberapa waktu lalu.                   


Baca juga