Jangan Tergesa

Rabu, 17 Juni 2026 | 06:10 WIB
Jangan Tergesa
[ILUSTRASI. TAJUK - Hendrika Yunapritta (KONTAN/Indra Surya)]
Hendrika Yunapritta | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah menaikkan BBM non subsidi jenis Pertamax pekan lalu, Pemerintah ganti fokus mencari pengganti LPG. Maklum saja, konsumsi LPG saban tahun selalu naik. Tahun 2024, konsumsi LPG 8,9 juta ton, tahun 2025 lalu, naik jadi sekitar 9,13 juta ton. Tahun ini, tanpa pengaturan apapun, diperkirakan konsumsi LPG akan naik jadi 9,49 juta ton. Menurut data dari Pertamina Patra Niaga, sekitar 90%-95% dari konsumsi LPG tersebut, adalah porsi gas melon, alias LPG bersubsidi. Di lain pihak, impor LPG kita, berkisar 84% dari seluruh permintaan masyarakat. 

Nah, sejak perang di Timur Tengah meletus dan harga minyak mentah serta turunannya, termasuk LPG naik, ditambah lagi tren rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika, Pemerintah sudah menggadang-gadang beberapa rencana. Misalnya saja, memasukkan gas alam ke dalam tabung layaknya gas melon, sebutannya CNG (Compressed Natural Gas). Masalahnya, tekanan CNG terlalu tinggi dibandingkan LPG, sehingga butuh tabung yang proper plus edukasi. 

Entah bagaimana kelanjutan CNG, awal pekan ini Menteri ESDM minta tambahan anggaran Rp 815 miliar tahun depan, untuk pengadaan kompor listrik, pengganti gas melon. Program kompor listrik sejatinya tidak baru. Tahun 2022, wacana serupa pernah dicoba dan tidak berlanjut.  

Pemerintah semestinya sadar bahwa transisi energi tidak bisa dilakukan lewat jalan pintas atau pemaksaan teknologi. Kegagalan program konversi tahun 2022 jadi pelajaran berharga. Saat itu, rencana batal diimplementasikan karena kekhawatiran ada beban biaya listrik tambahan bagi rumah tangga kecil yang berdaya 450 VA dan 900 VA, serta kurangnya kesiapan infrastruktur kelistrikan. Ada kesenjangan antara strategi beralih ke energi bersih, dengan realitas ekonomi masyarakat pengguna gas melon.

Konversi kompor bukan sekadar mengganti perangkat memasak, karena ia melibatkan perubahan perilaku, kebutuhan alat masak baru yakni panci induksi, dan jaminan keandalan pasokan listrik yang tidak boleh byar-pet. Kembali memaksa mereka beralih tanpa transisi matang, bakal kontraproduktif.

Untuk menekan konsumsi gas melon, sejatinya Pemerintah sedang menempuh jalur yang lebih moderat, yakni distribusi gas melon berdasarkan NIK. Ini memang semata solusi administratif, namun jika secara konsisten dilakukan dengan benar, bisa menekan konsumsi gas melon.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Asing Masih Lepas ASII, Pemulihan Otomotif Belum Cukup
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Asing Masih Lepas ASII, Pemulihan Otomotif Belum Cukup

Ketidakpastian hasil review MSCI serta transparansi tata kelola pasar modal menjadi faktor yang ikut mendorong arus net sell asingdari big caps.

Profitabilitas Emiten Cenderung Melandai dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:30 WIB

Profitabilitas Emiten Cenderung Melandai dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo

Investor tampaknya lebih banyak mem-pricing risiko persepsi, ketidakpastian kebijakan pemerintah, dan persoalan kelembagaan.

Negara Kaji Pengecualian Pajak Bagi EGR
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:37 WIB

Negara Kaji Pengecualian Pajak Bagi EGR

Pembahasan mengenai perlakuan PPN dan PPh atas transaksi EGR telah dilakukan bersama Kementerian Keuangan

Mazda Hingga CoreWeave Disebut Antre Masuk Indonesia, Cermati BEST, DMAS, atau KIJA?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:34 WIB

Mazda Hingga CoreWeave Disebut Antre Masuk Indonesia, Cermati BEST, DMAS, atau KIJA?

Peningkatan investasi asing tidak serta-merta bertranslasi ke kenaikan harga saham emiten kawasan industri.

Optimisme Terkikis, Konsumsi Makin Tipis
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:28 WIB

Optimisme Terkikis, Konsumsi Makin Tipis

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menurun selama tiga bulan berturut-turut                            

Ujian Independensi BI di Bawah Nahkoda Baru
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:11 WIB

Ujian Independensi BI di Bawah Nahkoda Baru

Destru Damayanti menjadi calon tunggal Gubernur Bank Indonesia menggantikan Perry Warjiyo           

 Digencet Depresiasi Rupiah Prospek Emiten Farmasi Masih bisa Cerah, KLBF atau SIDO?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:03 WIB

Digencet Depresiasi Rupiah Prospek Emiten Farmasi Masih bisa Cerah, KLBF atau SIDO?

Sektor farmasi memiliki karakter defensif karena kebutuhan terhadap obat dan produk kesehatan bertahan di berbagai kondisi ekonomi.

Bursa Efek Indonesia Mengejar Pendalaman Pasar
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:42 WIB

Bursa Efek Indonesia Mengejar Pendalaman Pasar

Ekspansi pengembangan produk yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap harus mampu menjawab kebutuhan investor

Penjualan Masih Kuat, Laba Bersih ULTJ Semester Pertama Melonjak 73,7%
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:38 WIB

Penjualan Masih Kuat, Laba Bersih ULTJ Semester Pertama Melonjak 73,7%

Penjualan  PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) mencapai Rp 5,49 triliun, naik 34,6% year-on-year (yoy)

Babak Baru Demutualisasi Bursa Efek Indonesia
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:35 WIB

Babak Baru Demutualisasi Bursa Efek Indonesia

OJK tengah melakukan finalisasi aturan demutualisasi, Danantara siap masuk menjadi pemegang saham BEI

INDEKS BERITA

Terpopuler