Jangan Bakar Masa Depan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ibarat lagu lama yang selalu berputar berulang-ulang, selalu saja ada kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Hutan kita terbakar, asap mengepul, udara ikut tercemar. Negara tetangga pun ikut terimbas. Belum lagi habitat yang tak ternilai menghilang, juga aktivitas perekonomian masyarakat yang kian terusik.
Karhutla adalah ancaman nyata. Hingga September 2026, kebakaran terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Pemerintah menetapkan enam provinsi sebagai prioritas penanganan, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.
Kebijakan pemerintah cenderung reaktif. Kita baru serius menangani karhutla setelah api membesar. Pengalaman masa lalu menunjukkan biaya kelalaian jauh lebih mahal. Pada 2025, karhutla di Indonesia menghanguskan 213.985 hektare lahan. Angka ini setara dengan tiga kali luas wilayah Jakarta.
Kementerian Kehutanan mencatat luas lahan berhutan Indonesia pada 2024 mencapai 95,5 juta hektare. Di tahun yang sama, deforestasi neto masih mencapai 175.400 hektare.
Menjaga hutan bukanlah pekerjaan yang bisa ditunda. Pemerintah mesti mengubah pendekatan. Pencegahan harus menjadi prioritas, bukan sekadar pemadaman. Deteksi dini, patroli, pengelolaan tata air gambut, kesiapan masyarakat, pengawasan konsesi dan penegakan hukum harus berjalan sebelum api tersulut dan membesar. Lantaran tidak mampu menjaga hutan, jangan sampai kita mengambinghitamkan El Nino. Pengawasan harus menyentuh tata kelola lahan. Jangan sampai penanganan berhenti pada siapa yang tertangkap membakar, sementara aktor intelektualnya melenggang bebas.
Hutan bukan cuma aset ekonomi yang bisa dihitung dari kubik kayu dan luasan lahannya. Hutan adalah penyangga air, penyerap karbon, rumah keanekaragaman hayati dan sumber penghidupan jutaan orang. Hutan kita adalah paru-paru dunia. Dalam menghadapi perubahan iklim, hutan juga merupakan modal penting bagi keberlanjutan ekonomi bangsa. Maka, ukuran keberhasilan pemerintah bukan hanya seberapa cepat api dipadamkan, tetapi seberapa efektif api mampu dicegah.
Dengan kata lain, hutan adalah masa depan bangsa. Jangan sampai generasi mendatang mewarisi lahan yang rusak, udara penuh asap dan biaya pemulihan akibat kegagapan kita menjaga alam hari ini. Sekali lagi, jangan membakar hutan. Jangan rusak paru-paru dunia. Jangan membakar masa depan kita.
