Jangan Bakar Masa Depan

Sabtu, 19 September 2026 | 06:10 WIB
Jangan Bakar Masa Depan
[ILUSTRASI. TAJUK - Sandy Baskoro (KONTAN/Steve G.A)]
Sandy Baskoro | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ibarat lagu lama yang selalu berputar berulang-ulang, selalu saja ada kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Hutan kita terbakar, asap mengepul, udara ikut tercemar. Negara tetangga pun ikut terimbas. Belum lagi habitat yang tak ternilai menghilang, juga aktivitas perekonomian masyarakat yang kian terusik.

Karhutla adalah ancaman nyata. Hingga September 2026, kebakaran terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Pemerintah menetapkan enam provinsi sebagai prioritas penanganan, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.

Kebijakan pemerintah cenderung reaktif. Kita baru serius menangani karhutla setelah api membesar. Pengalaman masa lalu menunjukkan biaya kelalaian jauh lebih mahal. Pada 2025, karhutla di Indonesia menghanguskan 213.985 hektare lahan. Angka ini setara dengan tiga kali luas wilayah Jakarta.

Kementerian Kehutanan mencatat luas lahan berhutan Indonesia pada 2024 mencapai 95,5 juta hektare. Di tahun yang sama, deforestasi neto masih mencapai 175.400 hektare.

Menjaga hutan bukanlah pekerjaan yang bisa ditunda. Pemerintah mesti mengubah pendekatan. Pencegahan harus menjadi prioritas, bukan sekadar pemadaman. Deteksi dini, patroli, pengelolaan tata air gambut, kesiapan masyarakat, pengawasan konsesi dan penegakan hukum harus berjalan sebelum api tersulut dan membesar. Lantaran tidak mampu menjaga hutan, jangan sampai kita mengambinghitamkan El Nino. Pengawasan harus menyentuh tata kelola lahan. Jangan sampai penanganan berhenti pada siapa yang tertangkap membakar, sementara aktor intelektualnya melenggang bebas.

Hutan bukan cuma aset ekonomi yang bisa dihitung dari kubik kayu dan luasan lahannya. Hutan adalah penyangga air, penyerap karbon, rumah keanekaragaman hayati dan sumber penghidupan jutaan orang. Hutan kita adalah paru-paru dunia. Dalam menghadapi perubahan iklim, hutan juga merupakan modal penting bagi keberlanjutan ekonomi bangsa. Maka, ukuran keberhasilan pemerintah bukan hanya seberapa cepat api dipadamkan, tetapi seberapa efektif api mampu dicegah.

Dengan kata lain, hutan adalah masa depan bangsa. Jangan sampai generasi mendatang mewarisi lahan yang rusak, udara penuh asap dan biaya pemulihan akibat kegagapan kita menjaga alam hari ini. Sekali lagi, jangan membakar hutan. Jangan rusak paru-paru dunia. Jangan membakar masa depan kita.     

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Intip Peluang Investasi Aset Dolar di Tengah Kenaikan Bunga Acuan Fed
| Sabtu, 19 September 2026 | 07:00 WIB

Intip Peluang Investasi Aset Dolar di Tengah Kenaikan Bunga Acuan Fed

Selain untuk diversifikasi, aset offshore dapat menjadi lindung nilai risiko nilai tukar di tengah pelemahan mata uang domestik

MPX Logistics International Perluas Jasa Logistik & Perdagangan
| Sabtu, 19 September 2026 | 06:30 WIB

MPX Logistics International Perluas Jasa Logistik & Perdagangan

PT MPX Logistics International Tbk (MPXL) berupaya kurangi ketergantungan pada bisnis pengangkutan semen curah

Nilai Tukar Rupiah Sepekan Ini Tertekan Bunga Acuan AS
| Sabtu, 19 September 2026 | 06:15 WIB

Nilai Tukar Rupiah Sepekan Ini Tertekan Bunga Acuan AS

Mengutip data Bloomberg pada Jumat (18/9), rupiah ditutup melemah 0,03% secara harian ke level Rp 17.758 per dolar AS. 

Moody's Ratings Pangkas Outlook BYAN
| Sabtu, 19 September 2026 | 06:15 WIB

Moody's Ratings Pangkas Outlook BYAN

Lembaga pemeringkat utang, Moody’s Ratings memangkas outlook peringkat PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi negatif dari sebelumnya stabil. ​

Jangan Bakar Masa Depan
| Sabtu, 19 September 2026 | 06:10 WIB

Jangan Bakar Masa Depan

Hutan adalah masa depan bangsa. Jangan sampai generasi mendatang mewarisi lahan yang rusak, udara penuh asap dan biaya pemulihan.

Prospek Emiten Infrastruktur Dibayangi Suku Bunga Tinggi
| Sabtu, 19 September 2026 | 06:09 WIB

Prospek Emiten Infrastruktur Dibayangi Suku Bunga Tinggi

Era suku bunga tinggi berdampak besar terhadap kinerja emiten infrastruktur. Sektor ini sangat bergantung pada utang untuk operasionalnya.

Bisnis Emas Perbankan Syariah Makin Moncer
| Sabtu, 19 September 2026 | 06:00 WIB

Bisnis Emas Perbankan Syariah Makin Moncer

Minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen investasi dan penyimpan nilai tetap tinggi.           

Genjot Likuiditas dan Redam Tekanan Jual, Emiten Eksekusi Buyback Saham
| Sabtu, 19 September 2026 | 06:00 WIB

Genjot Likuiditas dan Redam Tekanan Jual, Emiten Eksekusi Buyback Saham

erbaru, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) siap melakukan buyback saham.

Dorong Pangsa Pasar Asuransi Syariah Lewat Aksi Spinoff
| Sabtu, 19 September 2026 | 05:45 WIB

Dorong Pangsa Pasar Asuransi Syariah Lewat Aksi Spinoff

Dalam beberapa tahun terakhir, pangsa pasar asuransi syariah dari sisi aset cenderung tertahan di level 5%. 

ULTJ Bergabung dengan Frisian Flag Melalui Rights Issue Senilai Rp 14,56 Triliun
| Sabtu, 19 September 2026 | 05:45 WIB

ULTJ Bergabung dengan Frisian Flag Melalui Rights Issue Senilai Rp 14,56 Triliun

PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) akan mengakuisisi PT Frisian Flag Indonesia lewat skema rights issue.​

INDEKS BERITA

Terpopuler