Investor Wait and See, Harga Emas Hari Ini Tergelincir dari Level Tertinggi

Kamis, 12 Desember 2019 | 16:51 WIB
Investor Wait and See, Harga Emas Hari Ini Tergelincir dari Level Tertinggi
[ILUSTRASI. Emas batangan dan koin di ruangan safe deposit boxes Pro Aurum di Munich, Jerman, 14 Agustus 2019.]
Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID -  Harga emas hari ini tergelincir lantaran investor menunggu keputusan Amerika Serikat (AS), apakah akan mengenakan tarif baru atas barang-barang China akhir pekan ini.

Mengacu Bloomberg pukul 16.41 WIB, harga emas hari ini di pasar spot turun 0,09% menjadi US$ 1.473,49 per ons troi. Sebaliknya, harga emas berjangka AS naik 0,18% ke US$ 1.477,70.

"Masalah utama bagi banyak pasar dalam waktu dekat adalah negosiasi perdagangan antara China dan AS. Baik Beijing dan Washington telah mengindikasikan skenario terburuk, tarif berlaku," kata Michael McCarthy, Chief Market Strategist CMC Markets.

Baca Juga: Harga emas melesat lebih dari 1% pada pekan ini

Tapi, "Jika tarif berlaku pada Minggu (15/12) nanti, itu akan menjadi sentimen positif untuk harga emas," ujar McCarthy kepada Reuters.

Emas batangan sering dipandang sebagai investasi alternatif selama masa ketidakpastian politik dan keuangan. Termasuk, saat perang dagang AS-China berkobar dan sudah berlangsung 17 bulan.

Tiga sumber Reuters menyebutkan, Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan bertemu dengan para penasihat ekonominya pada Kamis (12/12) untuk membahas tarif 15 Desember.

Baca Juga: Wow, harga emas Antam melonjak Rp 6.000 pada Kamis (12/12)

Di sesi sebelumnya, harga emas naik 1% ke level tertinggi sejak 5 Desember lalu, setelah bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan dan mengisyaratkan bunga kredit tidak akan berubah dalam waktu dekat.

Sedang indeks dolar AS jatuh ke level terendah sejak awal Agustus tahun ini, setelah Federal Reserve (The Fed) memupus harapan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

"The Fed menegaskan kembali sikap akomodatifnya, memberikan sinyal bahwa tidak akan ada tekanan dari penurunan pasokan uang atau kenaikan suku bunga," kata McCarthy.

Baca Juga: Harga emas bisa melaju ke level US$ 1.500 jika....

"Dengan The Fed kemungkinan memperluas neraca lagi pada 2020, emas harus menjadi fitur reguler dalam alokasi aset seseorang selama periode ketidakpastian pasar, terutama ketika suku bunga rendah," ujar Market Strategist AxiTrader Stephen Innes

Selain itu, pandangan investor akan fokus ke pemilihan Inggris yang akan membuka jalan bagi pertemuan pertama Brexit dan pernyataan Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde.

 

Bagikan

Berita Terbaru

Menakar Seberapa Menarik Saham BSDE Dilirik Saat Manajemen Pasang Target Konservatif
| Rabu, 11 Maret 2026 | 09:45 WIB

Menakar Seberapa Menarik Saham BSDE Dilirik Saat Manajemen Pasang Target Konservatif

Di tengah permintaan properti yang belum pulih seratus persen, recurring income menjadi jangkar penting bagi stabilitas kinerja BSDE.

Dibayangi Risiko Pemangkasan Bobot di MSCI, tapi Asing Masih Borong Saham ASII
| Rabu, 11 Maret 2026 | 08:30 WIB

Dibayangi Risiko Pemangkasan Bobot di MSCI, tapi Asing Masih Borong Saham ASII

Volume penjualan mobil Astra diperkirakan naik 4% YoY mencapai sekitar 428.000 unit dengan pangsa pasar 52%.

Saham MDKA Gacor Diborong Investor Institusi Asing Sejak Awal Tahun 2026
| Rabu, 11 Maret 2026 | 07:30 WIB

Saham MDKA Gacor Diborong Investor Institusi Asing Sejak Awal Tahun 2026

Saat ini valuasi MDKA relatif mahal, kenaikan di periode tahun berjalan sudah priced-in karena tingginya harga emas dan operasional proyek baru.

Menakar Prospek Kinerja Keuangan dan Saham BWPT di Balik Rencana Penerbitan Obligasi
| Rabu, 11 Maret 2026 | 07:00 WIB

Menakar Prospek Kinerja Keuangan dan Saham BWPT di Balik Rencana Penerbitan Obligasi

Sepanjang tahun 2025, BWPT mencetak pendapatan sebesar Rp 5,6 triliun, tumbuh 30,23% secara tahunan (YoY).

Asing Kabur Bawa Rp 1,93 Triliun dari Pasar Saham RI, Investor Mesti Berhati-hati
| Rabu, 11 Maret 2026 | 06:45 WIB

Asing Kabur Bawa Rp 1,93 Triliun dari Pasar Saham RI, Investor Mesti Berhati-hati

Meski IHSG berada di bawah nilai wajar, para analis mewanti-wanti pemodal agar meracik strategi secara selektif. 

Laba dan Pendapatan Teladan Prima Agro (TLDN) Melejit Dua Digit Pada 2025
| Rabu, 11 Maret 2026 | 05:09 WIB

Laba dan Pendapatan Teladan Prima Agro (TLDN) Melejit Dua Digit Pada 2025

PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) mengantongi laba bersih Rp 1,10 triliun pada 2025, naik 34,03% secara tahunan.​

Itsec Asia (CYBR) Berencana Menggelar Stock Split dengan Rasio 1:2
| Rabu, 11 Maret 2026 | 05:06 WIB

Itsec Asia (CYBR) Berencana Menggelar Stock Split dengan Rasio 1:2

PT Itsec Asia Tbk (CYBR) berencana melakukan aksi pemecahan nilai nominal saham atau stock split dengan rasio 1:2.

Hibah Lahan di Meikarta, Emiten Grup Lippo Bisa Terpapar Program 3 Juta Rumah
| Rabu, 11 Maret 2026 | 05:01 WIB

Hibah Lahan di Meikarta, Emiten Grup Lippo Bisa Terpapar Program 3 Juta Rumah

Grup Lippo resmi memberikan lahan hibah seluas 30,7 hektare di Cikarang untuk program 3 juta rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).​

Tambang Baru & Harga Emas Global Dorong Laba Bumi Resources Minerals (BRMS)
| Rabu, 11 Maret 2026 | 05:00 WIB

Tambang Baru & Harga Emas Global Dorong Laba Bumi Resources Minerals (BRMS)

Laba bersih BRMS diproyeksi melonjak 94,8% pada 2026, didorong produksi emas. Analis berikan rekomendasi dan target harga saham terbaru.

Ancaman Defisit APBN: Rupiah Tertekan, Harga Minyak Membara
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:30 WIB

Ancaman Defisit APBN: Rupiah Tertekan, Harga Minyak Membara

Rupiah ditutup melemah pada Senin (9/3) di Rp16.949 per dolar AS. Sentimen global dan harga minyak picu tekanan. Simak proyeksi terbarunya

INDEKS BERITA

Terpopuler